BRIN Susun Pola Tanam Adaptif Hadapi El Niño dan La Niña
BRIN merumuskan strategi pola tanam adaptif untuk menjaga produksi kentang dan bawang merah di Kabupaten Solok dari dampak anomali iklim. Selain itu, limbah pertanian kedua komoditas ini juga didorong menjadi sumber nilai ekonomi melalui konsep zero waste.
RINGKASAN BERITA:
- BRIN merekomendasikan pola tanam berbeda untuk menghadapi El Niño dan La Niña.
- Produksi kentang dan bawang merah di Solok dipengaruhi fluktuasi curah hujan.
- Limbah pertanian berpotensi diolah menjadi kompos dan produk bernilai ekonomi.
RIAUCERDAS.COM, SOLOK - Upaya menjaga stabilitas produksi pangan di tengah anomali iklim kini dilakukan melalui penyusunan pola tanam adaptif untuk komoditas hortikultura di Sumatera Barat.
Strategi ini dinilai penting untuk menghadapi dampak El Niño dan La Niña yang memengaruhi curah hujan dan produktivitas pertanian.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama sejumlah tim riset mengkaji variabilitas curah hujan terhadap tanaman kentang dan bawang merah di Kabupaten Solok, khususnya di Kecamatan Lembang Jaya, Danau Kembar, dan Lembah Gumanti yang dikenal sebagai sentra produksi.
Peneliti Ahli Utama dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA), Aris Pramudia, menjelaskan bahwa perubahan iklim menjadi faktor penting yang memengaruhi produksi kedua komoditas tersebut, seiring meningkatnya kebutuhan konsumsi masyarakat.
“Kentang dan bawang merah merupakan komoditas yang dibudidayakan di Kabupaten Solok, Sumatera Barat, dan konsumsi tahunan kentang dan bawang merah masyarakat terus meningkat. Namun, adanya perubahan iklim menjadi faktor terhadap produksi kentang dan bawang merah,” kata dia.
Berdasarkan analisis data curah hujan periode 2010–2023 dan perhitungan neraca air tanah, tim peneliti merekomendasikan pola tanam berbeda sesuai kondisi iklim.
Pada tahun normal dan La Niña, pola yang disarankan adalah kentang–bawang merah–bawang merah.
Sementara pada tahun El Niño, pola tanam diubah menjadi bawang merah–kentang–bawang merah.
Menurut Aris, strategi tersebut bertujuan meningkatkan indeks pertanaman sekaligus menjaga produktivitas di tengah fluktuasi iklim yang kian tidak menentu.
Strategi pengelolaan ini bertujuan untuk meningkatkan indeks pertanaman dan produksi hortikultura serta mendukung pertanian yang tangguh terhadap perubahan iklim.
Anomali iklim ini, tuturnya, memberikan dampak yang berbeda, dengan pengaruh yang paling nyata terjadi pada periode curah hujan rendah.
"Curah hujan cenderung menurun dan berfluktuasi pada musim kemarau, sedangkan pada musim hujan relatif stabil,” lanjutnya.
Dalam penelitian ini, data yang dianalisis mencakup curah hujan harian, suhu udara, luas tanam, serta produksi kentang dan bawang merah.
Pengambilan data dilakukan di tiga titik pengamatan pada masing-masing kecamatan, lalu dirata-ratakan untuk menggambarkan kondisi wilayah.
Selain aspek produksi, riset ini juga menyoroti potensi limbah pertanian dari kedua komoditas tersebut.
Limbah bawang merah dan kentang dinilai memiliki peluang besar untuk mendukung konsep zero waste apabila dikelola dengan baik.
Aris menyebut, limbah tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan kompos karena kandungan organiknya yang tinggi, terutama pada bagian daun dan akar.
“Seperti yang kita ketahui, kompos dari limbah bawang merah dan kentang dapat meningkatkan kesuburan tanah, mengurangi kebutuhan pupuk kimia, serta mendorong praktik pertanian ramah lingkungan,” jelasnya.
Tak hanya itu, limbah kulit kentang dan bawang merah juga mengandung senyawa bioaktif seperti asam klorogenat dan flavonoid.
Selama ini limbah tersebut lebih banyak dimanfaatkan sebagai pupuk dan pakan ternak, namun pengolahan lanjutan berpotensi menghasilkan nilai tambah ekonomi sekaligus mengurangi dampak lingkungan.
Melalui riset ini, BRIN berharap strategi adaptasi iklim dan pemanfaatan limbah dapat memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani di daerah.
“Kami berharap riset ini dapat mendukung swasembada pangan yang tangguh dari anomali iklim serta memberikan manfaat ekonomi tambahan bagi petani serta menjadikan Sumatera Barat sebagai model pengelolaan limbah pertanian yang dapat diterapkan di wilayah lain,” kata Aris. (*)