Polman Bandung Luncurkan Mesin CNC Lokal untuk Kurangi Ketergantungan Impor
Politeknik Manufaktur Bandung meluncurkan CNC KHD 40E, mesin CNC buatan lokal dengan kandungan produksi dalam negeri tinggi yang ditujukan untuk pendidikan vokasi dan industri kecil-menengah, sekaligus menjadi langkah strategis menuju kemandirian teknologi manufaktur Indonesia.
RINGKASAN BERITA:
- Sekitar 80 persen proses produksi CNC KHD 40E dikerjakan di lingkungan Polman Bandung.
- Mesin ini telah mengantongi sertifikat PKDN/PKDM sebesar 42,08 persen.
- Dikembangkan sejak 2016, kini CNC KHD 40E memasuki tahap hilirisasi untuk pasar pendidikan dan industri.
RIAUCERDAS.COM, BANDUNG - Upaya mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap mesin CNC impor mulai diwujudkan Politeknik Manufaktur (Polman) Bandung melalui peluncuran CNC KHD 40E, mesin perkakas produksi lokal yang menyasar kebutuhan pendidikan vokasi hingga sektor industri kecil dan menengah.
Kehadiran CNC KHD 40E menjadi bagian dari strategi Polman Bandung dalam memperkuat penguasaan teknologi manufaktur nasional di tengah tingginya kebutuhan mesin CNC di industri dalam negeri yang selama ini masih didominasi produk luar negeri.
Kepala Divisi Pengembangan Bisnis Politeknik Manufaktur Bandung, Roni Kusnowo, mengatakan pengembangan mesin tersebut dilatarbelakangi dua kebutuhan utama, yakni besarnya permintaan pasar terhadap mesin CNC serta perlunya alternatif produk dalam negeri.
Menurut Roni, kebutuhan industri manufaktur saat ini terhadap mesin CNC cukup tinggi. Sementara banyak sekali produk-produk CNC dari luar negeri, sehingga dibutuhkan solusi melalui produksi lokal.
Ia menegaskan salah satu keunggulan CNC KHD 40E terletak pada tingginya kandungan lokal dalam proses pembuatannya.
“Saat ini kita hanya bisa membeli. Nah, Polman Bandung ingin membuat supaya kita bisa mandiri menguasai pasar nasional,” ujarnya.
Nama KHD pada mesin ini merupakan bentuk penghormatan kepada Kokok Haksono Dyatmiko atas kontribusinya di dunia pendidikan vokasi, khususnya di Polman Bandung.
Sementara angka 40 merujuk pada travel 400 mm, dan huruf E menandakan versi education yang dirancang untuk kebutuhan pembelajaran sekaligus mendekatkan siswa dengan kebutuhan industri.
Mesin ini dirancang untuk digunakan di sekolah menengah kejuruan (SMK), perguruan tinggi politeknik, hingga industri kecil dan menengah.
Dari sisi pengembangan, CNC KHD 40E menjadi representasi kuat produk rekayasa kampus vokasi karena sekitar 80 persen proses produksinya dilakukan di Polman Bandung.
Proses desain mesin melibatkan dosen dan mahasiswa Jurusan Teknik Perancangan Manufaktur. Body mesin dicor secara mandiri menggunakan ferro casting 30 oleh Jurusan Teknik Pengecoran Logam.
Tahap permesinan dan perakitan dilakukan di lingkungan Teknik Manufaktur, sedangkan wiring dikerjakan mahasiswa Jurusan Otomasi Mekatronika.
Sementara itu, sekitar 20 persen komponen masih menggunakan sparepart standar seperti kontrol Siemens, linear motion, tool magazine, spindle, dan ball screw.
Secara teknis, CNC KHD 40E memiliki meja kerja berukuran 801 mm x 240 mm dengan kapasitas benda kerja maksimum 140 kilogram.
Travel limits mesin ini meliputi sumbu X 380 mm, Y 240 mm, dan Z 370 mm.
Untuk performa, spindle mesin mampu berputar hingga 6000 RPM dan dilengkapi tool magazine 12 tool dengan spindle taper BT 30.
Adapun kapasitas tool clearance memiliki diameter maksimum 360 mm, panjang maksimum 175 mm, serta berat maksimal 3,5 kilogram.
Roni menyebut penggunaan kontrol Siemens membuat mesin relatif mudah dioperasikan, termasuk oleh siswa SMK dan mahasiswa.
Selain itu, body mesin dirancang dengan material yang mampu meredam getaran agar tetap stabil dan andal saat digunakan.
Direktur Politeknik Manufaktur Bandung, Darma Firmansyah, menilai peluncuran CNC KHD 40E menjadi bukti nyata kontribusi lembaga pendidikan vokasi terhadap kebutuhan industri nasional.
"Putra-putri anak bangsa khususnya Polman Bandung bisa membuat mesin yang akan berguna untuk kebutuhan industri manufaktur di Indonesia,” katanya.
Menurut Darma, inovasi ini penting karena pengembangan mesin perkakas dalam negeri masih terbatas, sementara kebutuhan terhadap teknologi tersebut terus meningkat.
Lebih lanjut, Darma mengatakan pengembangan CNC KHD 40E menunjukkan institusi pendidikan tidak hanya berperan mencetak sumber daya manusia, tetapi juga dapat menghasilkan teknologi yang menjawab kebutuhan mesin produksi di sektor manufaktur.
Dalam aspek hilirisasi, CNC KHD 40E telah memiliki sertifikat PKDN/PKDM sebesar 42,08 persen.
Produk ini juga telah didaftarkan mereknya dengan nama PODIK.
Untuk mendukung implementasi di lapangan, Polman Bandung menyediakan layanan purnajual berupa garansi satu tahun, perawatan berkala, pelatihan operator setelah instalasi, dukungan teknisi, serta ketersediaan sparepart lokal.
Meski telah memasuki tahap hilirisasi, pengembangan CNC KHD 40E masih terus dilakukan.
Salah satu tantangan terbesar adalah sistem kontrol yang saat ini masih menggunakan produk Siemens.
Roni menargetkan pada seri berikutnya Polman Bandung dapat mengembangkan sistem kontrol buatan sendiri melalui riset lanjutan agar tingkat kemandirian teknologi semakin meningkat.
Harapan serupa disampaikan Darma yang menilai dukungan pemerintah masih dibutuhkan, terutama untuk pengembangan kontrol mesin sebagai bagian penting dalam penyempurnaan produk.
Roni menambahkan, riset CNC KHD telah dimulai sejak 2016, kemudian berlanjut melalui program Matching Fund pada 2020 dan 2021, hingga kini memasuki fase hilirisasi.
Ke depan, Polman Bandung menargetkan CNC KHD 40E dapat dimanfaatkan lebih luas oleh sekolah kejuruan, politeknik, serta pelaku industri kecil dan menengah sebagai solusi mesin CNC lokal yang kompetitif dan strategis bagi penguatan industri manufaktur Indonesia. (*)


