BRIN Kembangkan Biobriket dari Limbah Jahe, Berpotensi Jadi Energi Terbarukan
Peneliti BRIN berhasil mengembangkan teknologi pemanfaatan limbah padat hasil penyulingan jahe menjadi biobriket berkualitas. Inovasi ini diharapkan mendukung energi terbarukan, mengurangi limbah agroindustri, serta memperkuat penerapan ekonomi sirkular di Indonesia.
RINGKASAN BERITA:
- BRIN berhasil mengembangkan biobriket dari limbah penyulingan jahe sebagai sumber energi alternatif ramah lingkungan.
- Limbah jahe dengan kandungan lignin 45,98 persen dinilai berpotensi tinggi menjadi bahan bakar padat berkualitas.
- Teknologi ini berpeluang diterapkan di industri minyak atsiri, sektor herbal, dan UMKM untuk mendukung ekonomi sirkular serta mengurangi emisi karbon.
RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Limbah padat hasil penyulingan jahe yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal kini berpeluang menjadi sumber energi alternatif.
Peneliti Pusat Riset Kimia Molekuler Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil mengembangkan teknologi pengolahan limbah biomassa rimpang jahe menjadi biobriket sebagai bahan bakar padat ramah lingkungan.
Profesor Riset BRIN, Prof. Anny Sulaswatty, menjelaskan meningkatnya produksi minyak atsiri turut menghasilkan limbah biomassa dalam jumlah besar yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku energi alternatif.
"Peningkatan produksi minyak atsiri seperti akar wangi, sereh wangi, kulit kayu manis, cengkeh, jahe, juga minyak atsiri dari kayu-kayuan (cendana, gaharu, masoia), menghasilkan limbah padat yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku biobriket untuk mendukung energi alternatif berbasis biomassa," ungkapnya dikutip dari laman BRIN, Sabtu (11/7/2026).
Menurut Anny, tidak semua limbah biomassa dapat dijadikan biobriket. Salah satu syarat utama ialah memiliki kandungan karbon minimal 40 persen.
"Banyak limbah biomassa dapat dimanfaatkan menjadi biobriket, tapi poin utamanya adalah bahan tersebut harus memiliki nilai karbon minimal 40%," terangnya.
Ia menjelaskan limbah rimpang jahe memiliki kandungan lignin yang tinggi, yakni mencapai 45,98 persen.
Kandungan tersebut membuat limbah penyulingan jahe berpotensi dikonversi menjadi bahan bakar padat melalui proses karbonisasi atau pirolisis.
"Limbah padat rimpang jahe memiliki kandungan lignin yang tinggi yaitu 45,98%, sehingga berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku biobriket. Melalui proses pirolisis, limbah ini dapat ditingkatkan kualitasnya," kata Anny.
Penelitian yang dilakukan tim BRIN berfokus pada pengembangan biobriket berbasis biochar limbah penyulingan jahe dengan mengevaluasi berbagai jenis perekat.
Pemilihan perekat menjadi faktor penting karena memengaruhi sifat fisik, mekanik, dan termal biobriket, seperti kadar air, kadar abu, karbon tetap, densitas, kuat tekan, laju pembakaran, hingga nilai kalor.
"Melalui optimasi jenis perekat, penelitian ini bertujuan menghasilkan biobriket yang memenuhi standar mutu bahan bakar padat. Memiliki performa pembakaran yang stabil, serta berpotensi dikembangkan sebagai sumber energi alternatif yang ramah lingkungan dan bernilai tambah," ungkapnya.
Dalam proses penelitian, limbah penyulingan jahe terlebih dahulu dikeringkan, kemudian dikarbonisasi untuk menghasilkan biochar.
Setelah itu, biochar dicampur dengan berbagai jenis perekat, dicetak menjadi biobriket, dan diuji menggunakan sejumlah parameter laboratorium.
Parameter yang dianalisis meliputi kadar air, kadar abu, kadar zat terbang, karbon tetap, densitas, kuat tekan, laju pembakaran, dan nilai kalor.
"Selain itu, karakterisasi fisikokimia dilakukan menggunakan berbagai teknik analisis laboratorium untuk mengevaluasi perubahan struktur dan sifat material selama proses pembuatan biobriket," terangnya.
Hasil penelitian menunjukkan proses karbonisasi mampu meningkatkan kandungan karbon serta menghasilkan struktur biochar yang lebih berpori.
Selain itu, penggunaan perekat yang tepat menghasilkan biobriket dengan kekuatan mekanik dan densitas yang lebih baik.
Menurut Anny, inovasi tersebut tidak hanya meningkatkan nilai tambah limbah agroindustri, tetapi juga menjadi solusi pengelolaan limbah penyulingan jahe yang sebelumnya berpotensi mencemari lingkungan.
Selain meningkatkan nilai tambah limbah agroindustri, penelitian ini juga memberikan solusi meningkatkan akumulasi limbah penyulingan jahe dari industri minyak atsiri dan herbal.
Limbah yang sebelumnya berpotensi mencemari lingkungan dapat dikonversi menjadi bahan bakar padat terbarukan dengan nilai ekonomi lebih tinggi.
"Sehingga mendukung konsep ekonomi sirkular dan pemanfaatan biomassa secara berkelanjutan," bebernya.
Ke depan, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar pengembangan teknologi pemanfaatan limbah biomassa di tingkat industri maupun masyarakat, terutama di sentra produksi minyak atsiri, industri herbal, dan UMKM yang menghasilkan limbah rimpang jahe dalam jumlah besar.
Anny menilai pengembangan biobriket berbasis limbah pertanian menjadi salah satu alternatif menjanjikan di tengah meningkatnya kebutuhan energi terbarukan.
Selain mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, teknologi tersebut juga mendukung pengurangan emisi karbon dan meningkatkan nilai ekonomi sektor pertanian.
Di akhir pemaparannya, ia berharap limbah biomassa tidak lagi dipandang sebagai sisa produksi yang harus dibuang, melainkan sebagai sumber daya terbarukan yang memiliki nilai ekonomi.
"Pendekatan tersebut diharapkan mampu mendorong pemanfaatan limbah secara optimal, memperkuat implementasi ekonomi sirkular, meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya, serta mendukung transisi menuju sistem energi yang lebih berkelanjutan di Indonesia," tutupnya. (*)