Hadapi El Nino 2026, Akademisi IPB Tawarkan Cara Murah Cegah Ledakan Hama Padi

Ancaman El Nino 2026 berpotensi memicu lonjakan hama padi, akademisi IPB menawarkan solusi sederhana dan murah melalui langkah preemtif yang bisa dilakukan petani sejak awal tanam.

Hadapi El Nino 2026, Akademisi IPB Tawarkan Cara Murah Cegah Ledakan Hama Padi
Ilustrasi. (Sumber: Diolah dengan AI)

RINGKASAN BERITA: 

  • El Nino 2026 berpotensi picu ledakan hama padi seperti penggerek dan wereng.
  • Akademisi IPB tawarkan solusi murah dengan mengumpulkan telur hama sejak awal tanam.
  • Satu kelompok telur hama bisa sebabkan kerugian hingga Rp8.125 jika tidak dikendalikan.

RIAUCERDAS.COMAncaman kemarau panjang akibat fenomena El Nino 2026 tidak hanya berdampak pada penurunan produksi pangan, tetapi juga meningkatkan risiko ledakan hama di sektor pertanian.

Menyikapi hal ini, akademisi IPB University mendorong langkah pencegahan sederhana yang dinilai efektif dan ekonomis bagi petani.

Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University, Hermanu Triwidodo, menekankan bahwa pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT) harus dilakukan sejak awal melalui pendekatan preemtif.

“El Nino biasanya diikuti OPT, ada kecenderungan penggerek, biasanya serangannya berat. Kalau tidak hati-hati sejak musim tanam, dampaknya bisa luas. Karena itu perlu gerakan massal,” ujarnya dikutip dari laman IPB University, Jumat (17/4/2026).

Fenomena yang disebut sebagai “Godzilla El Niño” diperkirakan berlangsung dari April hingga Oktober 2026.

Kondisi ini berpotensi memperparah serangan hama seperti penggerek batang padi dan wereng batang cokelat (WBC) di berbagai sentra produksi.

Menurut Hermanu, strategi pengendalian hama terpadu (PHT) perlu diperkuat dengan langkah pencegahan sebelum musim tanam, yang dinilai lebih efektif dibandingkan penanganan setelah terjadi ledakan hama.

Salah satu metode yang disarankan adalah pengumpulan kelompok telur penggerek sejak fase persemaian.

Cara ini dinilai praktis dan tidak membutuhkan teknologi mahal.

“Alatnya sederhana, bisa dari botol mineral yang dibalik. Ini langkah praktis untuk mengantisipasi ledakan penggerek sejak dini,” tambahnya.

Dari sisi ekonomi, langkah ini terbukti menguntungkan. Satu kelompok telur penggerek yang berisi sekitar 50 butir dapat merusak hingga 300 malai padi atau setara 1,2 kilogram gabah kering panen (GKP).

Dengan harga Rp6.500 per kilogram, potensi kerugian bisa mencapai Rp8.125 per kelompok telur.

Selain penggerek, ancaman serius juga datang dari wereng batang cokelat yang dapat menyebabkan gagal panen dalam waktu singkat.

Hama ini juga berperan sebagai pembawa virus kerdil hampa dan kerdil rumput yang merusak tanaman secara menyeluruh.

Untuk memperkuat pengendalian, Hermanu mendorong keterlibatan masyarakat secara luas, termasuk pelajar.

Pengumpulan telur hama dapat dijadikan kegiatan edukatif dengan insentif antara Rp500 hingga Rp2.000 per kelompok telur.

“Selain membantu petani, langkah ini juga menjadi sarana menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap dunia pertanian,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa pendekatan sederhana berbasis pencegahan menjadi kunci menjaga keseimbangan ekosistem sawah sekaligus menekan penggunaan insektisida.

“Pendekatan preemtif murah seperti ini adalah kunci. Kalau kita bisa menahan populasi dari awal, maka ekosistem sawah tetap seimbang, penggunaan insektisida bisa ditekan, dan risiko ledakan hama besar seperti WBC dapat dihindari,” pungkasnya. (*)