250 Siswa SDN 015 Sungai Sirih Diajak Tinggalkan Gawai Lewat Permainan Tradisional Hari Anak Nasional
Mahasiswa Kukerta Universitas Riau mengajak sekitar 250 siswa SD Negeri 015 Sungai Sirih kembali mengenal permainan tradisional dalam peringatan Hari Anak Nasional. Kegiatan ini menjadi upaya menumbuhkan sportivitas, kerja sama, dan interaksi sosial di tengah meningkatnya penggunaan gawai oleh anak-anak.
RINGKASAN BERITA:
- Sebanyak 250 siswa SD Negeri 015 Sungai Sirih mengikuti perlombaan permainan tradisional dalam peringatan Hari Anak Nasional.
- Mahasiswa Kukerta Universitas Riau mengajak anak-anak mengurangi ketergantungan pada gawai melalui permainan budaya seperti egrang batok, bakiak, dan gobak sodor.
- Kegiatan menanamkan nilai sportivitas, kerja sama, komunikasi, dan kecintaan terhadap budaya Indonesia sejak usia dini.
RIAUCERDAS.COM, KUANTAN SINGINGI - Sekitar 250 siswa SD Negeri 015 Sungai Sirih diajak kembali menikmati permainan tradisional sebagai alternatif aktivitas di tengah maraknya penggunaan gawai.
Kegiatan yang digagas mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (Kukerta) Universitas Riau (Unri) itu digelar dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional di SD Negeri 015 Sungai Sirih, Sabtu (25/7/2026).
Melalui perlombaan permainan tradisional, mahasiswa Kukerta menghadirkan ruang bagi anak-anak untuk bermain, belajar, sekaligus memperkuat interaksi sosial melalui aktivitas yang mengedepankan kerja sama, sportivitas, dan kebersamaan.
Perlombaan dibagi berdasarkan jenjang kelas.
Siswa kelas I dan II mengikuti lomba egrang batok, kelas III dan IV berkompetisi pada lomba bakiak, sedangkan siswa kelas V dan VI mengikuti lomba gobak sodor.
Sejak awal kegiatan, suasana berlangsung semarak.
Para peserta tampak antusias mengikuti setiap pertandingan, sementara sorakan teman-teman dan dukungan para guru menambah semangat selama perlombaan berlangsung.
Kepala SD Negeri 015 Sungai Sirih, Siti Nurhaeni, S.Pd.I., mengatakan Hari Anak Nasional merupakan momen bagi seluruh anak untuk bergembira melalui kegiatan yang positif.
"Hari ini adalah perayaan Hari Anak Nasional, hari kalian semua. Jadi hari ini kita harus bergembira, bermain dengan semangat, dan tetap menjaga sportivitas selama perlombaan berlangsung," kata dia.
Meski berlangsung kompetitif, seluruh peserta tetap menunjukkan sikap saling menghargai dan menjunjung tinggi nilai sportivitas.
Mahasiswa Kukerta Unri tidak hanya bertindak sebagai penyelenggara, tetapi juga menjadi wasit pada setiap perlombaan guna memastikan seluruh pertandingan berjalan tertib dan adil.
Selain menghadirkan hiburan, kegiatan tersebut dimanfaatkan untuk mengenalkan kembali nilai-nilai yang terkandung dalam permainan tradisional, seperti kerja sama tim, komunikasi, ketangkasan, dan kebersamaan.
Ketua pelaksana kegiatan, Dion Martin Turnip dalam rilis, Kamis (30/7/2026) mengatakan permainan tradisional dipilih sebagai media edukasi sekaligus upaya mengurangi ketergantungan anak terhadap penggunaan gawai.
"Saat ini banyak anak lebih sering menghabiskan waktu dengan gawai dibandingkan bermain bersama teman-temannya di luar rumah. Melalui kegiatan ini kami ingin memperkenalkan kembali permainan tradisional yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga melatih kerja sama, kepercayaan diri, serta kemampuan bersosialisasi," ujarnya.
Setelah seluruh pertandingan selesai, panitia menyerahkan hadiah kepada para juara dari masing-masing kategori.
Penyerahan hadiah disambut tepuk tangan meriah dari seluruh peserta sebagai bentuk apresiasi atas semangat yang ditunjukkan selama perlombaan.
Pihak sekolah memberikan apresiasi kepada mahasiswa Kukerta Unri atas terselenggaranya kegiatan edukatif tersebut.
Menurut pihak sekolah, kegiatan ini tidak hanya memberikan pengalaman yang menyenangkan bagi siswa, tetapi juga menjadi sarana menanamkan nilai sportivitas, kebersamaan, serta kecintaan terhadap budaya bangsa sejak usia dini.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa Kukerta Unri berharap permainan tradisional dapat terus dikenal dan dilestarikan oleh anak-anak sebagai bagian dari warisan budaya Indonesia.
Selain menjadi bagian dari peringatan Hari Anak Nasional, aktivitas itu diharapkan mampu menjadi alternatif yang mendorong interaksi sosial, kerja sama, serta perkembangan fisik dan karakter anak di tengah pesatnya penggunaan gawai. (rls)