AI Makin Canggih, Wamen Pendidikan Tegaskan Guru Tak Tergantikan di Ruang Kelas

Wamendikdasmen Fajar Riza Ul Haq menegaskan kecerdasan artifisial tidak akan menggantikan guru, melainkan menjadi alat bantu pembelajaran. Guru tetap memegang peran kunci sebagai penjaga nilai, pembentuk karakter, dan penentu arah pemanfaatan teknologi pendidikan.

AI Makin Canggih, Wamen Pendidikan Tegaskan Guru Tak Tergantikan di Ruang Kelas
Pra peserta Yudisium Pendidikan Profesi Guru (PPG) di Surakarta, Sabtu (31/1/2026). (Sumber: Kemendikdasmen)

RINGKASAN BERITA: 

  • Kecerdasan artifisial berfungsi sebagai asisten guru, bukan pengganti peran pendidik.

  • Literasi digital dan kapasitas pedagogik guru menjadi kunci pemanfaatan KA yang etis dan bermartabat.

  • Pemerintah telah mengintegrasikan pembelajaran Koding dan KA serta melatih puluhan ribu guru hingga 2025/2026.

RIAUCERDAS.COM, SURAKARTA - Pesatnya pemanfaatan kecerdasan artifisial (KA) di berbagai sektor global memicu kekhawatiran tentang tergesernya peran manusia, termasuk guru.

Namun di tengah arus otomatisasi dan algoritma, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq menegaskan bahwa profesi guru justru semakin strategis sebagai penjaga nilai, pembentuk karakter, dan penentu arah pemanfaatan teknologi dalam pendidikan.

Pernyataan tersebut disampaikan Fajar saat menghadiri Yudisium Pendidikan Profesi Guru (PPG) di Surakarta, Sabtu (31/1/2026).

Ia menekankan bahwa kecerdasan artifisial tidak boleh dipandang sebagai ancaman, melainkan peluang untuk memperkuat kualitas pembelajaran dan kompetensi sumber daya manusia Indonesia di masa depan.

Sebagai refleksi, Fajar memaparkan bahwa lebih dari 78 persen organisasi global telah memanfaatkan KA, sementara otomatisasi diproyeksikan memangkas hingga 57 persen jam kerja dunia.

Perubahan ini berdampak langsung pada dunia pendidikan dan menuntut kesiapan guru dalam membekali peserta didik dengan kompetensi masa depan.

Menurutnya, KA tidak akan menggantikan guru, melainkan berfungsi sebagai asisten pembelajaran.

Ia mencontohkan pemanfaatan Papan Interaktif Digital (PID) yang mampu menghadirkan pengalaman belajar lebih bermakna dan menyenangkan bagi murid.

“Kecerdasan artifisial bisa membantu personalisasi belajar, analitik pembelajaran, dan efisiensi kerja guru. Namun nilai keteladanan, empati, kebijaksanaan, dan pembentukan karakter tetap menjadi peran utama guru yang tidak tergantikan,” ujar Fajar.

Ia menegaskan bahwa pendidikan bukan sekadar proses transfer pengetahuan, melainkan proses pemanusiaan manusia. Karena itu, arah dan makna pemanfaatan teknologi sepenuhnya ditentukan oleh guru.

Fajar juga menyoroti tantangan etis penggunaan KA dalam pendidikan, mulai dari risiko ketergantungan berlebihan pada teknologi hingga menurunnya daya kritis peserta didik.

Untuk itu, peningkatan literasi digital dan kapasitas pedagogik guru menjadi kunci agar pemanfaatan KA tetap bijak dan bermartabat.

Orientasi pembelajaran saat ini, lanjut Fajar, perlu bergeser dari sekadar apa yang diajarkan menjadi mengapa dan bagaimana suatu pengetahuan diajarkan.

Guru diharapkan melatih murid untuk mengajukan pertanyaan kritis, bukan sekadar menjawab soal. Pendekatan ini sejalan dengan filosofi Tes Kemampuan Akademik (TKA).

Dalam menghadapi tantangan ke depan, Kemendikdasmen telah menerapkan pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial sebagai mata pelajaran pilihan, terintegrasi dalam pelajaran lain, serta melalui kegiatan ekstrakurikuler.

Hingga Tahun Ajaran 2025/2026, puluhan ribu guru telah mengikuti pelatihan untuk memperkuat literasi digital dan kemampuan berpikir komputasional.

Pada kesempatan tersebut, Fajar juga mengingatkan pentingnya profesionalisme guru, termasuk kesiapan mengabdi di daerah pelosok.

“Anak-anak di Flores, di Talaud, dan daerah lain berhak mendapatkan guru dan pendidikan terbaik,” tegasnya.

Sementara itu, Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Harun Joko Prayitno menegaskan komitmen UMS sebagai Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) untuk menyiapkan guru masa depan yang adaptif terhadap teknologi, beretika dalam pemanfaatan KA, dan menjunjung nilai kemanusiaan serta kebangsaan.

Perwakilan wisudawan, Ahmad Lutfi, menyebut profesi guru sebagai pertemuan antara harapan dan masa depan.

Menurutnya, PPG bukan sekadar pendidikan profesi, tetapi juga proses pendewasaan diri untuk membentuk kesabaran, kerendahan hati, dan tanggung jawab sebagai pendidik. (*)