Hotspot di Riau Melonjak Jadi 60 Titik, Rohul Tertinggi

Jumlah titik panas di Provinsi Riau meningkat tajam menjadi 60 titik pada Minggu (7/6/2026), hampir dua kali lipat dibandingkan sehari sebelumnya. Kabupaten Rokan Hulu menjadi wilayah dengan hotspot terbanyak, sementara BMKG tetap memprakirakan hujan berpotensi terjadi di sejumlah daerah.

Hotspot di Riau Melonjak Jadi 60 Titik, Rohul Tertinggi
Petugas gabungan memadamkan kebakaran lahan beberapa waktu lalu. Minggu (7/6/2026), terpantau ada 60 titik panas atau hotspots di Riau. (Sumber: Istimewa)

RINGKASAN BERITA: 

  • Jumlah hotspot di Riau melonjak dari 31 titik menjadi 60 titik dalam sehari.
  • Kabupaten Rokan Hulu mencatat hotspot terbanyak dengan 20 titik panas.
  • BMKG masih memprakirakan hujan di sejumlah wilayah Riau meski ancaman karhutla tetap perlu diwaspadai.

RIAUCERDAS.COM, PEKANBARU - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru mencatat lonjakan jumlah titik panas (hotspot) di Provinsi Riau pada Minggu (7/6/2026).

Sebanyak 60 hotspot terdeteksi di berbagai wilayah, meningkat signifikan dibandingkan sehari sebelumnya yang hanya berjumlah 31 titik.

Kabupaten Rokan Hulu menjadi daerah dengan sebaran hotspot terbanyak, yakni mencapai 20 titik.

Kondisi ini menjadi perhatian karena sejumlah wilayah di Riau saat ini masih menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Forecaster on Duty BMKG Pekanbaru, Gita Dewi S, mengatakan meski jumlah hotspot meningkat, peluang hujan masih terdapat di beberapa daerah sepanjang hari.

"Pada pagi hari, cuaca umumnya berawan. Berdasarkan pengamatan citra radar cuaca BMKG, hujan dengan intensitas ringan hingga sedang terpantau terjadi di sebagian wilayah Kabupaten Rokan Hulu, Siak, Indragiri Hilir, Kampar dan sebagian Kota Dumai," kata dia.

BMKG memprakirakan hujan ringan hingga sedang masih berpotensi turun pada siang hingga sore hari di sebagian wilayah Kabupaten Rokan Hulu, Kampar, dan Indragiri Hilir.

Sementara pada malam hari, hujan diperkirakan terjadi di wilayah Rokan Hulu, Rokan Hilir, dan Kota Dumai.

Adapun pada dini hari, peluang hujan masih terdapat di sebagian wilayah Kota Dumai dengan intensitas ringan hingga sedang.

Selain itu, BMKG mengeluarkan peringatan dini terkait potensi hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang.

Kondisi tersebut berpotensi terjadi di sebagian wilayah Kabupaten Rokan Hulu, Siak, Kampar, Indragiri Hilir, dan Kota Dumai sejak pagi hingga dini hari.

Untuk kondisi cuaca secara umum, suhu udara di Riau diprakirakan berada pada kisaran 23 hingga 34 derajat Celsius dengan tingkat kelembapan antara 55 hingga 100 persen.

Angin bertiup dari arah tenggara hingga barat dengan kecepatan berkisar 10 sampai 36 kilometer per jam.

Di sektor maritim, tinggi gelombang laut di perairan Riau diprakirakan berada pada kisaran 0,5 hingga 1,25 meter atau kategori rendah.

Namun BMKG mengingatkan adanya potensi gelombang kategori sedang setinggi 1,25 hingga 2,5 meter di Perairan Rokan Hilir dan Perairan Dumai-Bengkalis.

Untuk kondisi perairan, tinggi gelombang laut di wilayah Riau diprakirakan berada pada kisaran 0,5 hingga 1,25 meter atau kategori rendah.

Namun masyarakat yang beraktivitas di laut tetap diminta waspada karena gelombang kategori sedang setinggi 1,25 hingga 2,5 meter berpeluang terjadi di Perairan Rokan Hilir dan Perairan Dumai-Bengkalis.

Secara regional, jumlah hotspot di Pulau Sumatera tercatat mencapai 295 titik. Sumatera Barat menjadi provinsi dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 56 titik, diikuti Sumatera Selatan 43 titik, Jambi 40 titik, Sumatera Utara 31 titik, dan Bengkulu 24 titik.

Sementara di Riau, sebaran hotspot setelah Rokan Hulu tercatat berada di Kabupaten Bengkalis sebanyak 12 titik, Kuantan Singingi 9 titik, Indragiri Hilir 7 titik, Rokan Hilir 4 titik, Siak 2 titik, Indragiri Hulu 2 titik, Kota Dumai 2 titik, serta masing-masing satu titik di Kabupaten Kampar dan Pelalawan.

Meningkatnya jumlah hotspot tersebut mendorong masyarakat untuk lebih waspada terhadap potensi munculnya titik api baru.

BMKG mengimbau masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar serta turut menjaga lingkungan guna mencegah terjadinya karhutla. (*)