Bimas Kristen: Platform PINTAR Jadi Basis Peningkatan Kompetensi Guru
Direktorat Jenderal Bimas Kristen Kementerian Agama memperkuat kerja sama dengan Pusbangkom untuk meningkatkan kompetensi guru pendidikan keagamaan Kristen melalui Platform MOOC PINTAR. Program ini ditujukan untuk mempercepat transformasi digital pendidikan keagamaan secara lebih terukur.
RINGKASAN BERITA:
- Bimas Kristen mulai memanfaatkan Platform MOOC PINTAR untuk meningkatkan kompetensi guru secara digital.
- Kemenag menilai pendidikan keagamaan Kristen masih tertinggal dalam fasilitas pembelajaran berbasis digital.
- Platform PINTAR telah memiliki sekitar 1,5 juta alumni dan akan dikembangkan untuk asesmen serta pelatihan guru.
RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Transformasi digital pendidikan keagamaan Kristen mulai diperkuat melalui pemanfaatan Platform MOOC PINTAR milik Kementerian Agama.
Platform tersebut akan digunakan untuk mendukung peningkatan kompetensi guru dan tenaga kependidikan binaan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Kementerian Agama secara lebih masif dan terukur.
Kerja sama itu dibahas bersama Pusat Pengembangan Kompetensi Kementerian Agama di Ciputat pada Selasa (12/5/2026).
Kasubdit Bimas Kristen, Santi Kalangi, menilai penguatan fasilitas dan sistem pembelajaran digital menjadi kebutuhan mendesak agar pendidikan keagamaan Kristen mampu mengikuti perkembangan pendidikan nasional.
“Kebutuhan kami untuk satuan keagamaan Kristen sangat mendesak karena sekarang pembelajaran berbasis digital. Kami merasa banyak tertinggal dari teman-teman di Madrasah dalam hal ini, jadi kami berusaha mengimbangi,” kata dia.
Menurut Santi, salah satu tantangan utama saat ini adalah belum tersedianya instrumen pemetaan data dan sistem asesmen yang terintegrasi untuk mendukung pembinaan sumber daya manusia di lingkungan pendidikan keagamaan Kristen.
“Urgensi saat ini adalah kami tidak punya platform untuk rapor, asesmen, dan media pembelajaran. Kedatangan kami sekiranya dapat diberikan ruang untuk belajar mengenai PINTAR, terutama untuk instrumen asesmen kepala sekolah, guru, hingga pengawas sebagai implementasi manajemen talenta,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Pusat Pengembangan Kompetensi Kementerian Agama, Mastuki, menegaskan Platform MOOC PINTAR dirancang sebagai sistem bersama yang dapat dimanfaatkan seluruh unit kerja di lingkungan Kementerian Agama.
“Posisi MOOC PINTAR adalah untuk merancang dan mengembangkan kompetensi SDM pendidikan dan keagamaan. Kita membuka secara lebar, karena MOOC PINTAR milik Kementerian Agama, bukan hanya milik Pusbangkom,” tuturnya.
Mastuki juga menekankan bahwa hasil asesmen kompetensi seharusnya dipandang sebagai dasar perbaikan dan pengembangan kualitas SDM, bukan sekadar penilaian akhir.
“Apapun kondisinya, yang penting adalah apa yang akan dilakukan ke depan, bukan hasil asesmen itu sendiri. Opsi terbaik saat ini adalah menggunakan instrumen yang sudah ada seperti asesmen di madrasah atau nasional. Apapun hasilnya, kami di Pusbangkom siap membantu meningkatkan apa yang perlu ditingkatkan melalui pelatihan,” jelasnya.
Di sisi lain, Ketua Tim Digital Learning Center, Dipo, menyebut MOOC PINTAR telah mencatat sekitar 1,5 juta alumni pada 2025.
Platform tersebut diproyeksikan menjadi sarana utama pengembangan pelatihan berbasis kebutuhan nyata di lapangan, termasuk untuk guru agama Kristen.
Kolaborasi ini juga membuka peluang pengembangan fitur baru bagi siswa, salah satunya coaching clinic persiapan SNBP berbasis Nomor Induk Kependudukan (NIK).
Melalui sinergi tersebut, Bimas Kristen diharapkan dapat membangun sistem pemetaan kompetensi secara real-time sekaligus memperkuat pembinaan berkelanjutan di sekolah negeri tingkat dasar hingga menengah. (*)