Penggunaan Interactive Flat Panel di Sekolah Meningkat

Pemanfaatan Interactive Flat Panel (IFP) di ruang kelas mendorong keterlibatan siswa secara aktif dalam pembelajaran. Pemerintah terus memperluas penggunaan teknologi ini sebagai bagian dari transformasi pendidikan.

Penggunaan Interactive Flat Panel di Sekolah Meningkat
Pemanfaatan Interactive Flat Panel (IFP) di ruang kelas dianggap mendorong keterlibatan siswa secara aktif dalam pembelajaran. (Sumber: Kemendikdasmen)

RINGKASAN BERITA: 

  • Penggunaan IFP membuat siswa lebih aktif dan antusias dalam pembelajaran di kelas.
  • Pemerintah terus memperluas distribusi perangkat IFP ke sekolah-sekolah.
  • Meski berbasis teknologi, siswa tetap diingatkan pentingnya keterampilan menulis.

RIAUCERDAS.COM, MAGELANG - Transformasi pembelajaran berbasis teknologi mulai mengubah pola interaksi di ruang kelas, ditandai dengan meningkatnya partisipasi aktif siswa saat proses belajar berlangsung.

Penggunaan Interactive Flat Panel (IFP) menjadi salah satu pemicu utama perubahan tersebut.

Hal ini terlihat saat Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, meninjau langsung kegiatan belajar di SD Negeri Borobudur 2, Kabupaten Magelang.

Dalam kunjungan tersebut, ia mengamati penerapan IFP dalam pembelajaran Matematika di kelas V.

Perangkat IFP dimanfaatkan sebagai media pembelajaran interaktif yang mampu menampilkan visual, video, hingga fitur sentuh yang memungkinkan siswa berinteraksi langsung dengan materi.

Guru dan siswa terlihat aktif menggunakan teknologi tersebut selama proses belajar berlangsung.

Pemerintah, melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, disebut terus mendorong penyediaan IFP di berbagai sekolah sebagai bagian dari upaya transformasi sistem pembelajaran nasional.

“Terima kasih para guru sudah mengajar dengan baik, anak-anak jadi semangat. Tapi tentu kami tekankan bahwa pembelajaran tetap harus terintegrasi dengan pembelajaran mendalam dan program-program penguatan pendidikan karakter,” ujar Abdul Mu’ti di Magelang, Sabtu (18/4/2026).

Dalam dialog dengan siswa, ia juga menggali pengalaman mereka menggunakan perangkat tersebut.

Para siswa mengaku lebih tertarik mengikuti pelajaran karena dapat melihat materi secara visual dan berinteraksi langsung melalui layar.

Meski demikian, ia tetap menekankan pentingnya menjaga metode belajar konvensional, terutama keterampilan menulis.

“Menulis itu agar apa yang dipelajari bisa kita ingat, sekaligus melatih kita belajar mandiri di luar kelas,” pesannya.

Guru kelas V SD Negeri Borobudur 2, Susanti, menjelaskan bahwa sejak perangkat IFP tersedia, penggunaannya langsung dioptimalkan untuk berbagai mata pelajaran.

Ia menilai, teknologi ini membuat pembelajaran menjadi lebih variatif dan meningkatkan keterlibatan siswa.

“Anak-anak bisa menyentuh, menulis, atau menggeser objek langsung di layar IFP ini. Jadi ada keterlibatan langsung dari anak-anak. Terkadang anak-anak sudah tahu lebih dulu terkait fitur atau tren permainan edukasi di IFP dan mengajukan ke guru untuk dicoba di kelas,” ungkapnya.

Menurutnya, perangkat tersebut juga mempermudah akses terhadap berbagai sumber belajar dalam satu platform, mulai dari video pembelajaran hingga simulasi interaktif.

Hal senada disampaikan Kepala SD Negeri Trenten 2, Sri Muryani.

Ia menilai kehadiran IFP sejak awal 2026 memberikan dampak positif terhadap semangat belajar siswa di sekolahnya.

“Dengan IFP, motivasi anak-anak meningkat karena mereka bisa langsung melihat dan mencari materi yang dibutuhkan. Keterlibatan mereka dalam pembelajaran juga menjadi lebih tinggi,” ujarnya.

Pemanfaatan teknologi seperti IFP dinilai menjadi salah satu langkah strategis dalam meningkatkan kualitas pembelajaran.

Dengan pendekatan yang lebih interaktif, siswa diharapkan tidak hanya memahami materi dengan lebih baik, tetapi juga menjadi lebih mandiri dan aktif dalam proses belajar. (*)