TKA di Riau Berjalan Stabil, Data Asesmen Mulai Dimanfaatkan untuk Perbaikan Pembelajaran
Pelaksanaan TKA di Riau hingga hari keempat berlangsung lancar dengan partisipasi tinggi. Data hasil asesmen kini mulai diarahkan sebagai dasar evaluasi sekolah, kurikulum, dan pengembangan guru.
RINGKASAN BERITA:
- TKA di Riau berjalan lancar dengan partisipasi tinggi hingga hari keempat.
- Hasil asesmen digunakan untuk pemetaan sekolah, evaluasi kurikulum, dan pengembangan guru.
- Program makan bergizi gratis turut mendukung stamina siswa selama pelaksanaan TKA.
RIAUCERDAS.COM, PEKANBARU - Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) di Provinsi Riau tidak hanya menunjukkan kelancaran teknis, tetapi juga menandai perubahan cara pandang terhadap fungsi asesmen dalam dunia pendidikan.
Hasil TKA kini mulai dimanfaatkan sebagai dasar perbaikan pembelajaran, bukan sekadar penilaian akhir.
Di berbagai satuan pendidikan, pelaksanaan TKA jenjang SMP/MTs/sederajat hingga hari keempat, Kamis (9/4/2026), berlangsung tertib.
Siswa hadir sesuai jadwal, perangkat berjalan normal, dan proses ujian berlangsung tanpa kendala berarti.
Di Kota Pekanbaru, sekitar 14 ribu siswa SMP negeri dan swasta serta 725 peserta dari jalur pendidikan nonformal telah mengikuti asesmen.
Tingkat kehadiran tercatat tinggi sejak hari pertama.
Plt Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Riau, Syafrian Tommy, menyampaikan bahwa kelancaran ini merupakan hasil dari persiapan matang yang dilakukan secara bertahap.
“Secara keseluruhan, pelaksanaan TKA di Kota Pekanbaru selama beberapa hari ini berjalan dengan sangat aman dan lancar. Kami melihat antusiasme yang tinggi dari pihak sekolah, guru, maupun siswa. Persiapan matang yang dilakukan sejak jauh hari, baik secara teknis maupun administratif, terbukti efektif dalam meminimalisir hambatan di lapangan,” tuturnya.
Menurutnya, hasil TKA tidak hanya dipandang sebagai angka, tetapi akan digunakan untuk tiga tujuan strategis, yakni pemetaan kualitas sekolah, evaluasi kurikulum, serta intervensi pengembangan guru melalui program Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP).
"Kami di Dinas Pendidikan tidak memandang TKA sekadar sebagai angka, melainkan sebagai instrumen diagnostik. Kami berharap sistem data antara daerah dan pusat dapat semakin terintegrasi dengan baik, sehingga hasil evaluasi ini bisa sejalan dengan rapor pendidikan nasional secara lebih real-time," kata dia.
Sementara itu, di Kabupaten Pelalawan, partisipasi siswa juga tinggi dan merata. Sebanyak 6.368 siswa dari 114 SMP dan MTs mengikuti TKA dengan tingkat kehadiran hampir penuh.
Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pelalawan, Leo Nardo, menilai keberhasilan ini tidak lepas dari pendekatan yang lebih humanis kepada siswa.
“Kami sampaikan kepada siswa bahwa TKA bukan sesuatu yang perlu ditakuti. Mereka cukup mengerjakan dengan jujur dan tenang. Sejauh ini pelaksanaannya berjalan baik, baik dari sisi listrik maupun jaringan,” kata Leo Nardo.
Di Pelalawan, hasil TKA mulai diposisikan sebagai peta awal untuk melihat kemampuan akademik siswa secara lebih rinci, termasuk mengidentifikasi siswa yang membutuhkan perhatian lebih.
Selain itu, di tingkat provinsi, data tersebut akan digunakan untuk membaca pola yang lebih luas, seperti kebutuhan pendampingan sekolah dan penguatan kompetensi tertentu yang masih lemah.
Pelaksanaan TKA di Riau juga menunjukkan suasana asesmen yang lebih tenang dan tidak membebani siswa, tanpa mengurangi integritas proses.
Tingginya partisipasi dan ketertiban pelaksanaan menjadi indikator perubahan persepsi terhadap ujian.
Faktor lain yang turut mendukung kelancaran adalah program makan bergizi gratis di sejumlah sekolah.
Lebih dari separuh satuan pendidikan di Pelalawan telah menerima program tersebut, yang dinilai membantu menjaga stamina siswa selama mengikuti asesmen.
Sebelumnya, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa TKA bukan penentu kelulusan, melainkan alat untuk memetakan kemampuan siswa secara lebih akurat.
“TKA bukan ujian akhir. Ini bagian dari upaya memetakan kemampuan akademik siswa agar perbaikan pembelajaran dapat dilakukan secara lebih terarah,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa TKA memiliki dimensi lebih luas, termasuk dalam membangun karakter siswa, khususnya kejujuran dalam proses belajar. (*)


