Survei Ditjen Risbang 2025: Tingkat Kepuasan Sivitas Akademika Capai 85,8 Persen

Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Ditjen Risbang) Kemendiktisaintek merilis hasil Survei Evaluasi Pelaksanaan Program Tahun 2025. Survei yang melibatkan 5.942 responden ini menunjukkan tingkat kepuasan sivitas akademika mencapai 85,8 persen, dengan mayoritas menilai program riset relevan dan berdampak.

Survei Ditjen Risbang 2025: Tingkat Kepuasan Sivitas Akademika Capai 85,8 Persen
Evaluasi pelaksanaan program Ditjen Litbang di Kemendiktisaintek. (Sumber: Kemendiktisaintek)

RINGKASAN BERITA : 

  • Tingkat kepuasan sivitas akademika terhadap Ditjen Risbang mencapai 85,8 persen dengan persepsi program dinilai relevan dan berdampak.
  • Program Penelitian BIMA menjadi yang paling banyak diikuti, sementara kebutuhan ke depan masih didominasi pendanaan riset dan pengabdian.
  • Survei merekomendasikan penguatan durasi program, komunikasi, dan sosialisasi untuk meningkatkan partisipasi dan efektivitas program strategis.

RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Ditjen Risbang), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, merilis hasil Survei Evaluasi Pelaksanaan Program Ditjen Risbang Tahun 2025 yang melibatkan 5.942 responden dari kalangan dosen, peneliti, serta pengelola riset dan pengembangan perguruan tinggi di Indonesia.

Hasil survei daring tersebut dipaparkan dalam Forum Dialog Risbang Akhir Tahun 2025 yang digelar akhir 2025. Berdasarkan perhitungan statistik populasi dosen nasional, survei ini memiliki tingkat kepercayaan 99 persen dengan margin of error 1–2 persen.

Mayoritas responden berasal dari perguruan tinggi akademik sebanyak 5.353 orang atau 90 persen, dan perguruan tinggi vokasi sebanyak 589 orang atau 9,9 persen. Dari sisi status kelembagaan, responden didominasi perguruan tinggi swasta (86 persen), disusul PTNBH, PTN BLU, dan PTN Satker.

Sebaran wilayah terbanyak berasal dari Pulau Jawa sebesar 39,50 persen, diikuti Bali–Nusa Tenggara 21,37 persen, Sumatera 19,08 persen, Sulawesi–Maluku–Papua 17,20 persen, dan Kalimantan 2,84 persen.

Berdasarkan hasil survei, tingkat kepuasan sivitas akademika terhadap layanan Ditjen Risbang mencapai 85,8 persen. Persepsi positif juga tercermin dari 87,1 persen responden yang menyatakan program Ditjen Risbang relevan dengan kebutuhan riset dan pengembangan perguruan tinggi, serta 88,1 persen menilai program mendukung peningkatan kualitas riset, termasuk penguatan talenta, luaran, jejaring, dan dampak.

Dilansir dari portal resmi Kemendiktisaintek, Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan, Fauzan Adziman, menyampaikan bahwa hasil survei menjadi cerminan capaian sekaligus bahan evaluasi strategis.

“Hasil survei ini menunjukkan bahwa program dan layanan Ditjen Risbang telah berada pada jalur yang tepat dan dinilai relevan serta berdampak oleh pemangku kepentingan. Namun, kami juga mencermati secara serius berbagai catatan perbaikan yang disampaikan responden,” ujarnya.

Dari aspek tata kelola, sebanyak 85,7 persen responden menilai mekanisme pelaksanaan program berjalan efektif, sementara 80,5 persen menyebut durasi program sudah memadai.

Dampak program juga dirasakan nyata, dengan 87,7 persen responden menyatakan luaran program memberi manfaat bagi dosen, mahasiswa, institusi, dan masyarakat.

Penilaian terhadap layanan dan respons Ditjen Risbang tercatat sebesar 83,9 persen, didukung koordinasi yang efektif dengan perguruan tinggi (85,6 persen) serta layanan administrasi dan sistem digital seperti BIMA, SINTA, dan Hilirisasi (85,2 persen).

Kanal komunikasi dan kecepatan respons terhadap kendala teknis maupun administratif juga dinilai berjalan baik.

Survei mencatat tingkat pemahaman terhadap program Ditjen Risbang mencapai 86,1 persen.

Informasi program yang disampaikan melalui kanal resmi dinilai jelas dan memadai oleh 87,9 persen responden, sementara sosialisasi program dinilai optimal oleh 86,5 persen responden.

Dari sisi partisipasi, Program Penelitian melalui BIMA menjadi program yang paling banyak diikuti dengan persentase 84,5 persen, disusul Program Pengabdian kepada Masyarakat sebesar 46,4 persen.

Sementara kebutuhan program ke depan masih didominasi oleh pendanaan riset kompetitif dan pengabdian kepada masyarakat, diikuti penguatan kolaborasi, hilirisasi riset, dan pengembangan talenta.

Menutup forum dialog tersebut, Dirjen Fauzan menegaskan komitmen Ditjen Risbang untuk melakukan perbaikan berkelanjutan guna memperkuat ekosistem riset dan inovasi nasional. (*)