Rupiah Melemah ke Rp17.000 per Dolar AS, Harga Pangan Berpotensi Naik hingga 8 Persen
Pelemahan rupiah hingga Rp17.000 per dolar AS berpotensi meningkatkan harga pangan di Indonesia. Dampaknya bervariasi tergantung komoditas, dengan produk impor dan sulit disubstitusi menjadi yang paling rentan.
RINGKASAN BERITA:
- Pelemahan rupiah berpotensi dorong kenaikan harga pangan hingga 8 persen
- Komoditas seperti daging, telur, dan susu paling rentan terdampak
- Ketergantungan impor jadi faktor utama tekanan terhadap harga domestik.
RIAUCERDAS.COM - Pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh kisaran Rp17.000 per dolar AS memicu kekhawatiran baru terhadap kenaikan harga pangan di Indonesia, terutama pada komoditas yang bergantung pada impor.
Tekanan terhadap sistem pangan nasional dinilai semakin nyata seiring fluktuasi kurs yang terjadi pada pertengahan Maret 2026.
Kondisi ini berpotensi meningkatkan biaya impor bahan pangan dan input produksi, yang pada akhirnya dapat berdampak pada harga di tingkat konsumen.
Dosen Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Hani Perwitasari, menilai pelemahan rupiah perlu diwaspadai karena berpotensi menekan stabilitas pangan nasional.
Menurutnya, dampak fluktuasi nilai tukar terhadap harga pangan bersifat bervariasi, tergantung pada jenis komoditas dan kondisi pasokan di dalam negeri.
“Untuk fluktuasi nilai tukar ini akan berpengaruh terhadap stabilitas harga pangan, bervariasi bisa dari 2 sampai 8 persen tergantung jenis makanannya,” ujarnya dikutip dari laman UGM, Kamis (26/3/2026).
Ia menjelaskan, komoditas dengan pasokan domestik yang mencukupi cenderung lebih stabil.
Namun, produk dengan ketergantungan tinggi pada impor atau yang sulit disubstitusi lebih rentan mengalami kenaikan harga.
“Komoditas yang paling rentan seperti daging, kemudian telur, susu yang memang sulit untuk disubstitusi, maka dia akan lebih rentan terhadap dampak dari pelemahan rupiah ini,” tuturnya.
Ketergantungan Indonesia terhadap impor komoditas strategis seperti kedelai, gandum, dan bawang putih menjadi salah satu faktor yang memperbesar risiko tersebut.
Saat nilai tukar melemah, biaya impor meningkat dan dapat langsung memengaruhi harga domestik.
“Semakin tinggi impornya, maka ini akan sangat rentan terhadap gejolak kurs yang ada,” kata Hani.
Selain berdampak pada harga di pasar, pelemahan rupiah juga meningkatkan biaya produksi di sektor pertanian dan peternakan.
Hal ini disebabkan oleh penggunaan input produksi yang masih terhubung dengan pasar global.
“Nilai tukar akan mempengaruhi biaya produksi, terutama ketika barang-barang produksi ini merupakan barang tradable, sehingga harganya akan naik dan total biayanya meningkat,” ungkapnya.
Untuk meredam dampak jangka pendek, pemerintah dinilai perlu memperkuat pengendalian harga dengan memastikan ketersediaan data produksi dan kebutuhan pangan secara akurat.
Langkah ini penting untuk menentukan kebijakan yang tepat, termasuk keputusan impor.
“Kalau kurang ya perlu impor, kalau tidak kurang ya tidak perlu impor, sehingga kebijakan bisa diambil dengan lebih tepat,” tuturnya.
Dalam jangka panjang, penguatan produksi dalam negeri menjadi kunci untuk mengurangi ketergantungan pada impor.
Dukungan terhadap petani melalui akses pembiayaan, subsidi input, hingga perlindungan asuransi dinilai perlu ditingkatkan.
Selain itu, peran konsumen juga dianggap penting dalam mendorong ketahanan pangan nasional dengan memilih produk dalam negeri. (*)


