Mahasiswa Kukerta Unri Petakan Makam Sultan Mahmud Syah ke Google Maps

Mahasiswa Kukerta DPPM Universitas Riau 2026 memetakan Makam Sultan Mahmud Syah Khalifatullah Ahiruzaman dan Pemandian Raja di Desa Kuapan, Kampar, ke Google Maps. Langkah ini dilakukan untuk mempermudah akses informasi sekaligus mendukung pelestarian situs sejarah dan pengembangan wisata berbasis digital.

Mahasiswa Kukerta Unri Petakan Makam Sultan Mahmud Syah ke Google Maps
Tim Kuliah Kerja Nyata (KUKERTA) Universitas Riau berziarah ke Makam Sultan Mahmud Syah Khalifatullah Ahiruzaman di Desa Kuapan, Kabupaten Kampar. ( Sumber: Tim KUKERTA DPPM Unri 2026 Desa Kuapan)

RINGKASAN BERITA:

  • Mahasiswa Kukerta Universitas Riau memetakan Makam Sultan Mahmud Syah dan Pemandian Raja Desa Kuapan ke Google Maps.
  • Digitalisasi dilakukan untuk memudahkan masyarakat menemukan situs sejarah sekaligus mendukung promosi wisata budaya.
  • Makam Sultan Mahmud Syah diyakini memiliki keterkaitan dengan sejarah Kesultanan Melaka dan Kerajaan Kampa di Kampar.

RIAUCERDAS.COM, KAMPAR - Dua situs bersejarah di Desa Kuapan, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, kini mulai dikenalkan melalui platform digital.

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (Kukerta) Direktorat Pengabdian Pada Masyarakat (DPPM) Universitas Riau (Unri) 2026 memetakan lokasi Makam Sultan Mahmud Syah Khalifatullah Ahiruzaman dan Pemandian Raja ke Google Maps sebagai upaya memperluas akses informasi bagi masyarakat.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari program kerja mahasiswa Kukerta yang berfokus pada pelestarian sejarah lokal sekaligus pengembangan potensi wisata budaya di Desa Kuapan.

Selama ini, kedua situs tersebut dinilai belum banyak dikenal masyarakat karena belum memiliki titik lokasi yang mudah diakses melalui peta digital.

Dalam kunjungan tersebut, mahasiswa menelusuri Makam Sultan Mahmud Syah yang diyakini masyarakat sebagai tempat peristirahatan terakhir Sultan Kesultanan Melaka setelah hijrah ke wilayah Kampar menyusul jatuhnya Melaka ke tangan Portugis pada 1511.

Menurut cerita yang berkembang, Sultan Mahmud Syah kemudian diangkat menjadi Raja Kampa dengan gelar Khalifatullah Ahiruzaman sebelum wafat dan dimakamkan di kawasan itu.

Salah seorang mahasiswa Kukerta, Fazly, mengatakan kunjungan tersebut membuka wawasan mengenai sejarah yang selama ini belum banyak diketahui masyarakat.

"Kami cukup terkejut ternyata di Desa Kuapan ini ada situs sejarah sekelas makam sultan yang punya keterkaitan dengan Kesultanan Melaka. Sayangnya, banyak masyarakat luar desa yang belum tahu keberadaannya karena memang belum ada titik lokasi resminya di peta digital," ujarnya.

Selain makam, rombongan juga mendatangi Pemandian Raja yang berada di kawasan Puncak Pulau Kota.

Berdasarkan cerita masyarakat setempat, lokasi tersebut dahulu digunakan keluarga Kerajaan Kampa sebagai tempat mandi dan bersantai karena berada di tepi sungai dengan panorama alam yang masih asri.

Mahasiswa kemudian melakukan pengambilan titik koordinat menggunakan fitur GPS pada telepon pintar.

Selanjutnya, kedua situs didaftarkan sebagai lokasi baru di Google Maps dengan melengkapi nama tempat, kategori situs sejarah, serta dokumentasi foto agar informasi yang tersedia lebih mudah dipahami pengunjung.

Salah seorang mahasiswa yang terlibat dalam proses pemetaan, Syauqi, menjelaskan langkah tersebut bertujuan memudahkan masyarakat menemukan lokasi situs bersejarah tersebut.

"Kami mengambil titik koordinat langsung di lokasi, lalu menambahkannya sebagai tempat baru di Google Maps lengkap dengan nama, kategori, dan foto. Harapannya, ke depan siapa pun yang mencari nama makam atau pemandian raja ini di internet bisa langsung menemukan lokasinya tanpa harus bertanya-tanya ke warga," ujarnya.

Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Kukerta DPPM Unri 2026, Rahmat Junaidi, S.E., M.M., menilai pendataan lokasi di peta digital menjadi langkah awal dalam mengembangkan potensi wisata sejarah Desa Kuapan.

"Situs sejarah seperti makam dan pemandian raja ini adalah aset berharga bagi desa. Dengan dipetakan di Google Maps, informasi keberadaannya menjadi lebih terbuka untuk masyarakat luas, sekaligus menjadi bagian dari upaya pelestarian dan pengenalan sejarah lokal kepada generasi muda," terang Rahmat.

Melalui program tersebut, mahasiswa berharap keberadaan situs sejarah di Desa Kuapan semakin dikenal luas sehingga mampu mendorong perhatian pemerintah daerah maupun masyarakat untuk menjaga dan mengembangkan warisan sejarah sebagai destinasi wisata berbasis digital. (rls)

NB: Artikel ini merupakan kiriman dari mahasiswa Kukerta Universitas Riau ke redaksi.