Mahasiswa Fasilkom UI Raih Global Ambassador Samsung SFT 2026 lewat Inovasi AI untuk Tunanetra
Empat mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer UI meraih predikat Global Ambassador Samsung Solve for Tomorrow 2026 lewat inovasi RunSight, perangkat wearable berbasis AI yang membantu penyandang disabilitas visual berlari secara mandiri dan aman.
RINGKASAN BERITA:
-
Mahasiswa Fasilkom UI raih Global Ambassador Samsung SFT 2026.
-
RunSight bantu tunanetra berlari aman dengan teknologi AI real time.
-
Indonesia pertama kali meraih predikat Global Ambassador di ajang ini.
RIAUCERDAS.COM, DEPOK - Empat mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom) Universitas Indonesia (UI) mengharumkan nama Indonesia dengan meraih predikat Global Ambassador dalam ajang Samsung Solve for Tomorrow (SFT) 2026.
Mereka mengembangkan RunSight, perangkat wearable berbasis kecerdasan buatan (AI) yang membantu penyandang disabilitas visual berlari secara mandiri dan aman.
Tim Labmino yang terdiri atas Muhammad Fazil Tirtana, Kaindra Rizq Sachio, Anthony Edbert Feriyanto, dan Ariq Maulana Malik Ibrahim membawa inovasi tersebut hingga ke panggung global setelah melalui proses seleksi panjang sejak Mei 2025.
RunSight lahir dari pengalaman seorang teman yang gemar berolahraga namun mengalami katarak dan kesulitan melihat garis di trek lari.
Setelah melakukan validasi, tim menemukan permasalahan serupa juga dialami banyak penyandang gangguan penglihatan lainnya.
Perangkat ini memanfaatkan sensor dan sistem pemrosesan AI untuk membaca kondisi lingkungan sekitar secara real time.
RunSight memberikan panduan kepada pengguna untuk mengenali jalur serta menghindari rintangan saat berlari.
“Kami ingin memastikan perangkat ini tidak hanya canggih, tetapi juga ringan dan hemat daya. Tujuan utamanya adalah membuka akses olahraga yang lebih inklusif bagi teman-teman disabilitas visual,” ujar Anthony dikutip dari situs UI, Selasa (24/2/2026).
Perjalanan Tim Labmino dimulai dari tahap penyisihan nasional dengan pengumpulan concept paper, kemudian lolos ke semifinal dan final nasional.
Mereka melanjutkan ke tahap South East Asia and Oceania Selection dan Global Selection pada akhir 2025.
Tim ini juga tampil dalam kegiatan seremonial Global Ambassador di Milan, Italia, pada 8–10 Februari 2026 lalu.
Menurut Anthony, proses tersebut menjadi ruang pembelajaran penting dalam menghubungkan empati dengan teknologi. Tantangan terbesar, katanya, bukan sekadar menciptakan alat yang berfungsi, tetapi memastikan solusi relevan dan dapat diterapkan.
Prestasi ini menjadi sejarah baru karena Indonesia untuk pertama kalinya meraih predikat Global Ambassador dan menjadi satu dari dua negara di kawasan South East Asia and Oceania (SEAO) yang berhasil mencapainya.
Rektor UI, Prof. Dr. Ir. Heri Hermansyah, S.T., M.Eng., IPU., mengapresiasi capaian tersebut. Ia menilai prestasi ini menunjukkan mahasiswa UI tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu menghadirkan inovasi berbasis empati dan kepedulian sosial.
“Prestasi ini menunjukkan bahwa mahasiswa UI tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu menghadirkan inovasi yang berangkat dari empati dan kepedulian sosial,” ujarnya.
Ke depan, UI akan terus mendorong ekosistem inovasi yang kolaboratif dan inklusif agar semakin banyak karya mahasiswa berkontribusi di tingkat internasional. (*)