TKA 2026 di Sekolah Luar Biasa: Siswa Tunarungu hingga Tunanetra Tunjukkan Semangat Tinggi

Pelaksanaan TKA 2026 di sejumlah SLB di Indonesia berlangsung penuh semangat. Meski memiliki keterbatasan, siswa tunarungu dan tunanetra tetap antusias mengikuti tes yang juga menjadi bagian dari pemetaan akademik dan seleksi pendidikan lanjutan.

TKA 2026 di Sekolah Luar Biasa: Siswa Tunarungu hingga Tunanetra Tunjukkan Semangat Tinggi
Seorang siswi Sekolah Luar Biasa (SLB) mendapat pendampingan saat mengerjakan Tes Kemampuan Akademik, Senin (6/4/2026) kemarin. (Sumber: Kemendikdasmen)

RINGKASAN BERITA: 

  • Siswa SLB di berbagai daerah tetap antusias mengikuti TKA meski memiliki keterbatasan.
  • Teknologi seperti screen reader dan pendamping guru membantu siswa tunanetra mengerjakan soal.
  • Hasil TKA akan menjadi bagian dari penilaian dalam Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB).

RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 tidak hanya menjadi ajang pemetaan akademik, tetapi juga menampilkan semangat luar biasa dari siswa berkebutuhan khusus di berbagai daerah.

Di sejumlah Sekolah Luar Biasa (SLB), siswa tetap antusias mengikuti ujian meskipun menghadapi keterbatasan fisik.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui kebijakan TKA kembali menyasar jenjang SMP/MTs/sederajat, termasuk siswa SMP Luar Biasa (SMPLB), sebagai kelanjutan dari program pemetaan akademik yang telah diterapkan sebelumnya.

Di SLBN Pandaan, pelaksanaan TKA berlangsung dalam suasana hangat. Sejak pagi, para siswa sudah hadir untuk mengikuti ujian dengan penuh kesiapan.

“Siswa kami miliki tekad dan semangat yang luar biasa untuk mencoba dan belajar mengikuti tes ini,” kata Kepala SLBN Pandaan, Iva Evry Robiyansah.

Sebanyak enam siswa tunarungu di sekolah tersebut mengikuti TKA pada hari pertama.

Sementara itu, di SLBN Semarang, suasana pelaksanaan berlangsung santai dan tanpa tekanan.

“Kebetulan siswa kami yang mengikuti TKA hanya ada tiga, yakni dua siswa tunarungu dan satu adalah siswa tunanetra,” kata Kepala SLBN Semarang, Sri Sugiarti.

Menurutnya, persiapan telah dilakukan jauh hari sehingga siswa mampu mengerjakan soal dengan lebih percaya diri.

Antusiasme juga terlihat di SLBN Halmahera Barat. Bahkan, terdapat siswa tunagrahita yang sebenarnya tidak diwajibkan mengikuti TKA, namun tetap ingin berpartisipasi.

“Ada siswa kami yang tunagrahita kan sebenarnya boleh tidak mengikuti TKA, tapi dia ingin tetap ikut,” kata Kepala SLBN Halmahera Barat, Ismawati Muhammad.

Di sekolah tersebut, total sembilan siswa mengikuti TKA.

Pihak sekolah juga memberikan pelatihan penggunaan perangkat komputer serta membentuk tim khusus untuk mendampingi siswa sebelum pelaksanaan.

Pengalaman berbeda disampaikan Raka Aditomo Subagyo, siswa dari SLBN Pembina Tingkat Nasional.

Ia mengaku optimistis karena materi yang diujikan sudah dipelajari sebelumnya.

“Kalau saya optimis karena soal-soal yang tadi keluar sudah kami pelajari selama ini,” kata Raka.

Namun, sebagai siswa tunanetra, ia menghadapi tantangan pada soal berbasis gambar.

Meski demikian, dukungan guru pendamping dan teknologi membantu proses pengerjaan.

“Kami juga dibantu dengan guru pendamping yang membantu kami memahami soal-soal terutama soal-soal yang terkait gambar,” kata Raka.

Ia juga menjelaskan penggunaan headset dengan teknologi screen reader yang membantu memahami soal sekaligus meningkatkan fokus.

"Selain untuk mendengarkan, headset ini juga membuat kami lebih fokus karena ruangan jadi tidak terasa berisik,” terang Raka.

Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, menyampaikan bahwa TKA tidak hanya berfungsi sebagai pemetaan akademik, tetapi juga akan menjadi salah satu komponen dalam Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB).

“Jadi, nantinya hasil dari TKA ini akan menjadi penilaian tersendiri dalam proses penerimaan murid baru. Kalau SMP berarti untuk masuk ke sekolah menengah,” kata Dirjen Tatang.

Ia juga mengingatkan siswa untuk mengerjakan soal dengan jujur dan tidak terbebani.

“Tidak perlu terlalu terbebani, tapi kerjakan soal dengan penuh kesungguhan,” Dirjen Tatang menambahkan.

Sebagai informasi, pelaksanaan TKA untuk jenjang SMP/MTs/sederajat dijadwalkan berlangsung hingga dua pekan ke depan.

Program ini bertujuan menyediakan data capaian belajar siswa secara objektif dan komprehensif guna mendukung perbaikan pembelajaran serta kebijakan pendidikan berbasis data. (*)