Mendiktisaintek Minta Guru Besar PTN BH Jadi Penggerak Solusi Sains
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto meminta para guru besar PTN BH mengambil peran lebih besar dalam melahirkan terobosan berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi. Langkah tersebut dinilai penting untuk memperkuat kemandirian Indonesia di tengah tantangan geopolitik dan ekonomi global.
RINGKASAN BERITA:
- Brian Yuliarto meminta guru besar PTN BH menjadi lokomotif lahirnya solusi berbasis sains dan teknologi untuk memperkuat kemandirian Indonesia.
- Perguruan tinggi didorong berkontribusi lebih besar pada agenda strategis nasional seperti ketahanan energi, hilirisasi industri, dan transformasi teknologi.
- Rakernas MDGB PTN BH mengangkat tema Kampus Sehat yang menekankan ketahanan fisik, mental, sosial, dan ekologis sebagai fondasi pembangunan berkelanjutan.
RIAUCERDAS.COM, BANDUNG - Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto mendorong para guru besar Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN BH) menjadi penggerak utama lahirnya berbagai solusi berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi guna memperkuat kemandirian Indonesia menghadapi ketidakpastian global.
Pesan tersebut disampaikan Brian saat menghadiri Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Majelis Dewan Guru Besar (MDGB) PTN BH di Universitas Padjadjaran (Unpad), Jumat (19/6/2026).
Menurutnya, kemajuan sebuah negara sangat ditentukan oleh kemampuan menghasilkan inovasi dan terobosan yang mampu menjawab berbagai tantangan pembangunan.
“Saya mengajak Bapak dan Ibu para Guru Besar untuk memberikan upaya terbaik dalam mencari berbagai terobosan. Kunci kemajuan suatu negara adalah kemandirian, dan lokomotif perubahan itu adalah orang-orang yang mampu menghadirkan solusi melalui ilmu pengetahuan dan teknologi,” ujar Menteri Brian.
Brian menilai situasi global saat ini menghadirkan tantangan yang berpengaruh terhadap ketahanan ekonomi banyak negara.
Ketergantungan pada energi, teknologi, dan sumber daya dari luar negeri menjadi pengingat pentingnya memperkuat kapasitas nasional melalui penguasaan ilmu pengetahuan, riset, inovasi, serta tata kelola yang lebih baik.
Ia menjelaskan Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang besar.
Namun, potensi tersebut baru dapat memberikan nilai tambah optimal apabila didukung oleh riset, hilirisasi, inovasi teknologi, dan sistem tata kelola yang efektif.
Karena itu, perguruan tinggi dinilai memiliki posisi strategis dalam menghasilkan berbagai inovasi yang mampu menjawab kebutuhan pembangunan nasional.
Kontribusi kampus juga diperlukan untuk mendukung agenda prioritas pemerintah, mulai dari penguatan ketahanan energi, hilirisasi industri, transformasi teknologi, hingga peningkatan efisiensi tata kelola.
Menurut Brian, berbagai tantangan tersebut membutuhkan solusi yang berlandaskan sains dan lahir melalui kolaborasi antara akademisi, peneliti, dan pemerintah.
Pada Rakernas tahun ini, MDGB PTN BH mengusung tema “Kampus Sehat: Membangun Ketahanan Fisik, Mental, Sosial, dan Ekologis Menuju Masa Depan Berkelanjutan.”
Tema tersebut mencerminkan komitmen perguruan tinggi dalam menciptakan ekosistem akademik yang sehat sekaligus memperkuat peran pendidikan tinggi dalam mendukung pembangunan berkelanjutan.
Rektor Unpad, Arief Sjamsulaksan Kartasasmita, mengatakan tantangan yang dihadapi perguruan tinggi semakin kompleks sehingga diperlukan kontribusi pemikiran strategis dari para guru besar untuk menghasilkan kebijakan yang berbasis bukti.
Perguruan tinggi yang unggul, katanya, adalah yang mampu memberikan dampak bagi masyarakat.
"Kami berharap Rakernas ini tidak hanya menghasilkan rekomendasi bagi PTN BH, tetapi juga rekomendasi strategis yang dapat menjadi masukan bagi pemerintah dalam pengambilan kebijakan pendidikan tinggi dan pembangunan nasional,” tutur Arief.
Sementara itu, Ketua MDGB PTN BH, Mindriany Syafila, menegaskan konsep kampus sehat tidak hanya berkaitan dengan aspek fisik, tetapi juga mencakup ketahanan mental, sosial, dan ekologis yang menjadi fondasi bagi lahirnya lulusan berkualitas.
“Kampus sehat bukan sekadar angan-angan, melainkan komitmen nyata yang harus kita mulai dari diri sendiri dan lingkungan sekitar. Mari bersama-sama mewujudkan kampus yang tidak hanya sehat secara fisik, tetapi juga tangguh secara mental, harmonis secara sosial, dan lestari secara ekologis,” ujar Mindriany.
Melalui program Diktisaintek Berdampak, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi terus mendorong perguruan tinggi menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, inovasi, dan kolaborasi.
Peran guru besar diharapkan semakin memperkuat kontribusi pendidikan tinggi dalam mewujudkan Indonesia yang mandiri, berdaya saing, dan berkelanjutan. (*)