SMK Didorong Bertransformasi: Integrasi AI Jadi Kunci Hadapi Industri Masa Depan

Perubahan cepat dunia kerja akibat kecerdasan buatan mendorong pendidikan vokasi Indonesia berbenah. Melalui seminar internasional bersama KRIVET Korea, Kemendikdasmen menegaskan integrasi AI di SMK bukan lagi opsi, melainkan kebutuhan strategis untuk menyiapkan lulusan siap menghadapi ekonomi masa depan.

SMK Didorong Bertransformasi: Integrasi AI Jadi Kunci Hadapi Industri Masa Depan
Direktorat SMK Kemendikdasmen bekerja sama dengan Korea Research Institute for Vocational Education and Training (KRIVET) menggelar Seminar Internasional bertajuk “The Integration of Artificial Intelligence (AI) in TVET and Future Strategies” di Jakarta, Selasa (3/2/2026). (Sumber: Kemendikdasmen)

RINGKASAN BERITA: 

  • Kemendikdasmen dan KRIVET bahas strategi integrasi AI dalam pendidikan vokasi
  • AI dinilai krusial untuk personalisasi pembelajaran dan pemetaan kompetensi SMK
  • Pendidikan vokasi dituntut adaptif, inklusif, dan selaras kebutuhan industri global

RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Transformasi dunia industri yang dipacu oleh perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) menuntut pendidikan vokasi bergerak lebih adaptif.

Sekolah menengah kejuruan (SMK) kini dihadapkan pada tantangan besar untuk memastikan lulusannya tetap relevan dengan kebutuhan industri yang terus berubah.

Menjawab tantangan tersebut, Direktorat SMK Kemendikdasmen bekerja sama dengan Korea Research Institute for Vocational Education and Training (KRIVET) menggelar Seminar Internasional bertajuk “The Integration of Artificial Intelligence (AI) in TVET and Future Strategies” di Jakarta, Selasa (3/2/2026).

Forum ini menjadi ruang berbagi praktik baik, kebijakan, dan gagasan strategis terkait penerapan AI dalam pendidikan dan pelatihan vokasi atau TVET.

Integrasi AI dinilai mampu meningkatkan kualitas pembelajaran, akurasi asesmen kompetensi, hingga efisiensi pengelolaan satuan pendidikan vokasi.

Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi PKPLK Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, menegaskan bahwa pendidikan vokasi memegang peran penting dalam menopang pertumbuhan ekonomi, meningkatkan daya saing industri, serta memperkuat inklusi sosial.

“Integrasi kecerdasan buatan dalam pendidikan dan pelatihan kejuruan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan strategis. Namun, transformasi digital ini harus tetap inklusif dan dapat diakses oleh semua,” ujar Tatang.

Ia menjelaskan, pemanfaatan AI membuka peluang penerapan pembelajaran yang dipersonalisasi, penilaian adaptif, serta pemetaan kompetensi secara real-time.

Pendekatan tersebut dinilai mampu menjaga kurikulum SMK tetap selaras dengan dinamika kebutuhan industri global.

“Kita tidak hanya menyiapkan lulusan yang siap kerja hari ini, tetapi juga siap menghadapi ekonomi masa depan. Seminar ini menjadi wadah penting untuk merumuskan strategi bersama lintas negara,” tambahnya.

Dari perspektif global, perwakilan KRIVET, Kim Young Saing, menyoroti dampak luas AI terhadap berbagai aspek kehidupan, mulai dari pendidikan, industri, hingga struktur sosial.

Menurutnya, perubahan tersebut menuntut sistem pendidikan, termasuk SMK, untuk menyesuaikan kurikulum secara serius.

“Pendidikan bukan hanya soal gelar, tetapi tentang keterampilan, karakter, dan peran sosial. Sekolah perlu mengadopsi AI agar tetap relevan dengan kebutuhan industri,” ungkap Kim.

Ia juga menilai kerja sama antara Indonesia dan Korea memiliki nilai strategis di tengah dinamika geopolitik dan ekonomi global.

Kolaborasi tersebut dinilai penting untuk membangun sistem pendidikan vokasi yang adaptif dan berdampak jangka panjang.

“Melalui diskusi dan kolaborasi berkelanjutan, kita bisa menciptakan pendidikan yang relevan bagi masa depan,” pungkasnya. (*)