Revitalisasi Sekolah di Cianjur Ubah Wajah Fasilitas Pendidikan, Toilet hingga Ruang Kelas Jadi Lebih Layak
Program revitalisasi satuan pendidikan di Kabupaten Cianjur membawa perubahan signifikan terhadap fasilitas sekolah, mulai dari toilet hingga ruang belajar, dengan dampak langsung bagi kenyamanan dan kualitas pembelajaran.
RINGKASAN BERITA:
- Sanitasi sekolah menjadi perhatian utama dalam program revitalisasi
- Siswa dan guru merasakan langsung dampak kenyamanan belajar
- Total anggaran revitalisasi di Cianjur mencapai Rp106 miliar
RIAUCERDAS.COM, CIANJUR - Upaya menciptakan lingkungan belajar yang sehat dan aman di Kabupaten Cianjur kini semakin terasa.
Pemerintah melalui Program Revitalisasi Satuan Pendidikan tidak hanya memperbaiki ruang kelas, tetapi juga membenahi fasilitas dasar sekolah, termasuk sanitasi yang selama ini kerap luput dari perhatian.
Perubahan tersebut salah satunya terlihat di SMK Kesehatan Cianjur.
Fasilitas toilet sekolah yang telah direvitalisasi kini memiliki bilik dalam jumlah memadai, pencahayaan dan ventilasi yang baik, serta tata ruang yang lebih tertata rapi.
Penggunaan material yang mudah dibersihkan juga membuat fasilitas ini lebih higienis dan nyaman digunakan oleh warga sekolah.
Kondisi tersebut dinilai memberi rasa aman bagi siswa sekaligus mendorong penerapan perilaku hidup bersih dan sehat di lingkungan sekolah.
Bahkan, fasilitas sanitasi di sekolah ini dinilai dapat menjadi contoh bagi sekolah lain yang akan menjalani revitalisasi serupa.
Sela, salah seorang siswa SMK Kesehatan Cianjur, mengaku merasakan perubahan besar setelah fasilitas sekolah diperbarui.
Ia menyebut kondisi toilet dan musala kini jauh lebih bersih dan nyaman dibanding sebelumnya.
“Sekarang sekolah terasa lebih rapi dan nyaman. Toiletnya bersih, bahkan terlihat seperti di hotel,” ujarnya.
Apresiasi serupa juga disampaikan sejumlah kepala sekolah penerima program revitalisasi yang peresmiannya dilakukan langsung oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, di Cianjur, Jawa Barat, Sabtu (31/1/2026).
Kepala SLB Loka Mandiri, Tiara Linduk Intany, menjelaskan bahwa sebelum revitalisasi, keterbatasan ruang menjadi persoalan serius.
Sejumlah fungsi sekolah harus digabung dalam satu ruangan karena minimnya fasilitas.
Setelah revitalisasi, sekolah tersebut kini memiliki ruang administrasi tersendiri, ruang kelas tambahan, ruang pembelajaran khusus seperti bina wicara dan sensori integrasi, hingga kantin sekolah.
SLB Loka Mandiri tercatat menerima bantuan revitalisasi senilai Rp1,43 miliar.
“Anak-anak terlihat lebih aktif dan nyaman belajar. Orang tua juga merasa lebih tenang,” kata Tiara.
Perubahan signifikan juga terjadi di SMP Negeri 2 Sukaluyu.
Kepala sekolah Erlina Rosinta menyebut kondisi bangunan sekolah sebelumnya mengalami kerusakan berat, mulai dari plafon hingga dinding kelas.
Melalui revitalisasi tahun 2025, sekolah tersebut memperoleh rehabilitasi ruang kelas serta tambahan ruang UKS.
“Sekarang bangunannya jauh lebih layak dan siswa sangat senang,” tuturnya.
Dari sisi peserta didik, manfaat revitalisasi turut dirasakan siswa SMAN 1 Bojongpicung.
Dini Aulia menceritakan bahwa sebelumnya keterbatasan ruang memaksa sekolah menerapkan sistem belajar bergantian pagi dan siang.
Bahkan, perpustakaan dan laboratorium komputer sempat difungsikan sebagai ruang kelas.
Sekolah tersebut menerima bantuan senilai Rp3 miliar untuk pembangunan enam ruang kelas baru, ruang administrasi, serta rehabilitasi tiga ruang kelas.
“Sekarang kegiatan belajar lebih fokus dan fasilitas kembali berfungsi sebagaimana mestinya,” ujar Dini.
Sementara itu, Anggi Nur Amalan, siswa kelas XII SMA PGRI Takokan, mengungkapkan bahwa revitalisasi membawa perubahan besar terhadap kenyamanan belajar.
Sekolahnya menerima bantuan Rp2,6 miliar untuk rehabilitasi total 15 ruang kelas, perpustakaan, dan pembangunan ruang administrasi.
“Dulu atap sering bocor saat hujan. Sekarang sekolah jadi jauh lebih nyaman dan saya lebih semangat belajar,” katanya.
Dalam sambutannya, Mendikdasmen Abdul Mu’ti menegaskan bahwa revitalisasi sekolah dirancang tidak hanya untuk memperbaiki bangunan fisik, tetapi juga memberi dampak jangka panjang bagi ekosistem pendidikan dan masyarakat sekitar.
Pelaksanaan melalui skema swakelola dinilai lebih efisien serta melibatkan tenaga kerja dan material lokal.
“Yang kami bangun bukan hanya sekolahnya, tetapi juga pergerakan ekonomi masyarakat,” ujar Mu’ti.
Di Kabupaten Cianjur, program revitalisasi telah menjangkau 83 satuan pendidikan dari berbagai jenjang, terdiri atas PAUD hingga pendidikan nonformal, dengan total anggaran mencapai Rp106 miliar.
Pemerintah pusat juga memastikan keberlanjutan program ini.
Pada 2026, anggaran Rp14 triliun telah disiapkan untuk merevitalisasi 11.700 satuan pendidikan, dengan rencana perluasan hingga 60 ribu sekolah di seluruh Indonesia.
“Target Presiden, sebelum 2029 tidak boleh ada lagi sekolah yang rusak atau membahayakan,” tegas Mu’ti.
Bupati Cianjur, Mohammad Wahyu Ferdian, menyambut baik program tersebut dan menilai revitalisasi pendidikan sebagai fondasi pembangunan daerah.
Menurutnya, peningkatan kualitas sumber daya manusia harus dimulai dari penyediaan fasilitas pendidikan yang layak dan manusiawi.
Melalui Program Revitalisasi Satuan Pendidikan, pemerintah menegaskan komitmen menghadirkan sekolah sebagai ruang tumbuh yang aman, nyaman, dan bermakna bagi generasi masa depan. (*)