Mendiktisantek Ingin Indonesia Lahirkan Ilmuwan Peraih Nobel
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menegaskan pentingnya kolaborasi seluruh elemen bangsa dalam meningkatkan kualitas pendidikan pada peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026. Pemerintah mendorong transformasi pendidikan tinggi melalui tiga fokus utama, yakni perluasan akses inklusif, penguatan kolaborasi kampus dengan masyarakat, serta riset yang berdampak nyata.
RINGKASAN BERITA:
- Akses inklusif, kolaborasi kampus, dan riset berdampak menjadi strategi utama pemerintah.
- Program “Indonesia Road to Nobel Laureate 2045” disiapkan untuk mencetak ilmuwan kelas dunia.
- Perguruan tinggi didorong tidak hanya sebagai pusat ilmu, tetapi juga penghasil solusi konkret bagi masalah sosial seperti stunting dan kemiskinan.
RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menegaskan pentingnya penguatan partisipasi seluruh elemen bangsa dalam mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua pada peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026.
Dalam pidatonya, Brian menyampaikan bahwa tema Hardiknas tahun ini, “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”, sejalan dengan visi pembangunan nasional yang tertuang dalam agenda pemerintahan Prabowo Subianto, khususnya Asta Cita keempat.
Ia menjelaskan, transformasi pendidikan tinggi difokuskan pada tiga pilar utama.
Pertama, perluasan akses pendidikan secara inklusif melalui berbagai program bantuan seperti Kartu Indonesia Pintar Kuliah, beasiswa afirmasi, serta bantuan Uang Kuliah Tunggal.
“Tidak boleh ada anak bangsa yang tertinggal karena keterbatasan ekonomi maupun geografis,” ujarnya.
Kedua, penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi dengan berbagai pihak untuk menghasilkan solusi nyata.
Menurut Brian, kampus harus hadir di tengah masyarakat melalui kemitraan pentahelix, program magang berdampak, hingga pengembangan taman sains dan teknologi.
Ia mencontohkan kontribusi perguruan tinggi dalam penanganan stunting dan kemiskinan di berbagai daerah, termasuk di Nusa Tenggara Timur.
Ketiga, penguatan riset yang berorientasi pada dampak nyata.
Pemerintah mendorong riset tidak hanya menghasilkan publikasi, tetapi juga inovasi dan solusi di bidang strategis seperti transisi energi, ketahanan pangan, kesehatan, hingga kecerdasan artifisial.
Selain itu, Brian menegaskan ambisi Indonesia untuk menjadi negara pencipta ilmu pengetahuan, bukan sekadar pengguna.
Untuk mencapai hal tersebut, Kementerian menyiapkan program “Indonesia Road to Nobel Laureate 2045” guna melahirkan ilmuwan berkelas dunia.
“Indonesia harus mampu melahirkan ilmuwan kelas dunia, bahkan peraih Nobel dari anak bangsa,” katanya.
Ia juga menekankan bahwa keberhasilan transformasi pendidikan tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi memerlukan keterlibatan seluruh elemen, mulai dari kampus, industri, hingga masyarakat dan keluarga.
Dalam kesempatan tersebut, Brian menyampaikan apresiasi kepada para pendidik dan peneliti atas dedikasi mereka, serta mendorong generasi muda untuk terus belajar dan berinovasi.
Menutup pidatonya, ia mengajak seluruh masyarakat menjadikan pendidikan sebagai tanggung jawab bersama demi menentukan masa depan Indonesia.
“Kerja besar kita diukur dari dampak nyata yang dirasakan rakyat,. Tidak diukur dari tebalnya laporan tapi dari perubahan yang nyata,” ujar Brian. (*)