Mahasiswa UM Tapsel Dampingi Pemulihan Pascabanjir di Desa Hutagodang

Pendampingan melalui Program Mahasiswa Berdampak Kemdiktisaintek menggunakan pendekatan agroekologi, sociopreneurship, dan konseling trauma, sekaligus memperkenalkan pupuk organik cair dan teknik budidaya tanaman cepat panen. Inisiatif ini membantu masyarakat bangkit dan kembali mengelola lahan serta usaha rumah tangga.

Mahasiswa UM Tapsel Dampingi Pemulihan Pascabanjir di Desa Hutagodang
Suasana Desa Hutagodang Tapanuli Selatan yang menjadi lokasi Program Mahasiswa Berdampak. (Sumber: Kemendiktisaintek)

RINGKASAN BERITA: 

  • Mahasiswa UM Tapsel memulihkan lahan pertanian pascabanjir di Desa Hutagodang melalui teknik agroekologi dan pupuk organik cair.
  • Pendampingan meliputi pelatihan sociopreneurship dan konseling trauma untuk mendukung pemulihan ekonomi dan psikologis warga.
  • Program Mahasiswa Berdampak mendorong perguruan tinggi hadir langsung di masyarakat, menghadirkan solusi nyata pascabencana.

RIAUCERDAS.COM, TAPSEL - Upaya pemulihan pascabencana banjir yang melanda beberapa wilayah Sumatra pada akhir 2025 mulai menunjukkan kemajuan.

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan (UM Tapsel) turun langsung ke Desa Hutagodang, Sumatra Utara, membawa teknologi sederhana dan inovasi yang dapat diterapkan masyarakat untuk menghidupkan kembali sektor pertanian, ekonomi, dan psikologis warga.

Program ini merupakan bagian dari Program Mahasiswa Berdampak yang digagas Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).

Pendampingan berlangsung sepanjang Februari 2026 dengan pendekatan agroekologi, sociopreneurship, dan konseling trauma yang relevan dengan kondisi masyarakat pascabanjir.

Ketua tim pelaksana sekaligus dosen Fakultas Pertanian UM Tapsel, Darmadi Erwin Harahap, menjelaskan mahasiswa dan warga bekerja sama memulihkan produktivitas lahan yang berubah karakter akibat banjir.

“Melalui pendekatan agroekologi, kami mengajarkan pembuatan bahan organik sebagai media tanam serta pupuk cair untuk meningkatkan kesuburan tanaman di lahan yang terdampak banjir,” ujarnya.

Berbagai komoditas hortikultura seperti bayam, sawi, kangkung, dan jagung ditanam karena relatif cepat tumbuh dan dapat menjadi sumber pangan serta penghasilan tambahan.

Mahasiswa juga memperkenalkan pupuk organik cair sederhana dari bahan mudah diperoleh, seperti fermentasi campuran telur, monosodium glutamat, dan air, untuk menekan biaya produksi sekaligus menjaga kesehatan tanaman.

Mahasiswa juga membekali warga dengan pelatihan sociopreneurship, membantu mereka memproduksi olahan makanan dan memasarkan produk melalui media sosial.

Tim dari program studi Bimbingan Konseling turut memberikan sosialisasi pengelolaan trauma bagi warga yang terdampak psikologis akibat bencana.

Salah satu warga Desa Hutagodang, Mila Erlina Napitupulu, mengapresiasi kehadiran mahasiswa yang memberi harapan baru bagi masyarakat.

Sebelum banjir, kata dia, sebagian besar warga menggantungkan hidup dari sawah. Ada juga yang beternak kambing dan memiliki kolam ikan yang siap panen bernilai puluhan juta rupiah, semuanya hanyut saat banjir.

"Kami bisa berkumpul, belajar bersama, dan mulai mencoba berjualan lagi. Kami berharap pendampingan seperti ini bisa terus berlanjut agar lahan di sini bisa kembali diolah dalam skala yang lebih besar,” tuturnya.

Melalui Program Mahasiswa Berdampak, Kemdiktisaintek mendorong perguruan tinggi hadir langsung di tengah masyarakat, membawa solusi nyata bagi persoalan sosial, ekonomi, dan lingkungan.

Keterlibatan mahasiswa membuktikan inovasi dari kampus dapat membantu masyarakat bangkit dan membangun kembali kehidupan mereka pascabanjir. (*)