BRIN Kembangkan Teknologi Mi Sorgum Bebas Gluten untuk Kurangi Impor Gandum
BRIN mengembangkan teknologi ekstrusi mi kering bebas gluten berbasis sorgum sebagai upaya mengurangi impor gandum dan mendorong pemanfaatan pangan lokal bernilai gizi tinggi.
RINGKASAN BERITA:
-
BRIN mengembangkan mi bebas gluten berbahan sorgum untuk mendukung ketahanan pangan.
-
Mi sorgum dibuat menggunakan mesin ekstruder untuk mengatasi sifat adonan yang mudah patah.
-
Teknologi dialihkan ke industri dan UKM melalui pelatihan alih teknologi.
RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Upaya mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor gandum terus diperkuat melalui inovasi pangan berbasis bahan lokal.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan teknologi pembuatan mi bebas gluten berbahan dasar sorgum, komoditas lokal bernilai gizi tinggi yang selama ini menghadapi tantangan dalam pengolahan menjadi mi.
Melalui Pusat Riset Teknologi Proses (PRTP), Organisasi Riset Energi dan Manufaktur (OREM), BRIN mengembangkan seperangkat peralatan ekstrusi khusus untuk menghasilkan mi sorgum dengan mutu yang mendekati mi berbahan gandum.
Inovasi ini menjawab karakteristik sorgum yang cenderung mudah patah, sulit membentuk untaian panjang, serta memiliki tampilan warna yang kurang menarik dibandingkan mi terigu.
Periset PRTP BRIN, Lia Ratnawati, menyampaikan bahwa pengembangan teknologi ini bertujuan mendorong pemanfaatan pangan lokal yang lebih sehat sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional.
Hal tersebut disampaikannya dalam kegiatan Pelatihan Alih Teknologi Mi Bebas Gluten Berbasis Sorgum yang digelar pada Selasa (20/1/2026).
Pelatihan ini melibatkan mitra industri dan pelaku usaha kecil dan menengah (UKM), yakni PT Sedana Panen Sejahtera dan PT Noang Prima Utama.
Kegiatan tersebut menjadi jembatan antara hasil riset BRIN dengan kebutuhan industri agar teknologi mi sorgum dapat segera diterapkan secara nyata.
Dalam riset ini, mi berbasis sorgum yang dihasilkan merupakan mi kering, yakni mi yang telah melalui proses pengeringan hingga kadar air mencapai sekitar 8–10 persen.
Menurut Lia, mi kering memiliki keunggulan umur simpan yang lebih panjang serta lebih mudah dalam penyimpanan dan distribusi, meskipun membutuhkan penanganan ekstra karena mudah patah.
Lia menjelaskan bahwa secara umum terdapat dua teknik utama dalam pembuatan mi, yakni teknik calendering (sheeting–slitting) dan teknik ekstrusi.
Pada pelatihan ini, BRIN menerapkan teknik ekstrusi menggunakan mesin ekstruder, di mana aliran adonan dipengaruhi oleh tekanan geser yang ditentukan oleh kecepatan geser dan viskositas bahan.
“Ekstrusi pemasakan merupakan proses di mana bahan pangan yang mengandung pati dan protein dimasak sekaligus diaduk hingga menjadi adonan yang viskos dan plastis. Panas dapat berasal dari jaket pemanas maupun dari energi mekanik akibat gesekan adonan selama proses ekstrusi,” jelas Lia.
Bahan baku utama mi ini adalah tepung sorgum dari biji sorgum kering yang telah ditumbuk hingga kehalusan 40 mesh.
Tepung tersebut memiliki cita rasa netral, warna putih kecokelatan, tidak berbau, bebas hama, dan dalam kondisi kering.
Untuk mengatasi keterbatasan elastisitas sorgum, ditambahkan tepung jagung, tepung beras, dan tepung tapioka guna memperbaiki struktur adonan agar mi tidak mudah patah.
Adonan yang telah tercampur kemudian diproses menggunakan mesin ekstruder hingga terbentuk mi kering bebas gluten berbasis sorgum.
Produk ini diharapkan menjadi alternatif mi yang lebih sehat serta memperkuat diversifikasi pangan nasional berbasis sumber daya lokal. (*)