Pakar: Aktivisme Politik Gen Z Dipicu Krisis Sosial dan Akses Informasi Digital
Dosen Fakultas Psikologi UGM, Dr. Wenty Marina Minza, menilai meningkatnya aksi protes generasi muda merupakan respons atas krisis sosial, ekonomi, dan politik. Media sosial memperkuat aktivisme, namun tetap memiliki risiko bagi kesehatan mental.
RINGKASAN BERITA:
-
Aktivisme Gen Z dinilai wajar di tengah krisis sosial dan ekonomi.
-
Media sosial menjadi ruang utama protes kolektif generasi muda.
-
Aktivisme politik berpotensi berdampak pada kesehatan mental.
RIAUCERDAS.COM - Meningkatnya aksi protes dan kritik tajam generasi Z terhadap isu sosial, ekonomi, hingga kebijakan publik dinilai sebagai fenomena wajar dalam dinamika masyarakat.
Dosen Fakultas Psikologi UGM, Dr. Wenty Marina Minza, M.A., menyebut sikap kritis anak muda kerap muncul di tengah situasi krisis dan ketidakpuasan terhadap sistem yang ada.
Fenomena ini terlihat dari partisipasi generasi muda dalam berbagai aksi protes, termasuk kritik terhadap sejumlah kebijakan publik seperti Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dipersoalkan dari sisi anggaran pendidikan.
Menurut Wenty, fase usia produktif ditandai perkembangan kognitif, moral, dan sosial yang pesat sehingga generasi muda menjadi lebih sensitif terhadap isu keadilan, etika, dan otoritas.
“Kondisi ini membuat mereka menjadi lebih sensitif terhadap isu di sekitar, sekaligus mulai mempertanyakan otoritas, keadilan, dan etika,” jelasnya dikutip dari laman UGM, Kamis (26/2/2026).
Ia menjelaskan, fenomena protes juga berkaitan dengan relasi kuasa. Status quo kerap memberi kenyamanan bagi generasi lebih tua, namun belum tentu bagi generasi muda.
Penolakan terhadap nilai dan tata cara lama menjadi bagian dari proses reproduksi kultural.
“Karenanya, berbagai protes merupakan bagian dari upaya generasi muda untuk menolak sistem yang dibangun generasi tua,” terangnya.
Wenty menilai kondisi “krisis” sosial, ekonomi, kultural, dan politik yang memengaruhi kehidupan anak muda turut mendorong meningkatnya aktivisme.
Isu kesempatan kerja, akses pendidikan, serta tekanan menjalani transisi normatif seperti pekerjaan dan pernikahan menjadi persoalan nyata.
Selain itu, kemudahan akses informasi melalui media sosial membuat generasi muda semakin sadar terhadap berbagai isu.
Media sosial juga menjadi ruang aktivisme politik yang dinilai lebih aman secara fisik dibandingkan aksi demonstrasi langsung.
“Selain lebih aman secara fisik dibandingkan aksi protes seperti demonstrasi, media sosial juga memberi lebih banyak kemudahan bagi generasi muda untuk menyampaikan pendapatnya,” ujarnya.
Meski demikian, aktivisme politik juga memiliki risiko, terutama bagi kesehatan mental.
Tekanan dari berbagai pihak dapat memicu perasaan distrust, sedih, tidak berdaya, hingga marah.
Kekecewaan politik bahkan dapat membuat seseorang menghindari isu politik atau justru semakin aktif menolak sumber kekecewaan tersebut.
Menurut Wenty, dampak positif atau negatif aktivisme politik sangat bergantung pada kemampuan adaptasi generasi muda dalam mengelola proses dan konsekuensinya. (*)