Karhutla Bengkalis Meluas, Pemadaman Diperkuat Empat Regu dan Water Bombing

Upaya pemadaman karhutla di Kabupaten Bengkalis terus diperkuat dengan pengerahan personel lintas daerah dan dukungan udara. Sejumlah titik api masih ditangani, meski sebagian wilayah sudah berhasil dipadamkan.

Karhutla Bengkalis Meluas, Pemadaman Diperkuat Empat Regu dan Water Bombing
Regu Manggala Agni memadamkan Karhutla di Bengkalis. (Sumber: Media Center Riau)

RINGKASAN BERITA: 

  • Empat regu difokuskan di Bengkalis untuk menangani titik api aktif di beberapa desa.
  • Sejumlah wilayah seperti Titi Akar dan Pelalawan berhasil dipadamkan hingga status clean and clear.
  • Kendala utama pemadaman adalah gambut kering, keterbatasan air, dan angin kencang.

RIAUCERDAS.COM, BENGKALIS - Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Bengkalis, Riau, terus ditingkatkan dengan konsentrasi kekuatan di sejumlah titik rawan.

Empat regu gabungan kini difokuskan untuk mempercepat pengendalian api yang masih aktif di beberapa desa.

Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, menyampaikan bahwa operasi pemadaman saat ini dipusatkan di wilayah Bengkalis, khususnya di Desa Palkun, Kelemantan Barat, Sekodi, dan Kembung Luar.

Di Desa Palkun, pemadaman memasuki hari pertama dengan dukungan bantuan kendali operasi (BKO) dari Daops Pekanbaru.

Tim juga menggunakan alat berat untuk membuat embung sebagai sumber air, meski pemadaman belum maksimal karena embung masih dalam proses pengisian.

“Ini akan terus dicoba dengan skema pindah-pindah pompa jinjing maju ke kepala api dengan sumber air dari embung yang telah dibuat,” jelas Ferdian, Senin (6/4/2026) malam.

Perkembangan positif terjadi di Desa Titi Akar, di mana kebakaran berhasil dipadamkan setelah delapan hari operasi.

Empat tim gabungan dinyatakan sukses menuntaskan pemadaman hingga status clear and clean.

Sementara itu, di Desa Sekodi, pemadaman masih berlangsung pada hari keempat dengan dukungan water bombing untuk mempercepat penanganan.

Kondisi serupa terjadi di Desa Kelemantan Barat. Tim menghadapi kendala angin kencang yang menyebabkan api kembali meluas melewati sekat yang telah dibuat, ditambah keterbatasan sumber air di lokasi.

Di luar Bengkalis, kabar baik datang dari Desa Gambut Mutiara, di mana kebakaran berhasil dipadamkan pada hari keempat setelah proses mopping up hingga status clean and clear.

Untuk mendukung pemadaman, operasi modifikasi cuaca (OMC) turut dilakukan melalui penerbangan rute Dumai–Rupat.

Namun hingga saat ini, belum ditemukan potensi awan yang dapat dimanfaatkan untuk hujan buatan.

Selain itu, penguatan personel terus dilakukan dengan penambahan satu regu dari Daops Siak ke Desa Kembung Luar.

Sementara sebagian tim BKO dari luar daerah mulai melakukan penarikan.

“Kami konsentrasi di Bengkalis dengan kekuatan empat regu yang tersebar di beberapa titik. Mohon doa dan dukungan agar proses pemadaman berjalan lancar,” ujar Ferdian.

Dukungan Udara

Di sisi lain, operasi pemadaman intensif juga berlangsung di Desa Teluk Lancar. Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Kolonel Inf. Rendra Dwi Ardhani sebagai Koordinator Lapangan bersama Kombes Pol. I Ketut Gede Adi Wibawa sebagai Wakil Koordinator.

Operasi darat melibatkan berbagai unsur, mulai dari TNI, Polri, BNPB, BPBD, Manggala Agni, hingga masyarakat dan relawan.

Sinergi lintas sektor ini menjadi kunci dalam pengendalian kebakaran di tengah kondisi lingkungan yang ekstrem.

Sementara itu, dukungan udara dilakukan melalui water bombing oleh Satgas Udara di bawah pimpinan Capt. Pilot Arif Budiarto untuk menjangkau titik api yang sulit diakses.

Berbagai kendala masih dihadapi di lapangan, seperti kondisi gambut yang kering dan dalam sehingga api sulit dipadamkan, keterbatasan sumber air, serta perubahan arah angin yang mempercepat penyebaran api.

Meski demikian, upaya pemadaman menunjukkan perkembangan signifikan.

Tim gabungan terus bekerja untuk memastikan seluruh titik api dapat dikendalikan.

Satgas juga mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran, mengingat peran masyarakat sangat penting dalam mencegah karhutla di wilayah Riau. (*)