Jelang Ramadhan, Kemenag Prioritaskan Rehabilitasi Rumah Ibadah dan Madrasah Terdampak Banjir Sumatra

Kementerian Agama menetapkan skala prioritas rehabilitasi fasilitas keagamaan dan pendidikan yang terdampak banjir di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Menjelang Ramadhan, rumah ibadah, madrasah, dan pesantren dipercepat pemulihannya agar kembali difungsikan.

Jelang Ramadhan, Kemenag Prioritaskan Rehabilitasi Rumah Ibadah dan Madrasah Terdampak Banjir Sumatra
Suasana press conference di Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Jakarta, Rabu (11/2/2026). (Sumber: Kemenag)

RINGKASAN BERITA:

  • Rumah ibadah, madrasah, dan pesantren menjadi prioritas rehabilitasi Kemenag jelang Ramadhan.

  • Total usulan anggaran rehabilitasi mencakup madrasah, pesantren, rumah ibadah, dan KUA dengan nilai ratusan miliar rupiah.

  • Sebagian besar fasilitas terdampak banjir di Sumatra sudah kembali beroperasi melalui rehabilitasi bertahap.

RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Menjelang bulan suci Ramadhan, Kementerian Agama (Kemenag) memprioritaskan rehabilitasi rumah ibadah, madrasah, dan pondok pesantren yang terdampak banjir di wilayah Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

Langkah ini dilakukan agar fasilitas keagamaan dan pendidikan dapat segera kembali digunakan masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam press conference di Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Jakarta, Rabu (11/2/2026).

Menag menegaskan bahwa penetapan skala prioritas dilakukan sesuai arahan Presiden.

“Jelang bulan suci Ramadhan, kami punya skala prioritas, terutama untuk rumah ibadah dan juga sesuai dengan arahan Bapak Presiden,” ujar Menag.

Terkait pendanaan, Kemenag menyiapkan anggaran rehabilitasi dan rekonstruksi untuk fasilitas yang mengalami kerusakan berat.

Dalam perencanaan aksi rehabilitasi, tercatat 123 madrasah masuk kategori rusak berat dengan usulan anggaran Rp85,5 miliar untuk dukungan sarana prasarana dan kebutuhan pembelajaran.

Selain itu, 107 pondok pesantren mendapatkan alokasi rehabilitasi dan rekonstruksi sebesar Rp74,1 miliar, sementara 40 rumah ibadah memperoleh bantuan stimulasi rehabilitasi dan rekonstruksi senilai Rp20 miliar.

Untuk satu Kantor Urusan Agama (KUA) yang harus direlokasi, Kemenag menyiapkan kebutuhan pengadaan lahan dan rekonstruksi sebesar Rp3 miliar.

Menag juga menyinggung dukungan anggaran yang telah disalurkan melalui Ditjen Pendidikan Islam pada 2025.

Untuk wilayah Aceh, anggaran fasilitas pendidikan mencapai Rp1,8 miliar dan madrasah sekitar Rp13,1 miliar.

Di Sumatra Utara, bantuan untuk pesantren sebesar Rp600 juta dan madrasah Rp600 juta.

Sementara di Sumatra Barat, anggaran fasilitas pendidikan mencapai Rp9,4 miliar dan madrasah Rp4,2 miliar.

Dalam paparannya, Menag mengapresiasi peran masyarakat serta dukungan lintas kementerian dan lembaga dalam percepatan pemulihan pascabanjir.

Ia menyebut alat berat dikerahkan dan pekerjaan dilakukan siang dan malam sehingga progres rehabilitasi berjalan cepat.

Banjir di wilayah Sumatra berdampak pada 773 madrasah, 1.173 pesantren, 1.593 rumah ibadah, dan 102 KUA.

Dari jumlah tersebut, masih terdapat 110 madrasah yang rusak parah dan 13 madrasah harus direlokasi.

Selain itu, 107 pesantren dan 40 rumah ibadah, terdiri atas 16 masjid dan 24 gereja, mengalami kerusakan berat, serta satu KUA rusak parah.

Meski demikian, rehabilitasi bertahap telah menunjukkan hasil.

Sebanyak 650 madrasah telah direhabilitasi dan kegiatan belajar-mengajar kembali berjalan.

Sebanyak 1.066 pesantren, 1.553 rumah ibadah, dan 101 KUA juga telah kembali beroperasi.

Untuk satu KUA yang mengalami kerusakan paling berat, Kemenag menyiapkan layanan sementara.

Menag menambahkan, renovasi dan pembangunan gedung madrasah dilaksanakan melalui kerja sama dengan Kementerian Pekerjaan Umum (PU).

Penanganan bencana banjir ini turut melibatkan berbagai kementerian dan lembaga, di antaranya Kemendikdasmen, Kemen PU, Kemensos, Kemendagri, Kemenkes, Kemenko PMK, BNPB, BPS, serta TNI/Polri. (*)