Bupati Siak Dorong MBG Serap Produk Lokal, BumKam Jadi Penggerak Ekonomi Desa
Bupati Siak menegaskan program Makan Bergizi Gratis harus menyerap hasil petani dan peternak lokal, sekaligus memperkuat peran BumKam dalam ekonomi desa.
RINGKASAN BERITA:
- Program MBG diarahkan wajib menyerap produk petani dan peternak lokal
- BumKam dinilai berhasil memberdayakan ekonomi desa melalui dana desa
- Integrasi program gizi dan ekonomi lokal jadi strategi mandiri pangan.
RIAUCERDAS.COM, SIAK - Upaya memperkuat ekonomi desa sekaligus ketahanan pangan terus didorong Pemerintah Kabupaten Siak dengan mengintegrasikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan produksi lokal.
Langkah ini diyakini mampu menciptakan perputaran ekonomi yang langsung dirasakan masyarakat kampung.
Bupati Siak, Afni Zulkifli, menegaskan bahwa kebutuhan bahan pangan dalam program MBG harus bersumber dari petani dan peternak lokal melalui Badan Usaha Milik Kampung (BumKam).
"Kita ingin memastikan bahwa kebutuhan bahan pangan untuk program Makan Bergizi Gratis bersumber dari petani dan peternak kita sendiri di Siak,” kata Afni saat melakukan kunjungan ke sejumlah BumKam, Jumat (3/4/2026).
Ia juga meminta agar setiap Satuan Pelayanan Pemanfaatan Gizi (SPPG) dalam program MBG wajib menyerap hasil produksi kelompok usaha di tiap kecamatan.
Menurutnya, hal ini penting agar program nasional tersebut tidak meminggirkan potensi ekonomi lokal.
"Lihat lah budidaya ayam petelur yang dikelola BumKam kampung Paluh ini, telurnya baru dan besar-besar. Ini kan sumber protein bagi anak-anak kita. Nanti melalui kemitraan Bundes dan dapur MBG, kita minta mereka ambik hasil produksi Bundes dan UMKM kita," kata Afni.
Dalam kunjungannya, Bupati juga meninjau berbagai potensi unggulan desa, mulai dari peternakan ayam petelur hingga sektor hortikultura.
Di Kampung Koto Ringin, produksi cabai merah, cabai rawit, semangka, serta hasil tangkapan nelayan dinilai siap mendukung kebutuhan dapur MBG.
Sementara di Kampung Benteng Hulu, inovasi pertanian modern dikembangkan melalui budidaya hidroponik selada dan pakcoy oleh Kelompok Wanita Tani (KWT), serta produksi jagung manis dan semangka berkualitas.
Afni turut menyoroti pemanfaatan dana desa yang dinilai berhasil mendorong pemberdayaan masyarakat. Ia menepis anggapan negatif terkait pengelolaan dana desa dengan menunjukkan hasil nyata di lapangan.
"Cobalah, tengok hasil panen cabe merah dan hijau di Koto Ringin. Saya senang seperti ini. Orang kan bilang dana desa dikorup, tapi di Kabupaten Siak tidak, inilah bukti bahwa dana Siak tidak dikorupsi," kata dia.
Lebih lanjut, ia mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama mengawal implementasi program agar berjalan sesuai tujuan, termasuk memastikan tidak ada penolakan terhadap produk lokal.
“Mari kita kawal bersama. Jangan sampai ada dapur Makan Bergizi Gratis yang menolak produk UMKM atau hasil tani dari kampung kita sendiri. Kita harus mandiri pangan dan memastikan perputaran ekonomi tetap berada di tangan warga Siak,” tegas Bupati.
Melalui integrasi ini, Pemkab Siak berharap program MBG tidak hanya meningkatkan asupan gizi masyarakat, tetapi juga menjadi pengungkit ekonomi desa melalui penguatan peran BumKam. (*)


