BRIN Ajak Masyarakat Kuasai Teknik Budidaya Anggrek yang Tepat

BRIN mengajak masyarakat memahami teknik budidaya anggrek sesuai karakter setiap spesies melalui talkshow di Expo ORHL BRIN. Selain berbagi tips perawatan, BRIN juga menyoroti kekayaan sekitar 5.000 spesies anggrek Indonesia yang perlu dijaga melalui penelitian dan konservasi.

BRIN Ajak Masyarakat Kuasai Teknik Budidaya Anggrek yang Tepat
Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Richa Kusuma Wati. (Sumber: BRIN)

RINGKASAN BERITA:

  • BRIN menyebut Indonesia memiliki sekitar 5.000 spesies anggrek alami yang menjadi kekayaan biodiversitas nasional.
  • Setiap jenis anggrek membutuhkan teknik perawatan berbeda, mulai dari kebutuhan cahaya, media tanam, hingga pola penyiraman.
  • Peneliti BRIN mengungkap penemuan spesies anggrek tanpa daun asal Aceh serta mengajak masyarakat berperan dalam konservasi anggrek endemik Indonesia.

RIAUCERDAS.COM, CIBINONG - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengajak masyarakat meningkatkan kepedulian terhadap pelestarian anggrek Indonesia melalui pemahaman teknik budidaya yang sesuai dengan karakter setiap spesies.

Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Richa Kusuma Wati, mengatakan Indonesia merupakan salah satu negara dengan kekayaan anggrek terbesar di dunia, dengan sekitar 5.000 spesies anggrek alami yang tersebar di berbagai wilayah.

Menurutnya, kekayaan tersebut harus dijaga melalui penelitian, konservasi, serta peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai teknik budidaya yang benar.

"Setiap jenis anggrek memiliki karakteristik tersendiri. Ada yang menyukai sinar matahari penuh, ada yang membutuhkan naungan, ada yang hidup sebagai epifit di pohon inang, bahkan ada yang tumbuh di tanah. Karena itu, cara perawatannya tidak bisa disamakan," terang Richa dikutip dari laman BRIN, Selasa (14/7/2026).

Dalam pemaparannya, Richa memperkenalkan sejumlah jenis anggrek yang banyak dibudidayakan, di antaranya Dendrobium, Phalaenopsis, Vanda, dan Paphiopedilum.

Masing-masing memiliki kebutuhan cahaya, media tanam, serta kelembapan yang berbeda sehingga memerlukan perlakuan khusus.

Ia menjelaskan Vanda membutuhkan sinar matahari langsung dan umumnya ditanam menggantung tanpa media tanam padat.

Dendrobium lebih cocok menggunakan media berpori seperti arang, pecahan genting, atau kulit pinus agar akar memperoleh sirkulasi udara yang baik.

Sementara itu, Phalaenopsis atau anggrek bulan lebih sesuai ditempatkan di lokasi teduh dengan cahaya tidak langsung, sedangkan Paphiopedilum memerlukan media tanah atau lumut yang lembap serta penyiraman yang lebih hati-hati untuk mencegah pembusukan akar.

Selain media tanam, penyiraman juga menjadi faktor penting dalam keberhasilan budidaya anggrek.

Richa menyarankan penyiraman dilakukan pada pagi hari agar tanaman dapat menyerap air secara optimal.

"Yang terpenting bukan hanya seberapa sering disiram, tetapi menyesuaikan kebutuhan masing-masing jenis anggrek dan kondisi lingkungannya," kata dia.

Ia juga membagikan cara merangsang tanaman agar kembali berbunga setelah masa pembungaan berakhir, yakni dengan memangkas tangkai bunga yang telah layu dan memberikan pupuk daun sebelum memasuki fase pemupukan bunga.

"Tanaman perlu membangun pertumbuhan vegetatifnya terlebih dahulu. Jangan hanya diberi pupuk bunga terus-menerus karena hasil pembungaannya justru tidak akan optimal," ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Richa mengungkapkan peneliti BRIN baru-baru ini menemukan spesies anggrek tanpa daun, Chiloschista tjiasmantoi, yang berasal dari Aceh.

Selain itu, BRIN juga mencatat sepuluh rekaman baru anggrek yang tersebar di Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Nusa Tenggara.

Ia menambahkan, keberhasilan membudidayakan anggrek, terutama spesies dataran tinggi di dataran rendah, sangat dipengaruhi kondisi mikroklimat seperti suhu, kelembapan, intensitas cahaya, sirkulasi udara, dan ketinggian lokasi.

Pengendalian hama dan penyakit juga perlu dilakukan melalui perawatan rutin, sanitasi media tanam, serta penggunaan pestisida secara bijaksana.

Menutup paparannya, Richa berharap semakin banyak inovasi dan keterlibatan masyarakat dalam menjaga kelestarian anggrek Indonesia, khususnya spesies langka dan endemik yang menghadapi ancaman kehilangan habitat.

"Saya berharap semakin banyak teknologi yang dapat dimanfaatkan untuk menyelamatkan anggrek-anggrek asli Indonesia, khususnya spesies yang langka dan endemik. Semoga semakin banyak peneliti muda maupun masyarakat yang ikut berkontribusi dalam menjaga kekayaan hayati Indonesia agar tetap lestari," tutupnya. (*)