Peneliti UI Ciptakan PANDA, Asisten AI untuk Pantau Anak Cuci Darah dari Rumah

Peneliti Universitas Indonesia mengembangkan PANDA, asisten digital berbasis kecerdasan buatan untuk memantau anak dengan penyakit ginjal kronis yang menjalani hemodialisis dari rumah secara real-time.

Peneliti UI Ciptakan PANDA, Asisten AI untuk Pantau Anak Cuci Darah dari Rumah
Amelia Arnis, peneliti Universitas Indonesia (UI) dari Fakultas Ilmu Keperawatan (FIK) saat mempertahankan disertasinya pada Sidang Promosi Doktor di FIK UI pada 20 April 2026. (Sumber: ui.ac.id)

RINGKASAN BERITA: 

  • PANDA memantau kondisi anak penderita gagal ginjal di rumah pada periode antar-cuci darah.
  • Fitur PANDAbot memberi edukasi kesehatan dan dukungan psikososial sesuai usia anak.
  • Penelitian menunjukkan aplikasi ini meningkatkan kualitas hidup dan menurunkan kecemasan pasien.

RIAUCERDAS.COM, DEPOK - Inovasi berbasis kecerdasan buatan dari Universitas Indonesia (UI) menghadirkan solusi baru bagi anak-anak dengan penyakit ginjal kronis yang harus rutin menjalani hemodialisis, melalui sistem pemantauan kesehatan jarak jauh dari rumah.

Solusi tersebut dikembangkan oleh peneliti Amelia Arnis dari UI melalui disertasinya di Fakultas Ilmu Keperawatan.

Amelia mengembangkan PANDA (Pediatric AI-based Nursing Digital Assistant), sebuah asisten digital cerdas yang dirancang untuk membantu pemantauan pasien anak secara berkelanjutan di luar rumah sakit.

Menurut Amelia, anak-anak dengan penyakit ginjal kronis menghadapi tantangan berat dalam keseharian mereka, mulai dari keharusan menjalani cuci darah dua hingga tiga kali seminggu, kelelahan kronis, gangguan pertumbuhan, hingga masalah kecemasan dan menurunnya rasa percaya diri.

Ia menyoroti bahwa sistem perawatan saat ini masih berpusat di rumah sakit atau hanya pada fase intradialisis.

Padahal, risiko komplikasi berbahaya seperti kelebihan cairan ekstrem dan gangguan tekanan darah kerap terjadi saat pasien berada di rumah pada periode antar-sesi cuci darah.

Dalam ringkasan disertasinya, Amelia menegaskan belum ada sistem pemantauan kondisi anak di rumah yang dilakukan secara sistematis.

Akibatnya, komunikasi keluarga dengan tenaga kesehatan selama ini terbatas pada saat kunjungan fisik ke rumah sakit.

PANDA dikembangkan dengan mengintegrasikan teknologi Remote Patient Monitoring (RPM) dan kecerdasan buatan.

Aplikasi ini memiliki sejumlah fitur utama, salah satunya PANDAbot, chatbot pintar yang mampu memberikan respons cepat, edukasi kesehatan, serta dukungan psikososial sesuai usia anak.

Selain itu, tersedia Digital Health Log sebagai sarana pencatatan kondisi klinis harian secara terstruktur agar perubahan kesehatan dapat dideteksi lebih dini.

PANDA juga dilengkapi modul edukasi digital berbasis micro-learning untuk memperkuat kemampuan keluarga dalam melakukan perawatan mandiri di rumah.

Hasil penelitian terhadap anak usia 8 hingga 18 tahun menunjukkan penggunaan aplikasi PANDA memberikan dampak positif terhadap kualitas hidup pasien.

Interaksi rutin dengan PANDAbot dinilai tidak hanya membantu memantau kondisi fisik, tetapi juga menurunkan tingkat kecemasan karena anak merasa terus didampingi.

Keberhasilan Amelia mempertahankan disertasinya pada Sidang Promosi Doktor di Fakultas Ilmu Keperawatan UI pada 20 April 2026 lalu semakin menegaskan kontribusi akademisi UI dalam menghadirkan solusi nyata bagi kesehatan masyarakat.

Inovasi tersebut dibimbing oleh promotor Yeni Rustina serta ko-promotor Allenidekania dan Fariz Darari.

PANDA dinilai sebagai langkah revolusioner dalam digitalisasi asuhan keperawatan anak sekaligus menegaskan bahwa integrasi AI kini menjadi kebutuhan mendesak untuk meningkatkan kemandirian keluarga dan kualitas hidup pasien kronis.

Lebih jauh, lahirnya PANDA menjadi bukti komitmen Universitas Indonesia dalam menghadirkan inovasi aplikatif yang menjawab tantangan kesehatan masyarakat secara berkelanjutan. (*)