TKA 2026 Tetap Lancar Meski Listrik Padam hingga Banjir
Pelaksanaan TKA 2026 di berbagai daerah tetap berjalan lancar meski menghadapi tantangan listrik, internet, hingga bencana. Adaptasi cepat dan kolaborasi menjadi kunci keberhasilan.
RINGKASAN BERITA:
- TKA tetap berjalan meski terkendala listrik padam, internet terbatas, hingga banjir.
- Sekolah di Papua Barat gunakan Starlink untuk menjaga koneksi ujian.
- Pemerintah dorong hasil TKA dimanfaatkan sebagai dasar kebijakan berbasis data.
RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Ketangguhan satuan pendidikan dalam menghadapi berbagai kendala lapangan menjadi sorotan dalam pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026.
Di tengah gangguan listrik, keterbatasan jaringan, hingga kondisi bencana, sekolah tetap mampu menyelenggarakan asesmen secara optimal.
Berdasarkan pemantauan Unit Pelaksana Teknis Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, pelaksanaan TKA jenjang SD di berbagai daerah tetap terkendali berkat kesiapan teknis dan koordinasi yang solid antar pihak.
Di Provinsi Sulawesi Tenggara, sebanyak 2.416 satuan pendidikan yang tersebar di 17 kabupaten/kota mengikuti TKA dalam empat gelombang.
Pada hari pertama, sempat terjadi pemadaman listrik dan gangguan jaringan di beberapa lokasi.
Namun, sekolah bersama pemerintah daerah dan Balai Penjaminan Mutu Pendidikan segera melakukan penyesuaian, termasuk pengaturan ulang jadwal dan relokasi ke lokasi dengan fasilitas lebih memadai.
Sementara itu, di Kabupaten Maybrat, keterbatasan akses internet diatasi dengan memanfaatkan layanan satelit.
Sejumlah sekolah seperti SD YPK Pison Fategomi, SD YPK Imanuel Jitmau, dan SD YPK Kambuaya menggunakan jaringan Starlink untuk memastikan koneksi tetap stabil.
Kepala SD YPK Pison Fategomi, Orpa Bles, menyebut kolaborasi tim menjadi kunci keberhasilan pelaksanaan.
“Kami sangat antusias mengikuti TKA ini. Tim bekerja sama dengan baik sehingga pelaksanaan tetap berjalan lancar. Harapannya, kemampuan membaca dan berhitung murid dapat terus meningkat,” ujarnya.
Di Kota Kupang, kesiapan teknis juga diuji saat terjadi pemadaman listrik di sesi akhir pelaksanaan TKA di SD Kasih Yobel.
Namun, sistem cadangan memastikan proses ujian tetap berjalan.
“Soalnya cukup mudah dan waktunya cukup. Kami sudah sering latihan di sekolah dan di rumah. Meskipun listrik sempat padam beberapa menit, jawaban tetap tersimpan dan kami bisa melanjutkan,” ujar salah satu murid, Natania Aquina Kase.
Tantangan berbeda muncul di Kabupaten Bungo, di mana banjir menggenangi ruang kelas SDN 17/II Lubuk Landai.
Meski demikian, pelaksanaan TKA tetap berlangsung dengan tertib berkat pendampingan guru dan pengawas.
Berbagai kondisi tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan TKA tidak hanya ditentukan oleh kesiapan infrastruktur, tetapi juga kemampuan adaptasi dan kolaborasi antara sekolah, pemerintah, dan masyarakat.
Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah, Toni Toharudin, menekankan pentingnya pemanfaatan hasil TKA ke depan.
“Setelah mencermati kesiapan daerah dalam pelaksanaan TKA, ke depan yang tidak kalah penting adalah memastikan hasilnya dimanfaatkan secara optimal sebagai dasar pengambilan keputusan berbasis data. Data TKA perlu menjadi rujukan dalam memperbaiki proses pembelajaran, menyusun kebijakan, serta memastikan setiap intervensi pendidikan lebih tepat sasaran,” ujarnya.
Pelaksanaan TKA 2026 menjadi bukti bahwa sistem pendidikan Indonesia mampu beradaptasi dalam berbagai situasi, sekaligus menjaga kualitas asesmen sebagai bagian dari upaya peningkatan mutu pendidikan nasional. (*)


