Hadiri Kongres PIKI, Menag Tekankan Peran Cendekiawan dalam Hadirkan Perdamaian

Menteri Agama menilai tantangan saat ini bukan hanya mencetak ilmuwan, tetapi melahirkan cendekiawan yang mampu menghubungkan ilmu dengan kehidupan sosial demi terciptanya harmoni.

Hadiri Kongres PIKI, Menag Tekankan Peran Cendekiawan dalam Hadirkan Perdamaian
Menteri Agama, Nasaruddin Umar berbicara saat menghadiri Kongres VII Persekutuan Inteligensia Kristen Indonesia atau PIKI di Caringin, Bogor. (Sumber: Kemenag)

RINGKASAN BERITA: 

  • Menag tekankan pentingnya cendekiawan, bukan sekadar ilmuwan
  • Kongres PIKI dorong kolaborasi lintas iman dan pemikiran
  • Agama diharapkan hadir sebagai sumber perdamaian sosial.

RIAUCERDAS.COM, BOGOR - Kebutuhan akan sosok cendekiawan yang mampu menjembatani ilmu pengetahuan dengan realitas sosial menjadi sorotan dalam Kongres VII Persekutuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI) 2026.

Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa tantangan utama saat ini bukan sekadar menghasilkan ilmuwan, tetapi menghadirkan figur yang mampu memberi dampak nyata bagi kehidupan masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, Menag menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kongres dan berharap forum ini dapat memperkuat kerja sama lintas pemikiran, termasuk antarorganisasi lintas iman.

“Saya bangga dan bersyukur dengan adanya kongres ini. Saya berharap ke depan lahir kerja sama yang lebih kuat, termasuk dengan berbagai organisasi intelektual lintas iman lainnya,” kata dia.

Ia menjelaskan perbedaan mendasar antara ilmuwan, intelektual, dan cendekiawan.

Menurutnya, ilmuwan berfokus pada penguasaan ilmu secara mendalam dan menghasilkan pengetahuan baru, sementara intelektual mengembangkan pemikiran dengan mengaitkan ilmu pada berbagai persoalan sosial, budaya, dan politik.

Adapun cendekiawan dinilai memiliki peran yang lebih luas, yakni mengintegrasikan ilmu, kebijaksanaan, serta kontribusi nyata dalam kehidupan publik.

“Tidak cukup hanya menjadi ilmuwan. Kita memerlukan lebih banyak cendekiawan yang mampu menghadirkan ilmu dalam praktik kehidupan sehari-hari,” tegasnya.

Lebih lanjut, Menag menyoroti pentingnya menyelaraskan nilai-nilai agama dengan realitas kehidupan modern.

Menag menilai masih terdapat tantangan dalam menjembatani pemahaman normatif ajaran agama dengan praktik di tengah masyarakat.

“Tugas kita adalah menjembatani antara nilai kebenaran yang bersumber dari Tuhan dengan realitas yang dipahami masyarakat,” katanya.

Menurutnya, keberhasilan pembangunan di sektor keagamaan tidak hanya diukur dari program kelembagaan, tetapi sejauh mana ajaran agama mampu menghadirkan harmoni sosial di tengah keberagaman.

“Kementerian Agama baru benar-benar berhasil jika mampu menjembatani ajaran agama dengan kehidupan umat sehingga melahirkan perdamaian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujar dia.

Melalui forum ini, diharapkan lahir sinergi yang lebih kuat antara kalangan intelektual lintas iman dalam menjawab tantangan kebangsaan, sekaligus memperkuat peran agama sebagai sumber kedamaian di ruang publik. (*)