Kemenag Gelar Takjil Pesantren di Lirboyo, Perkuat Peran Santri dalam Pendidikan Islam
Kementerian Agama melalui Ditjen Pendidikan Islam menggelar program Takjil Pesantren di Pesantren Lirboyo. Forum ini menjadi ruang dialog antara pemerintah, ulama, dan santri untuk memperkuat peran pesantren dalam membangun pendidikan Islam di Indonesia.
RINGKASAN BERITA:
-
Kemenag menggelar Takjil Pesantren di Pesantren Lirboyo sebagai forum dialog pemerintah, ulama, dan santri.
-
Pesantren dinilai memiliki peran penting dalam membentuk karakter, moral, dan spiritual generasi muda.
-
Program ini juga mendorong pesantren ramah anak dan memperkuat komunikasi antara pemerintah dan pesantren.
RIAUCERDAS.COM, KEDIRI - Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama menggelar kegiatan Takjil Pesantren: Talkshow dan Ngaji Bareng Santri di Pesantren Lirboyo, Kediri, Sabtu (14/3/2026).
Kegiatan ini menjadi forum dialog antara pemerintah, ulama, dan santri untuk memperkuat peran pesantren dalam pengembangan pendidikan Islam di Indonesia.
Acara yang berlangsung menjelang waktu berbuka puasa ini menghadirkan sejumlah tokoh dari Kementerian Agama serta pengasuh pesantren.
Diskusi tersebut membahas berbagai perspektif mengenai penguatan pendidikan karakter, pengembangan pesantren, hingga nilai-nilai keilmuan dalam tradisi santri.
Staf Khusus Menteri Agama Farid Saenong mengajak para santri meneladani semangat para nabi dalam menuntut ilmu.
Ia mencontohkan kisah Nabi Musa yang tetap menempuh perjalanan panjang untuk mencari guru yang lebih berilmu darinya.
“Al-Qur’an menceritakan bagaimana Nabi Musa tetap berusaha mencari guru yang lebih berilmu darinya. Ini menjadi pelajaran bahwa pencarian ilmu harus terus dilakukan sepanjang hayat,” ujarnya di hadapan para santri.
Farid juga menekankan pentingnya adab dalam menuntut ilmu, termasuk mengabdi kepada kiai sebagai bagian dari tradisi pendidikan pesantren.
“Jika ada kesempatan membantu kiai, jangan ragu. Mengabdi kepada guru adalah jalan keberkahan bagi seorang penuntut ilmu,” tambahnya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag, Amien Suyitno, menegaskan komitmen pemerintah dalam mengawal perkembangan pesantren sebagai salah satu pilar penting pendidikan nasional.
Menurutnya, pesantren memiliki kekuatan dalam membentuk karakter generasi muda secara menyeluruh, tidak hanya dari sisi intelektual tetapi juga moral dan spiritual.
“Pendidikan tidak cukup hanya melahirkan orang pintar. Yang paling mahal adalah moral dan spiritual, dan itu menjadi kekuatan utama pesantren,” jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa pesantren merupakan bagian dari orisinalitas sistem pendidikan Indonesia yang perlu terus diperkuat.
“Pesantren adalah orisinalitas pendidikan Indonesia. Karena itu pemerintah terus berkomitmen mengawal dan memperkuat berbagai program pesantren,” ujarnya.
Pengasuh Pesantren Lirboyo, KH Abdulloh Kafabihi Mahrus, dalam kesempatan tersebut menekankan pentingnya keseimbangan antara ilmu, akhlak, dan kepedulian sosial dalam kehidupan santri.
Menurutnya, pendidikan pesantren tidak hanya menekankan pemahaman ilmu agama, tetapi juga pembentukan karakter melalui pengamalan dan pengabdian.
“Santri memiliki kelebihan dalam ilmu, pengabdian, dan akhlakul karimah. Ilmu yang dipelajari di pesantren tidak hanya dipahami, tetapi juga diamalkan dan diajarkan,” tuturnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya sikap saling menghormati dalam kehidupan sosial, baik antara yang tua dan yang muda maupun antara guru dan murid.
Selain itu, KH Abdulloh menyoroti hikmah puasa sebagai sarana membentuk ketakwaan dan meningkatkan kepedulian terhadap sesama.
“Puasa mengajarkan kita menahan hawa nafsu sekaligus merasakan kondisi saudara-saudara kita yang kekurangan,” ungkapnya.
Sementara itu, Direktur Pesantren Kemenag, Basnang Said, menjelaskan bahwa program Takjil Pesantren bertujuan memperkuat komunikasi antara pemerintah dan komunitas pesantren di berbagai daerah.
Ia juga menyampaikan bahwa Kementerian Agama tengah mendorong terciptanya lingkungan pesantren yang aman dan ramah bagi para santri.
“Kami telah menyiapkan regulasi tentang pesantren ramah anak agar pesantren menjadi tempat belajar yang aman, nyaman, dan penuh kasih sayang,” katanya.
Basnang menjelaskan bahwa Takjil Ramadan merupakan singkatan dari Talkshow dan Ngaji Bareng Kiai, yang diselenggarakan di sejumlah pesantren besar di Indonesia selama bulan Ramadan.
Kegiatan di Pesantren Lirboyo menjadi titik keempat dari rangkaian program Takjil Pesantren yang digelar pada Ramadan 1447 Hijriah.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat terus diperluas sehingga menjangkau lebih banyak pesantren di seluruh Indonesia pada masa mendatang.
Acara yang berlangsung hangat dan penuh antusiasme tersebut ditutup dengan tausiyah serta doa bersama menjelang waktu berbuka puasa bersama para santri. (*)
