Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Perkuat Transformasi Pendidikan Tinggi Menuju Indonesia Emas 2045
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia terus memperkuat transformasi pendidikan tinggi, riset, dan inovasi untuk mendukung visi Indonesia Emas 2045. Upaya tersebut dilakukan melalui perluasan akses pendidikan, peningkatan kualitas dosen, serta penguatan riset dan kolaborasi global.
RINGKASAN BERITA:
- Pemerintah menargetkan Angka Partisipasi Kasar perguruan tinggi mencapai 38,04 persen pada 2029.
- Program Kartu Indonesia Pintar Kuliah diperluas hingga lebih dari satu juta penerima mahasiswa.
- Minat riset di perguruan tinggi meningkat dengan sekitar 118 ribu proposal penelitian diajukan tahun ini.
RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemdiktisaintek) terus mendorong transformasi pendidikan tinggi, riset, dan inovasi sebagai fondasi utama pembangunan nasional menuju visi Indonesia Emas 2045.
Komitmen tersebut disampaikan dalam kegiatan dialog bersama media bertajuk “Ngopi Bareng Media dan Iftar” dilansir dari InfoPublik, Jumat (13/3/2026).
Kegiatan ini menjadi forum komunikasi antara pemerintah dan insan pers untuk memperluas penyebaran informasi terkait kebijakan pendidikan tinggi.
Menteri Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Brian Yuliarto, menegaskan bahwa penguatan ekosistem pendidikan tinggi, riset, dan inovasi menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat global.
Menurutnya, perguruan tinggi tidak hanya berfungsi sebagai tempat pembelajaran, tetapi juga berperan sebagai pusat lahirnya inovasi yang dapat menjawab berbagai tantangan pembangunan.
“Periode ini merupakan fase krusial dalam memperkuat fondasi menuju Indonesia Emas 2045, dengan pendidikan tinggi, riset, dan inovasi sebagai pilar utama peningkatan daya saing bangsa,” ujar Brian merujuk pada dokumen Rencana Strategis Kemdiktisaintek 2025–2029.
Kementerian mencatat akses masyarakat terhadap pendidikan tinggi terus mengalami peningkatan.
Angka Partisipasi Kasar (APK) perguruan tinggi meningkat dari 30,28 persen pada 2019 menjadi 32 persen pada 2024, dan ditargetkan mencapai 38,04 persen pada 2029.
Perluasan akses tersebut juga diperkuat melalui program Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP Kuliah).
Jumlah penerimanya meningkat dari sekitar 780 ribu mahasiswa pada 2022 menjadi lebih dari satu juta mahasiswa pada 2024, dan ditargetkan mencapai 1,04 juta penerima pada 2025.
Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal Kemdiktisaintek, Badri Munir Sukoco, menilai peran media sangat penting dalam menyampaikan berbagai kebijakan transformasi pendidikan tinggi kepada masyarakat luas.
Ia menambahkan bahwa kolaborasi dengan media menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem pendidikan tinggi, sains, dan teknologi yang kuat, sejalan dengan arah pembangunan nasional yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.
Kemdiktisaintek juga menegaskan bahwa tidak ada pemisahan antara Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) dalam pengembangan sistem pendidikan tinggi nasional.
Data kementerian menunjukkan sekitar 72,2 persen penerima tunjangan sertifikasi dosen pada 2025 berasal dari PTS.
Selain itu, sebanyak 62,2 persen judul penelitian yang memperoleh pendanaan pemerintah juga berasal dari perguruan tinggi swasta dengan total nilai mencapai sekitar Rp686,9 miliar.
Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Khairul Munadi, mengatakan PTN dan PTS merupakan bagian dari satu sistem pendidikan tinggi nasional yang saling melengkapi.
Pemerintah juga memperkuat peran Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) agar pembinaan perguruan tinggi dapat menjangkau berbagai daerah.
Selain memperluas akses pendidikan, pemerintah juga berupaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia di perguruan tinggi. Saat ini sekitar 24,89 persen dosen di Indonesia telah berkualifikasi doktor atau sekitar 75.431 orang.
Jumlah tersebut ditargetkan meningkat menjadi 32 persen atau sekitar 96.981 doktor pada 2029.
Upaya internasionalisasi pendidikan tinggi juga terus diperkuat melalui peningkatan fasilitas pendidikan, mobilitas akademik, serta kerja sama dengan berbagai institusi luar negeri.
Direktur Jenderal Sains dan Teknologi, Ahmad Najib Burhani, menyebut kementerian juga mengembangkan berbagai program strategis untuk mencetak talenta unggul, termasuk melalui ekosistem Sekolah Garuda yang mencakup SMA Unggul Garuda dan Beasiswa Garuda.
Di bidang riset, Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Fauzan Adziman menyampaikan bahwa minat penelitian di perguruan tinggi mengalami peningkatan signifikan.
Pada tahun ini, sekitar 118 ribu proposal penelitian diajukan, hampir dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Selain itu, keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat juga semakin diperluas.
Sebanyak 10.090 mahasiswa telah diterjunkan ke berbagai wilayah terdampak bencana untuk membantu penanganan di berbagai sektor seperti sanitasi, pangan, kesehatan, infrastruktur, hingga dukungan psikososial.
Melalui berbagai langkah tersebut, Kemdiktisaintek berharap pendidikan tinggi di Indonesia tidak hanya memperluas akses dan meningkatkan kualitas, tetapi juga mampu melahirkan talenta unggul serta inovasi yang berkontribusi nyata bagi pembangunan nasional dan peningkatan daya saing bangsa di tingkat global. (*)
