Menag Dorong Kolaborasi dengan Ormas Katolik, Tekankan Kemandirian Umat di Tengah Tantangan Global

Menteri Agama Nasaruddin Umar mendorong penguatan kolaborasi dengan ormas Katolik untuk menjawab tantangan keagamaan dan kebangsaan, sekaligus menekankan pentingnya kemandirian umat di tengah perubahan global.

Menag Dorong Kolaborasi dengan Ormas Katolik, Tekankan Kemandirian Umat di Tengah Tantangan Global
Sejumlah organisasi Katolik, PMKRI, Pemuda Katolik, Wanita Katolik, ISKA, Vox Point, Patria, dan LP3KN bertemu dengan Menteri Agama, Nasaruddin Umar, Senin (4/5/2026) di Jakarta. (Sumber: Kemenag)

RINGKASAN BERITA:

  • Menag menekankan pentingnya kemandirian umat dan mengurangi ketergantungan pada pemerintah.
  • Isu global seperti pengaruh media dan politik terhadap kebenaran menjadi sorotan dalam pertemuan.
  • Ormas Katolik menyampaikan berbagai tantangan, mulai dari pendidikan calon imam hingga kesejahteraan guru agama.

RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Menteri Agama Nasaruddin Umar menerima kunjungan perwakilan sejumlah organisasi kemasyarakatan (ormas) Katolik di kantor pusat Kementerian Agama, Senin (4/5/2026).

Pertemuan ini membahas pentingnya kerja sama dalam menghadapi tantangan keagamaan dan kebangsaan yang semakin kompleks.

Sejumlah organisasi yang hadir di antaranya PMKRI, Pemuda Katolik, Wanita Katolik, ISKA, Vox Point, Patria, dan LP3KN.

Dalam pertemuan tersebut, Menag menekankan bahwa pembinaan, pendidikan, dan pemberdayaan umat merupakan tanggung jawab bersama.

Menurutnya, kemandirian umat menjadi kunci penting dalam menghadapi berbagai tantangan. Ia mengingatkan bahwa ketergantungan terhadap pemerintah bukanlah solusi jangka panjang dalam penguatan umat.

Menag juga menyoroti perubahan global yang memengaruhi cara masyarakat memandang kebenaran.

“Sekarang kita menghadapi situasi di mana kebenaran tidak lagi ditentukan semata oleh nilai itu sendiri, tetapi juga oleh kekuatan media, ekonomi, dan kepentingan politik,” tuturnya.

Dalam konteks tersebut, ia mengajak seluruh elemen umat beragama untuk memperluas dialog dan memperkuat kerja sama.

Menurutnya, narasi persamaan harus lebih dikedepankan dibanding memperbesar perbedaan.

“Sudah saatnya kita membicarakan tema-tema persamaan, bukan lagi memperbesar perbedaan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Menag menilai potensi umat yang besar belum sepenuhnya dikelola secara optimal.

Dengan pengelolaan yang profesional dan sinergi yang kuat, ia meyakini umat dapat memiliki daya tahan lebih baik menghadapi dinamika global.

Dalam audiensi tersebut, perwakilan ormas Katolik juga menyampaikan berbagai isu yang dihadapi di lapangan, mulai dari penguatan peran perempuan dan perlindungan anak, pengembangan cendekiawan, hingga kaderisasi kepemimpinan dan penguatan peran sosial.

Selain itu, mereka menyoroti kesenjangan pembinaan umat, keterbatasan akses kegiatan keagamaan, hingga melemahnya komunitas basis di sejumlah daerah.

Isu keberlanjutan pendidikan calon imam dan kesejahteraan guru agama Katolik juga menjadi perhatian.

Menanggapi hal itu, Menag menyambut baik berbagai masukan yang disampaikan dan menilai pertemuan tersebut sebagai langkah strategis dalam memperkuat komunikasi antara pemerintah dan ormas keagamaan.

Ia berharap sinergi yang terbangun tidak hanya memperkuat umat, tetapi juga berkontribusi dalam menjaga nilai-nilai kebangsaan di tengah perubahan global.

“Ini bukan hanya soal penguatan umat, tetapi juga bagian dari upaya kita bersama menjaga kebangsaan di tengah dinamika global,” tutupnya. (*)