Mahasiswa KKN Unri Dorong Petani Kuansing Manfaatkan Daun Kering Jadi Pupuk Kompos

Mahasiswa KKN Universitas Riau menggelar penyuluhan dan praktik pembuatan pupuk kompos berbahan daun kering dan EM4 di Desa Pebaun Hulu, Kuantan Singingi. Program ini melibatkan empat kelompok tani dan didampingi Penyuluh Pertanian Lapangan untuk mendorong pertanian ramah lingkungan sekaligus mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia.

Mahasiswa KKN Unri Dorong Petani Kuansing Manfaatkan Daun Kering Jadi Pupuk Kompos
Mahasiswa KKN Unri mengangkat pemanfaatan limbah organik sebagai solusi mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia bagi Kelompok tani di Kuantan Singingi. (Sumber: kelompok KKN Unri Desa Pebaun Hilir)

RINGKASAN BERITA:

  • Empat kelompok tani di Desa Pebaun Hulu mengikuti praktik langsung membuat pupuk kompos dari daun kering dan EM4.
  • Mahasiswa KKN Unri mengangkat pemanfaatan limbah organik sebagai solusi mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia.
  • Penyuluh Pertanian Lapangan memastikan pendampingan tetap berlanjut setelah program KKN selesai agar penerapan kompos berkelanjutan.

RIAUCERDAS.COM, KUANTAN SINGINGI - Empat kelompok tani di Desa Pebaun Hulu, Kecamatan Kuantan Mudik, Kabupaten Kuantan Singingi, mendapat pelatihan pembuatan pupuk kompos berbahan daun kering dan larutan EM4 (Effective Microorganisms 4) yang digelar mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Riau (Unri).

Kegiatan tersebut menjadi upaya memperkuat penerapan pertanian berkelanjutan melalui pemanfaatan limbah organik yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.

Penyuluhan yang dilaksanakan di depan balai pertemuan desa pada Selasa (7/7/2026) lalu itu merupakan program kerja mahasiswa Kukerta Berdampak Unri.

Selain menjadi sarana pengabdian kepada masyarakat, kegiatan ini juga menjadi wadah bagi mahasiswa menerapkan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan secara langsung di tengah masyarakat.

Program tersebut berangkat dari banyaknya daun kering yang menumpuk di lingkungan desa dan umumnya hanya dibiarkan atau dibakar.

Padahal, limbah organik itu dapat diolah menjadi kompos yang bermanfaat untuk meningkatkan kesuburan tanah dan menjaga keseimbangan unsur hara.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN berharap masyarakat, terutama kelompok tani, mampu mengolah limbah organik menjadi pupuk kompos sehingga dapat mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia yang berpotensi menurunkan kesuburan tanah apabila digunakan secara berlebihan.

Kegiatan diikuti Kelompok Tani Karya Melayu yang diketuai Selpi Nelma, Kelompok Tani Tunas Muda yang diketuai Iskandar, Kelompok Tani Tunas Makmur yang diketuai Kurnia Wanti, serta Kelompok Tani Tunas Harapan yang dipimpin Rakida.

Selama pelaksanaan kegiatan, mahasiswa turut didampingi Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Pebaun Hulu, Donal Putra.

Sebelum penyuluhan berlangsung, mahasiswa juga berkoordinasi dengan perangkat desa dan PPL untuk menyesuaikan materi dengan kebutuhan petani serta menentukan waktu pelaksanaan agar tidak mengganggu aktivitas bertani warga.

Pada sesi penyuluhan, mahasiswa menjelaskan manfaat kompos, proses penguraian bahan organik, hingga fungsi EM4 sebagai bioaktivator yang mempercepat proses fermentasi.

Penyampaian materi dilakukan menggunakan bahasa sederhana dengan contoh yang dekat dengan aktivitas pertanian masyarakat.

Peserta kemudian mengikuti praktik langsung pembuatan kompos.

Tahapan yang diperagakan meliputi pemilihan daun kering, pencampuran dengan larutan EM4 dan air, penyusunan tumpukan kompos, hingga teknik pembalikan serta pemantauan selama masa fermentasi.

Seluruh peserta dilibatkan dalam praktik sehingga tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teori, tetapi juga pengalaman membuat kompos yang dapat diterapkan di lahan masing-masing.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan.

Pada sesi diskusi, anggota kelompok tani aktif menanyakan takaran EM4, lama fermentasi hingga kompos siap digunakan, serta teknik penyimpanan agar kualitas kompos tetap terjaga.

Pertanyaan tersebut dijawab mahasiswa bersama Donal Putra berdasarkan teori dan kondisi pertanian setempat.

Donal Putra mengapresiasi inisiatif mahasiswa KKN Unri yang dinilai mampu menghubungkan ilmu pengetahuan dari perguruan tinggi dengan kebutuhan petani di lapangan.

Menurutnya, edukasi pengolahan limbah organik masih perlu terus dilakukan karena belum seluruh petani memahami manfaat kompos.

Ia juga menyatakan pendampingan teknis dari PPL akan tetap berlanjut setelah masa KKN selesai agar hasil penyuluhan dapat diterapkan secara berkesinambungan oleh kelompok tani di Desa Pebaun Hulu.

Ketua Kelompok Tani Karya Melayu, Selpi Nelma, menilai kegiatan tersebut memberikan pengetahuan baru mengenai pemanfaatan EM4 dalam mempercepat proses pengomposan.

Ia berharap ilmu yang diperoleh dapat segera diterapkan oleh anggota kelompoknya.

Hal senada disampaikan Ketua Kelompok Tani Tunas Muda, Iskandar.

Menurutnya, demonstrasi langsung membuat peserta lebih mudah memahami setiap tahapan pembuatan kompos dibanding hanya melalui penjelasan teori.

Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Tunas Makmur, Kurnia Wanti, berharap kompos hasil praktik dapat diuji coba di lahan anggota kelompok sebagai bahan evaluasi untuk penerapan yang lebih luas.

Rakida selaku Ketua Kelompok Tani Tunas Harapan juga menyampaikan apresiasi kepada mahasiswa KKN Unri yang telah berbagi pengetahuan kepada petani dan berharap sinergi antara mahasiswa, kelompok tani, serta PPL terus berlanjut setelah program KKN berakhir.

Perwakilan mahasiswa KKN Unri, Afnan Yanis, berharap masyarakat mampu memproduksi kompos secara mandiri dengan memanfaatkan bahan yang tersedia di lingkungan sekitar.

Menurutnya, langkah tersebut tidak hanya mengurangi limbah organik, tetapi juga menekan penggunaan pupuk kimia dan biaya produksi pertanian karena harga pupuk kimia terus meningkat.

Mahasiswa KKN juga akan memantau perkembangan kompos yang telah dibuat hingga siap digunakan sebagai bagian dari upaya memastikan materi yang diberikan benar-benar diterapkan oleh masyarakat.

Ketua Kelompok KKN Unri Desa Pebaun Hulu, Alfin Alfino, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bentuk kontribusi nyata mahasiswa dalam mendukung pemberdayaan masyarakat, khususnya di sektor pertanian, sekaligus memperkuat kolaborasi antara akademisi, kelompok tani, dan Penyuluh Pertanian Lapangan.

"Melalui kegiatan semacam ini, diharapkan hubungan baik yang telah terjalin antara mahasiswa KKN, kelompok tani, dan PPL dapat terus berlanjut meskipun masa pengabdian mahasiswa di desa tersebut telah berakhir, sehingga manfaat dari program ini dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh masyarakat Desa Pebaun Hulu di masa mendatang," kata dia. (rls)