BRIN Kembangkan Mesin Pengolah Gula Semut dari Sorgum
BRIN mengembangkan rangkaian peralatan terintegrasi untuk mengolah nira sorgum manis menjadi gula semut, dirancang khusus untuk skala UMKM dan kelompok tani dengan teknologi food grade yang lebih higienis dan hemat energi dibanding metode tradisional.
RINGKASAN BERITA:
- Dari 15 liter nira sorgum, gula semut bisa diproduksi hanya dalam 3–5 jam menggunakan teknologi mesin terintegrasi berstandar food grade
- Mesin open pan cooker hasil riset BRIN sudah dilisensikan ke industri, membuktikan teknologi ini siap melampaui tahap riset menuju komersialisasi
- Petani masih ragu menanam sorgum karena harga jualnya belum sekompetitif jagung atau padi.
RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) merancang dan mengembangkan teknologi peralatan pengolahan gula semut berbasis nira sorgum manis sebagai alternatif sumber gula lokal yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Manufaktur Peralatan BRIN, Sandi Darniadi, menjelaskan bahwa sorgum dipilih karena fleksibilitas pemanfaatannya yang tinggi.
Tanaman ini satu famili dengan tebu, namun dapat diolah menjadi berbagai produk mulai dari gula, bioetanol, hingga pakan ternak, dan seluruh bagian tanamannya dapat digunakan.
"Sorgum itu satu keluarga dengan tebu, tetapi lebih fleksibel pemanfaatannya. Selain untuk gula, bisa juga untuk bioetanol hingga pakan. Semua bagian tanaman bisa dimanfaatkan," ujar Sandi dikutip dari laman BRIN, Sabtu (11/4/2026).
Meski kadar gula sorgum berkisar 11–15 persen atau lebih rendah dari tebu, Sandi menyebut komoditas ini tetap menjanjikan sebagai sumber gula alternatif, khususnya untuk skala petani kecil dan pelaku UMKM.
Proses produksi gula semut dimulai dengan mesin roller press yang mengekstraksi nira dari batang sorgum.
Dari sekitar 100 kilogram batang, rata-rata dihasilkan hingga 20 liter nira.
Nira kemudian dapat diolah melalui dua jalur: vacuum evaporator yang bekerja pada suhu 60–70 derajat celsius untuk menghasilkan sirup atau gula cair, maupun open pan cooker yang beroperasi pada suhu 90–100 derajat celsius untuk menghasilkan gula semut dengan kadar air 5–6 persen.
"Untuk menghasilkan gula semut dari 15 liter nira, dibutuhkan waktu sekitar 3–5 jam, tergantung kandungan gula awalnya," kata Sandi.
Setelah pemasakan, gula dikeringkan dengan oven dehydrator lalu dihancurkan menggunakan mesin crusher hingga membentuk butiran siap kemas.
Salah satu keunggulan teknologi ini terletak pada efisiensi energi. Berbeda dari metode tradisional yang mengandalkan kayu bakar, sistem BRIN menggunakan gas sebagai sumber panas yang lebih hemat biaya dan mudah dikontrol.
Seluruh peralatan juga dibuat dari bahan stainless steel food grade, sehingga memenuhi standar keamanan pangan yang lebih tinggi dibanding peralatan konvensional.
Desain modular dan portabel membuat teknologi ini cocok untuk kapasitas sekitar 30 liter nira per proses, ideal bagi kelompok tani maupun usaha kecil di daerah.
Dari sisi hilirisasi, mesin open pan cooker telah dilisensikan kepada CV Sentosa Teknik, sementara komponen lainnya masih dalam proses lisensi.
Uji coba dan pengembangan lanjutan dilakukan bersama Sorghum Center Indonesia (SCI) sebagai mitra riset.
"Tujuannya agar teknologi ini tidak berhenti di riset, tapi benar-benar bisa digunakan oleh masyarakat dan industri," ujar Sandi.
Kendati demikian, Sandi mengakui tantangan utama justru ada di sisi budidaya.
Minat petani untuk menanam sorgum masih terbentur persoalan harga jual yang belum kompetitif dibandingkan jagung maupun padi, padahal masa panennya relatif sama, yakni sekitar tiga bulan.
Ia berharap ketersediaan teknologi pengolahan yang mampu mendongkrak nilai tambah komoditas ini dapat mendorong minat petani, sehingga ekosistem produksi sorgum dari hulu ke hilir tumbuh secara berkelanjutan. (*)


