BRIN Soroti Pentingnya Bahasa Ibu, Kunci Tingkatkan Kecerdasan Anak di Era Global
BRIN menegaskan bahasa ibu berperan penting dalam perkembangan kognitif anak. Penggunaan bahasa pertama dinilai mampu meningkatkan kemampuan belajar sekaligus daya saing di era global.
RINGKASAN BERITA:
- Bahasa ibu dinilai sebagai fondasi utama perkembangan kognitif dan intelektual anak.
- Banyak anak mengalami kesulitan belajar karena perbedaan bahasa di rumah dan sekolah.
- Pendekatan multilingual berbasis bahasa ibu dinilai efektif dan berdampak jangka panjang.
RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Penguatan bahasa ibu dinilai menjadi strategi penting dalam meningkatkan kemampuan kognitif anak di tengah tantangan globalisasi.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menekankan bahwa bahasa pertama yang digunakan anak memiliki peran krusial dalam membentuk dasar intelektual dan kemampuan belajar jangka panjang.
Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra (Orbastra) BRIN, Herry Yogaswara, menyampaikan bahwa bahasa ibu tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai instrumen utama dalam pengembangan kognitif anak.
“Bahasa ibu bukan sekadar alat komunikasi atau romansa budaya, tetapi instrumen kognitif yang memungkinkan anak berkembang secara akademis,” ujarnya dalam webinar bertema “Bahasa Ibu sebagai Pondasi Kognitif: Diskursus Kebijakan dan Tantangan Praktis di Era Global”.
Ia menjelaskan, berdasarkan konsep Common Underlying Proficiency (CUP), kemampuan kognitif yang dibangun melalui bahasa ibu dapat ditransfer ketika anak mempelajari bahasa kedua. Namun, tantangan di lapangan masih cukup besar.
Mengacu pada laporan UNESCO (2023), banyak anak mengalami buta huruf fungsional karena harus belajar menggunakan bahasa yang berbeda dari yang digunakan sehari-hari di rumah.
Di Indonesia, meski regulasi telah membuka ruang penggunaan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar di pendidikan dasar, implementasinya masih menghadapi kendala seperti keterbatasan bahan ajar, kurangnya tenaga pengajar yang kompeten, serta stigma negatif terhadap bahasa daerah.
Melalui forum tersebut, Herry berharap muncul rekomendasi konkret, seperti pengembangan bahan ajar multilingual, inovasi metode pembelajaran di daerah tertinggal, serta kebijakan kurikulum yang lebih inklusif terhadap keragaman bahasa.
Ia juga mengutip studi World Bank (2021) yang menyebut investasi pada bahasa ibu sebagai strategi pendidikan yang efisien namun berdampak besar dalam jangka panjang.
Pandangan serupa disampaikan praktisi pendidikan multilingual, Luminda Belesima Tahapary, yang menekankan bahwa bahasa ibu merupakan dasar utama dalam pembentukan pengetahuan dan identitas anak.
“Bahasa ini juga menjadi fondasi awal bagi perkembangan pengetahuan, konsep baru, dan identitas budaya anak, yang mendukung kemampuan belajar lebih lanjut,” tambahnya.
Menurut Luminda, penggunaan bahasa ibu sebagai bahasa pengantar sangat efektif, terutama di wilayah terpencil, karena membantu anak memahami materi pembelajaran dengan lebih baik.
“Kesulitan belajar sering muncul bukan karena kemampuan anak, tetapi karena bahasa di sekolah berbeda dari bahasa yang mereka kuasai. Dengan bahasa ibu sebagai pengantar, anak-anak dapat membangun literasi dasar membaca, menulis, dan berhitung yang menjadi fondasi untuk pembelajaran akademik yang lebih kompleks,” jelasnya.
Ia juga menjelaskan bahwa proses pemerolehan bahasa berlangsung bertahap, dimulai dari mendengar, melihat, hingga praktik langsung sebelum anak mampu membaca dan menulis secara formal. Pendekatan serupa juga diterapkan dalam pembelajaran bahasa kedua.
“Hal ini memungkinkan anak menguasai bahasa baru tanpa kehilangan kemampuan bahasa ibu dan membangun kapasitas kognitif yang maksimal,” tekannya.
Di akhir paparannya, Luminda menegaskan bahwa penguatan bahasa ibu akan membantu meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan mempersiapkan anak menghadapi tantangan global tanpa kehilangan identitas budaya. (*)


