Nilai Siswa di Daerah 3T Naik Drastis, Disebut Akibat Digitalisasi

Transformasi digital di SMPN Wederok, NTT, berhasil meningkatkan rata-rata nilai siswa dari 60 menjadi 75–80, didorong penggunaan papan digital, aplikasi pendidikan, dan internet satelit.

Nilai Siswa di Daerah 3T Naik Drastis, Disebut Akibat Digitalisasi
Siswa belajar dengan memanfaatkan papan digital, aplikasi pendidikan, dan internet Starlink di SMP Waderok, Nusa Tenggara Timur. (Sumber: Kemendikdasmen)

RINGKASAN BERITA: 

  • Digitalisasi pembelajaran di SMPN Wederok meningkatkan nilai siswa dari rata-rata 60 menjadi 75–80.
  • Pemanfaatan papan digital, aplikasi pendidikan, dan internet Starlink membuat pembelajaran lebih interaktif.
  • Keterbatasan perangkat masih menjadi tantangan, sehingga diperlukan penambahan fasilitas di sekolah 3T.

RIAUCERDAS.COM, MALAKA - Penerapan teknologi digital di wilayah 3T mulai menunjukkan hasil konkret.

Di SMPN Wederok, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur, rata-rata nilai siswa melonjak signifikan setelah pembelajaran berbasis digital diterapkan sejak awal 2026.

Guru IPS SMPN Wederok, Theobaldus Banafanu, mengungkapkan peningkatan capaian belajar terjadi setelah sekolah memanfaatkan super aplikasi Rumah Pendidikan, perangkat Interactive Flat Panel (IFP) atau papan interaktif digital, serta dukungan akses internet Starlink.

“Sebelumnya, buku ajar itu terbatas. Jadi kalau pegang buku, murid tak bisa menyimak dengan baik. Sekarang dengan ada PID sejak Januari 2026 lalu, guru tinggal browsing saja untuk perlihatkan wujud yang dibahas seperti apa. Intinya, kami, guru dan murid. dimudahkan segalanya saat di kelas,” katany, Rabu (18/3/2026).

Ia menjelaskan, sebelum digitalisasi diterapkan, nilai rata-rata siswa berada di kisaran 60.

Namun kini, angka tersebut meningkat menjadi 75 hingga 80 karena pemahaman materi yang lebih baik.

Menurutnya, peningkatan ini juga dipengaruhi oleh kesiapan siswa yang meski berasal dari daerah 3T dengan latar belakang keluarga petani, namun sudah cukup akrab dengan penggunaan ponsel pintar.

Pemanfaatan teknologi juga membuat suasana kelas menjadi lebih interaktif.

Guru kini lebih mudah menghadirkan materi visual hingga melakukan ice breaking melalui platform digital seperti YouTube tanpa harus mengunduh materi terlebih dahulu seperti sebelumnya.

“Kami sangat bangga dengan apa yang diberikan pemerintah ke sekolah di wilayah 3T seperti kami. Murid tidak mengantuk lagi di kelas. Kami guru pun lebih antusias karena tak hanya ajarkan teori di atas kertas tapi juga mudah memperlihatkannya di papan digital,” sambungnya.

Selain itu, Theobaldus juga mengaku mendapatkan tambahan keterampilan setelah mengikuti pelatihan Training of Trainer (ToT) terkait penggunaan Canva untuk presentasi, yang diyakini dapat memperkaya metode pembelajaran di kelas.

Meski demikian, keterbatasan fasilitas masih menjadi tantangan.

Saat ini, satu papan interaktif digunakan secara bergantian oleh beberapa kelas sehingga pemanfaatannya belum maksimal.

"Dengan kehadiran satu PID didukung super aplikasi Rumah Pendidikan dan akses internet Starlink maka utilisasi per papan masih jadi terbatas rata-rata satu kelas sekali per minggu. Tentu harapannya agar sarana-prasarana ke sekolah 3T ini terus diperbanyak jumlahnya," harap dia.

Sementara itu, Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) Kemendikdasmen, Yudhistira Nugraha, menyebut praktik di NTT menjadi contoh nyata perubahan pendekatan pendidikan dari sekadar schooling menjadi learning.

“Perubahan mindset ini membuat pembelajaran tidak lagi di ruang kelas tidak lagi terbatas. Pembelajaran dapat berlangsung di mana saja dan kapan saja. Dengan pendekatan learning, proses belajar bisa dilakukan di mana pun dan kapan pun,” jelasnya.

Ia menambahkan, penguatan ekosistem teknologi pendidikan menjadi langkah penting ke depan, mengingat ribuan pengembang teknologi pembelajaran di Indonesia perlu saling terhubung dan berkolaborasi untuk mendukung transformasi pendidikan secara berkelanjutan. (*)