Mahasiswa UB Kembangkan Deteksi Genetik TBC pada Hewan, Berpotensi Amankan Susu dan Daging dari Risiko Zoonosis
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya mengembangkan inovasi GENIUSS-TB, teknologi deteksi tuberkulosis berbasis gen pada hewan yang dinilai lebih cepat dan akurat. Inovasi ini berpotensi memperkuat keamanan pangan asal hewan serta mendukung sistem kesehatan terpadu One Health.
RINGKASAN BERITA:
-
GENIUSS-TB merupakan inovasi deteksi tuberkulosis berbasis gen pada hewan yang dinilai lebih cepat dan akurat dibanding metode kultur konvensional.
-
Teknologi ini bertujuan memperkuat keamanan pangan hewani serta mencegah penularan zoonosis melalui susu, daging, dan telur.
-
Inovasi tersebut mengantarkan mahasiswa Universitas Brawijaya dan UNNES meraih Gold Medal di kompetisi internasional di Malaysia.
RIAUCERDAS.COM, MALANG - Upaya menjaga keamanan pangan asal hewan mendapat dorongan baru dari inovasi mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Brawijaya (UB).
Mereka mengembangkan GENIUSS-TB (Gene-Based Innovation for Tuberculosis Detection), metode deteksi tuberkulosis berbasis gen yang dirancang untuk mengidentifikasi bakteri penyebab penyakit pada hewan secara lebih cepat dan akurat.
Inovasi ini ditujukan untuk memperkuat pengawasan penyakit pada produk pangan hewani seperti susu, daging, dan telur.
Deteksi dini pada hewan ternak dinilai penting karena tuberkulosis tidak hanya menyerang manusia, tetapi juga hewan, terutama sapi, yang dapat menjadi sumber penularan melalui rantai pangan.
Anggota tim, Difa Fitrah Kusumaningrum, menjelaskan bahwa gagasan pengembangan teknologi ini juga berkaitan dengan meningkatnya konsumsi protein hewani dalam program pemerintah Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menurutnya, peningkatan konsumsi produk hewani harus diiringi dengan pengawasan kesehatan ternak yang lebih ketat.
Penyakit tuberkulosis pada hewan umumnya disebabkan oleh bakteri Mycobacterium bovis, yang masih berada dalam kelompok Mycobacterium tuberculosis Complex.
Jika ternak terinfeksi, bakteri tersebut berpotensi terbawa dalam produk pangan, terutama pada susu yang tidak dipasteurisasi atau daging yang tidak melalui pengawasan kesehatan yang memadai.
Kondisi tersebut membuka kemungkinan terjadinya zoonosis, yakni penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia.
Karena itu, deteksi tuberkulosis pada hewan menjadi langkah penting untuk memastikan keamanan pangan yang dikonsumsi masyarakat.
Indonesia sendiri masih termasuk negara dengan jumlah kasus tuberkulosis yang tinggi di dunia.
Melalui inovasi ini, tim mahasiswa berharap dapat berkontribusi dalam menekan potensi penyebaran penyakit sekaligus mendukung penyediaan pangan bergizi yang aman.
Anggota tim lainnya, Keisha Rama Diwangga, menjelaskan bahwa sistem deteksi dalam GENIUSS-TB memanfaatkan pendekatan genetika melalui ku gene dan 16S rRNA gene untuk mengenali bakteri dari genus Mycobacterium serta spesies yang termasuk dalam Mycobacterium tuberculosis complex.
“Melalui gen 16S rRNA, kita dapat mendeteksi genus Mycobacterium, sementara gen lainnya membantu mengidentifikasi spesies dari Mycobacterium tuberculosis complex. Dengan pendekatan ini, alat dapat mendeteksi baik tuberkulosis maupun non-tuberkulosis secara lebih akurat,” jelas Keisha.
Metode ini dinilai berbeda dari teknik kultur konvensional yang membutuhkan waktu relatif lama.
Azizah Husnul Subagyo menyebut pendekatan berbasis gen memungkinkan identifikasi bakteri secara lebih spesifik sehingga berpotensi mempercepat proses deteksi.
Selain meningkatkan keamanan pangan, teknologi tersebut juga dinilai dapat membantu mencegah penyebaran penyakit zoonosis.
Dengan mengetahui infeksi sejak dini pada hewan, risiko penularan ke manusia melalui produk pangan dapat ditekan.
Sementara itu, Bintang Fajar Prayitno mengatakan inovasi GENIUSS-TB juga dirancang untuk mendukung penerapan konsep One Health, yaitu pendekatan terpadu yang menghubungkan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.
“Inovasi ini mengintegrasikan pengendalian penyakit dari tiga aspek utama, yaitu kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kesehatan lingkungan. Dengan begitu, pengawasan terhadap rantai penyebaran penyakit dapat dilakukan secara lebih optimal,” ujarnya.
Saat ini GENIUSS-TB masih berada pada tahap pengembangan konsep penelitian awal.
Tim berencana melanjutkan riset ke tahap validasi laboratorium, termasuk pengujian sensitivitas dan spesifisitas metode deteksi yang dikembangkan.
Dosen pembimbing tim, Dr. drh. Siti Kurniawati, M.Ked.Trop., menilai inovasi tersebut memiliki kebaruan ilmiah karena menggunakan pendekatan molekuler genomik yang masih jarang diteliti secara luas dalam deteksi tuberkulosis pada hewan.
Ia juga mengungkapkan bahwa tim telah melakukan eksplorasi awal terhadap komponen genetik yang digunakan, termasuk pengajuan hak paten untuk primer gen yang dikembangkan.
“Untuk primer gen yang digunakan dalam inovasi ini, kami sudah mengajukan permohonan hak paten dengan nomor P0020241010. Saat ini prosesnya masih berada pada tahap pemeriksaan sehingga sertifikat paten resmi masih menunggu proses lebih lanjut,” jelasnya.
Inovasi tersebut turut mengantarkan tim mahasiswa meraih Gold Medal dalam ajang 2nd International Student Summit Essay Competition yang berlangsung di Malaysia pada 13–16 Februari 2026.
Dalam kompetisi tersebut, tim mempresentasikan karya ilmiah berjudul “GENIUSS-TB: A Gene-Based Innovation for Tuberculosis Detection Strengthening Food Safety and One Health Systems.”
Esai tersebut menyoroti pentingnya deteksi dini tuberkulosis pada hewan guna mencegah potensi penularan penyakit zoonosis kepada manusia melalui produk pangan hewani.
Ajang internasional ini mempertemukan mahasiswa dari berbagai negara yang mempresentasikan gagasan ilmiah inovatif terkait isu kesehatan, lingkungan, dan pembangunan berkelanjutan.
Prestasi tersebut merupakan hasil kolaborasi mahasiswa FKH Universitas Brawijaya dan Program Studi Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Semarang (UNNES).
Tim dibimbing oleh Dr. drh. Siti Kurniawati, M.Ked.Trop. dari FKH UB dan Safrina Oksidriyani, S.Gz., M.P.H. dari Fakultas Kedokteran UNNES.
Adapun anggota tim terdiri atas Difa Fitrah Kusumaningrum, Keisha Rama Diwangga, Bintang Fajar Prayitno, Azizah Husnul Subagyo dari Universitas Brawijaya, serta Zahra Aulia Putri dari Universitas Negeri Semarang. (*)
