KWT Desa Meskom Dilatih Mahasiswa KKN Unri Buat Pupuk Organik Cair dari Sampah Rumah Tangga dan Air Cucian Beras

Mahasiswa KKN Universitas Riau memberikan pelatihan kepada Kelompok Wanita Tani (KWT) Desa Meskom, Bengkalis, tentang pembuatan pupuk organik cair (POC) berbahan sampah organik dan air cucian beras. Pelatihan ini bertujuan meningkatkan keterampilan anggota KWT dalam memproduksi pupuk ramah lingkungan secara mandiri.

KWT Desa Meskom Dilatih Mahasiswa KKN Unri  Buat Pupuk Organik Cair dari Sampah Rumah Tangga dan Air Cucian Beras
Mahasiswa KKN Unri mengajarkan anggota KWT Desa Meskom membuat pupuk organik cair dari sampah rumah tangga dan air cucian beras, Sabtu (18/7/2026). (Sumber: KKN Unri Desa Meskom)

RINGKASAN BERITA:

  • Mahasiswa KKN UNRI mengajarkan anggota KWT Desa Meskom membuat pupuk organik cair dari sampah rumah tangga dan air cucian beras.
  • Pelatihan menekankan pentingnya proses fermentasi selama 21 hari agar pupuk menghasilkan kualitas yang baik.
  • Program diharapkan membantu petani memproduksi pupuk sendiri, mengurangi biaya pertanian, dan mendukung praktik ramah lingkungan.

RIAUCERDAS.COM, BENGKALIS - Upaya mengurangi limbah rumah tangga sekaligus menekan biaya pertanian dilakukan Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Riau (Unri) melalui pelatihan pembuatan pupuk organik cair (POC) bagi Kelompok Wanita Tani (KWT) Desa Meskom, Kecamatan Bengkalis.

Program ini mengajarkan pemanfaatan sampah organik dan air cucian beras menjadi pupuk yang dapat digunakan untuk mendukung budidaya tanaman.

Kegiatan berlangsung pada Sabtu (18/7/2026) di rumah Ketua RT 003 Dusun Tua, Desa Meskom, Ibu Umi Habibah, dan diikuti oleh 14 anggota KWT.

Pelatihan tersebut merupakan salah satu dari 11 program kerja mahasiswa KKN Unri di Desa Meskom di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan Dr. Zulkarnain, M.Si., dengan Agung Rezki Arya dari Program Studi Teknik Arsitektur sebagai ketua kelompok.

Materi disampaikan oleh Rose Amelia Prameswari dari Program Studi Agroteknologi dan Anggi Nur Fahmi dari Program Studi Kimia.

Keduanya menjelaskan proses pembuatan POC menggunakan air cucian beras, gula merah, dan sampah organik rumah tangga seperti sisa sayuran maupun kulit buah.

Peserta juga diajarkan tahapan pembuatan pupuk, mulai dari mencacah bahan organik, mencampurkannya dengan air cucian beras dan larutan gula merah, hingga proses fermentasi di dalam wadah tertutup selama 21 hari.

Pada tiga hari pertama, wadah dibuka secara perlahan untuk mengeluarkan gas hasil fermentasi.

Setelah proses fermentasi selesai, larutan disaring untuk memisahkan cairan dan ampas.

Pupuk organik cair kemudian dapat diencerkan sebelum diaplikasikan ke tanaman melalui penyemprotan pada daun maupun langsung ke media tanam.

Pelatihan ini digelar setelah mahasiswa menemukan sebagian anggota KWT pernah mencoba membuat POC secara mandiri, namun belum memperoleh hasil optimal karena belum memahami tahapan fermentasi yang benar.

Ketua Kelompok Wanita Tani Desa Meskom, Marijim, mengaku mendapatkan pengetahuan baru dari kegiatan tersebut.

"Kami baru tahu ternyata perlu ditambahkan gula merah, selama ini kami pikir cukup pakai air cucian beras saja," tuturnya.

Rose Amelia Prameswari menjelaskan bahwa proses fermentasi menjadi tahapan penting karena memungkinkan mikroorganisme menguraikan bahan organik menjadi unsur hara yang dapat diserap tanaman.

Sementara itu, Anggi Nur Fahmi menambahkan penggunaan wadah tertutup selama fermentasi diperlukan untuk menjaga proses penguraian berlangsung dengan baik, namun tetap harus tersedia jalur untuk mengeluarkan gas agar wadah tidak menggembung atau pecah.

Keduanya juga menjelaskan ciri-ciri POC yang berhasil dibuat, yakni berwarna kecokelatan, memiliki aroma asam khas hasil fermentasi, serta tidak ditumbuhi jamur berwarna hitam maupun hijau.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Para anggota KWT aktif mengajukan pertanyaan mengenai lama fermentasi, komposisi bahan, hingga teknik penggunaan pupuk pada tanaman.

Mahasiswa KKN UNRI berharap pelatihan tersebut dapat membantu KWT Desa Meskom memproduksi pupuk organik cair secara mandiri, sehingga mampu mengurangi biaya produksi pertanian sekaligus mendorong penerapan pertanian yang lebih ramah lingkungan. 

Kelompok KKN Unri di Desa Meskom turut beranggotakan Arrisqa Vrisya dari Prodi Bimbingan Konseling sebagai wakil ketua, Rona Bila Lubis dari Prodi Penjas, dan Saskia Berliana Mersi dari Prodi Kedokteran Hewan.

Kemudian, Annisa Fitriani A. selaku bendahara dari Prodi Pendidikan Guru PAUD, bidang acara Olivia Afnita dari Prodi Pendidikan Kimia dan Sahrul Amanda dari Prodi Pendidikan Masyarakat, serta bidang Humas Levya Riska Nabilla dan Nur Aqila Amelia dari Prodi Agroteknologi, dan Nurul Latifah dari Prodi Fisika selaku bidang Publikasi dan Dokumentasi. (rls)