Digitalisasi Pembelajaran SMA Tembus 100 Persen, Kelas Makin Interaktif
Program Digitalisasi Pembelajaran di jenjang SMA menunjukkan capaian tinggi dengan distribusi perangkat hampir 100 persen dan dampak nyata pada pembelajaran yang lebih interaktif.
RINGKASAN BERITA:
- Distribusi IFP untuk SMA telah mencapai 100 persen secara nasional.
- Laptop dan media penyimpanan hampir selesai disalurkan dengan progres 99,44 persen.
- Pemanfaatan teknologi membuat pembelajaran lebih interaktif tanpa menggantikan peran guru.
RIAUCERDAS.COM, MAUMERE - Transformasi pendidikan berbasis teknologi terus digenjot pemerintah melalui Program Digitalisasi Pembelajaran.
Kebijakan ini menjadi bagian dari pelaksanaan Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2025 tentang revitalisasi satuan pendidikan dan digitalisasi proses belajar mengajar.
Melalui program ini, berbagai perangkat pendukung disalurkan ke sekolah, mulai dari Papan Interaktif Digital (PID) atau Interactive Flat Panel (IFP), laptop, hingga media penyimpanan konten pembelajaran.
Tujuannya mendorong terciptanya kelas modern yang lebih interaktif dan sesuai perkembangan zaman.
Data Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Menengah di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah per 17 Februari 2026 menunjukkan capaian signifikan di jenjang SMA.
Seluruh alokasi 14.829 unit IFP telah terealisasi atau mencapai 100 persen distribusi ke sekolah.
Sementara itu, penyaluran laptop dan media penyimpanan juga hampir rampung.
Dari total 14.660 unit, sebanyak 14.578 unit telah diterima sekolah atau setara 99,44 persen, dengan sisanya masih dalam proses pengiriman.
Selain perangkat, dukungan layanan internet juga telah aktif sepenuhnya dengan 166 satuan layanan di sekolah.
Untuk aspek kelistrikan, dari 49 usulan pemenuhan listrik, sebanyak 27 sekolah sudah dalam kondisi aktif, sementara 17 lainnya masih dalam tahap intervensi dengan realisasi pembayaran sekitar Rp57 juta.
Implementasi program ini sudah dirasakan langsung oleh sekolah, salah satunya di SMASK Bhaktyarsa Maumere.
Sekolah tersebut memanfaatkan PID untuk memperkaya metode pembelajaran, mulai dari tampilan visual yang lebih menarik hingga interaksi kelas yang lebih aktif.
Penggunaan PID memungkinkan guru menyajikan materi melalui multimedia, simulasi, dan bahan ajar digital terintegrasi.
Metode ini menggantikan pendekatan papan tulis konvensional menjadi pembelajaran berbasis visual yang melibatkan diskusi dan praktik langsung.
Kepala sekolah, Sr. Marcelina Lidi, menyebut kehadiran PID mendorong guru untuk terus berinovasi.
Menurutnya, teknologi tidak hanya memperkaya metode mengajar, tetapi juga meningkatkan profesionalisme guru dalam memanfaatkan perangkat digital.
Guru Pendidikan Kewarganegaraan, Makrina Liliosa Elmi, juga merasakan dampak positif.
Fitur layar sentuh dan kemudahan akses materi digital membuat penyampaian konsep lebih sistematis dan mudah dipahami murid.
Dari sisi peserta didik, pembelajaran berbasis visual dinilai membuat suasana kelas lebih hidup.
Venansius Juliano Gesiraja, salah satu murid, mengaku materi lebih mudah dipahami karena didukung video dan latihan interaktif, termasuk pengerjaan LKPD yang lebih praktis.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, menegaskan bahwa teknologi bukan pengganti guru.
Menurutnya, perangkat seperti PID hanyalah media pendukung, sementara peran utama pendidikan tetap berada di tangan pendidik.
Ia juga mendorong pemanfaatan platform Rumah Pendidikan sebagai sumber belajar digital terintegrasi yang menyediakan video pembelajaran, artikel, laboratorium maya, gim edukasi, hingga latihan soal bagi guru dan murid. (*)