Temuan Roti Program MBG Berjamur, Guru Besar UGM Ingatkan Risiko Kesehatan bagi Anak

Temuan roti berjamur dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah sekolah memicu perhatian akademisi. Guru Besar UGM Prof Zullies Ikawati mengingatkan bahwa makanan berjamur berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan dan meminta pengawasan mutu pangan dalam program MBG diperketat.

Temuan Roti Program MBG Berjamur, Guru Besar UGM Ingatkan Risiko Kesehatan bagi Anak
Ilustrasi (Sumber: Freepik)

RINGKASAN BERITA:

  • Roti berjamur ditemukan dalam distribusi program Makan Bergizi Gratis di beberapa daerah, termasuk Blora dan sejumlah sekolah di Sumatera Selatan.
  • Guru Besar UGM menyebut roti berjamur bisa mengandung mikotoksin yang berbahaya bagi kesehatan, terutama anak-anak.
  • Pengawasan kualitas pangan, sistem distribusi, dan penyimpanan makanan dalam program MBG diminta diperketat agar kasus serupa tidak terulang.

RIAUCERDAS.COMTemuan roti berjamur dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah sekolah memicu perhatian serius dari kalangan akademisi.

Seorang guru besar dari Universitas Gadjah Mada (UGM) mengingatkan bahwa makanan berjamur tidak layak dikonsumsi karena berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan, terutama bagi anak-anak.

Kasus tersebut ditemukan pada menu MBG kering yang didistribusikan selama bulan puasa.

Di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, ratusan roti dalam paket program MBG bahkan dikembalikan ke pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) setelah diketahui berjamur. 

Temuan serupa juga terjadi di SMPN 1 Delanggu serta beberapa sekolah di Sumatera Selatan.

Sejumlah sekolah yang melaporkan temuan tersebut antara lain SDN 1 Tugu Papak di Kecamatan Semaka, SDN 1 Kanyangan, SDN 1 Negarabatin, dan SDN 1 Pulau Benawang di Kecamatan Kotaagung Barat, serta beberapa sekolah dasar lain di wilayah Kotaagung Timur.

Guru Besar Farmakologi dan Farmasi Klinik Fakultas Farmasi UGM, Zullies Ikawati, menilai kejadian ini harus menjadi perhatian serius karena berkaitan dengan aspek keamanan pangan dalam program pemerintah.

“Kejadian seperti ini umumnya berkaitan dengan masalah penyimpanan, distribusi, atau masa simpan yang tidak terkontrol dengan baik. Oleh karena itu, evaluasi sistem pengadaan, penyimpanan, serta pengawasan mutu makanan dalam program MBG perlu diperkuat agar kejadian serupa tidak terulang,” ujarnya dikutip dari laman UGM, Jumat (6/3/2026).

Menurutnya, roti yang telah berjamur menunjukkan adanya pertumbuhan mikroorganisme sehingga tidak layak dikonsumsi.

Ia menjelaskan bahwa roti yang berjamur biasanya ditumbuhi kapang seperti Aspergillus, Penicillium, atau Rhizopus.

Beberapa jenis kapang tersebut bahkan dapat menghasilkan mikotoksin atau senyawa beracun yang berbahaya bagi tubuh.

"Contohnya adalah aflatoksin, ochratoxin, atau toksin lainnya, dan itu tergantung jenis kapangnya," tuturnya.

 Meski tidak semua jamur menghasilkan toksin, secara prinsip makanan yang sudah berjamur tidak boleh dikonsumsi, karena secara awam kita tidak bisa memastikan jenis jamur yang tumbuh dan apakah sudah menghasilkan toksin atau belum.

Zullies menambahkan, konsumsi roti berjamur dapat memicu gangguan kesehatan seperti mual, muntah, nyeri perut, hingga diare.

Pada sebagian orang, jamur juga dapat menyebabkan reaksi alergi.

Dalam jangka panjang, paparan mikotoksin dari makanan yang terkontaminasi berpotensi menimbulkan dampak lebih serius, seperti gangguan hati atau efek toksik lainnya.

“Pada anak-anak, yang sistem imunnya masih berkembang, risiko efek kesehatan bisa lebih besar dibandingkan orang dewasa,” ucapnya.

Ia juga menjelaskan bahwa roti berjamur tidak selalu berarti telah melewati tanggal kedaluwarsa.

Kondisi penyimpanan yang lembap atau suhu yang terlalu hangat dapat mempercepat pertumbuhan jamur meskipun masa simpan produk masih berlaku.

Beberapa tanda roti tidak layak dikonsumsi antara lain muncul bercak jamur berwarna hijau, hitam, putih, atau kebiruan, bau apek atau asam yang tidak biasa, tekstur terlalu lembap atau berlendir, serta perubahan warna pada permukaan roti.

“Jika salah satu tanda tersebut muncul, sebaiknya roti tidak dikonsumsi,” paparnya.

Zullies berharap pengawasan kualitas pangan dalam program makanan sekolah diperketat, mulai dari proses produksi hingga distribusi.

Ia juga menyarankan adanya kontrol masa simpan, penyimpanan pada suhu yang tepat, serta pemeriksaan kualitas sebelum makanan didistribusikan ke sekolah.

“Jika perlu dilakukan pelatihan terkait keamanan pangan bagi pihak yang terlibat dalam penyediaan makanan sekolah, dan saya kira dengan sistem pengawasan yang baik, risiko kontaminasi pangan seperti ini sebenarnya dapat diminimalkan,” imbuhnya. (*)