Mahasiswa Kukerta Unri Dampingi UMKM Desa Mak Teduh Miliki QRIS
Mahasiswa Kukerta Universitas Riau mendampingi pelaku UMKM di Desa Mak Teduh, Kabupaten Pelalawan, memperoleh QRIS sebagai metode pembayaran digital. Program ini bertujuan mempercepat transformasi digital usaha kecil sekaligus meningkatkan pemahaman pelaku usaha terhadap transaksi non-tunai.
RINGKASAN BERITA:
- Mahasiswa Kukerta Unri mendampingi pelaku UMKM Desa Mak Teduh memperoleh QRIS melalui kunjungan langsung ke lokasi usaha.
- Pendampingan mencakup edukasi, proses pendaftaran, hingga pelatihan penggunaan QRIS agar pelaku usaha mampu mengoperasikannya secara mandiri.
- Program mendapat dukungan Pemerintah Desa Mak Teduh sebagai upaya mempercepat digitalisasi ekonomi dan meningkatkan daya saing UMKM desa.
RIAUCERDAS.COM, PELALAWAN - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (Kukerta) Universitas Riau (Unri) mendorong percepatan digitalisasi ekonomi desa.
Hal itu dilakukan dengan mendampingi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Desa Mak Teduh, Kecamatan Kerumutan, untuk memiliki Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) sebagai metode pembayaran digital.
Program tersebut dilaksanakan melalui kunjungan langsung atau door to door ke lokasi usaha masyarakat.
Pendampingan dilakukan setelah mahasiswa menemukan masih banyak pelaku UMKM yang belum memanfaatkan sistem pembayaran digital karena keterbatasan informasi maupun minimnya pemahaman mengenai proses pendaftaran QRIS.
Ketua Kelompok Kukerta Unri Desa Mak Teduh, Excellenta Zepanya Perangin-angin, mengatakan program itu dirancang agar transformasi digital tidak hanya terjadi di perkotaan, tetapi juga dapat dirasakan oleh pelaku usaha di pedesaan.
"Program pendampingan QRIS ini kami usung karena melihat masih banyak pelaku UMKM di Desa Mak Teduh yang berpotensi berkembang, tetapi belum memanfaatkan sistem pembayaran digital. Kami ingin memastikan transformasi digital ini benar-benar sampai dan dirasakan oleh masyarakat desa," ujarnya secara tertulis, Kamis (30/7/2026).
Sebelum proses pendaftaran, mahasiswa terlebih dahulu memberikan edukasi mengenai pengertian, manfaat, dan mekanisme penggunaan QRIS.
Pelaku usaha dijelaskan bahwa satu kode QRIS dapat digunakan oleh berbagai aplikasi pembayaran digital maupun layanan mobile banking, sehingga transaksi menjadi lebih praktis tanpa harus menggunakan uang tunai.
Mahasiswa juga memaparkan berbagai keuntungan penggunaan QRIS, mulai dari kemudahan transaksi, mengurangi risiko kesalahan saat memberikan uang kembalian, meningkatkan keamanan karena mengurangi penyimpanan uang tunai, hingga membantu pencatatan transaksi usaha secara lebih tertata.
Setelah sosialisasi, mahasiswa mendampingi pelaku UMKM menyiapkan seluruh dokumen yang diperlukan, seperti identitas diri, nomor telepon aktif, dan data usaha.
Selanjutnya, mahasiswa membantu proses pengajuan QRIS hingga memastikan seluruh data yang diinput telah sesuai.
Pendampingan tidak berhenti pada proses administrasi.
Mahasiswa juga mengajarkan cara menerima pembayaran, memeriksa status transaksi, serta menjaga kode QR agar tetap dapat digunakan dengan baik.
"Kami mendampingi pelaku usaha mulai dari edukasi dasar mengenai QRIS, penyiapan dokumen, hingga proses pengajuan selesai. Targetnya bukan hanya UMKM memiliki QRIS, tetapi juga benar-benar memahami cara menggunakannya secara mandiri," kata Zahratul Keysa Benaya, penanggung jawab program kerja QRIS UMKM.
Melalui program tersebut, pelaku UMKM yang didampingi kini telah memiliki QRIS sekaligus memahami penggunaan sistem pembayaran digital.
Antusiasme pelaku usaha juga terlihat selama pendampingan berlangsung karena sebagian besar baru mengetahui bahwa satu kode QR dapat digunakan oleh berbagai aplikasi pembayaran.
Salah satu pelaku UMKM, Titik Wati, pemilik usaha laundry di Desa Mak Teduh, mengaku merasakan manfaat dari penggunaan QRIS.
"Saya sangat terbantu dengan adanya QRIS ini. Sekarang pelanggan tinggal scan barcode saja, tidak perlu lagi memasukkan nomor e-wallet satu-satu, transaksi langsung bisa selesai," ujarnya.
Usai seluruh proses selesai, mahasiswa memasang kode QRIS di lokasi usaha masing-masing pelaku UMKM yang telah menyelesaikan pendaftaran.
Kepala Desa Mak Teduh, Suriadi, S.E., menyampaikan apresiasi atas program yang dinilai mampu mendukung kesiapan pelaku usaha menghadapi perkembangan ekonomi digital.
"Kami menyambut baik dan mendukung penuh program ini. Kehadiran QRIS diharapkan dapat mendorong pelaku usaha di desa kami untuk semakin siap menghadapi perkembangan ekonomi digital," ujarnya.
Mahasiswa Kukerta Unri berharap pendampingan tersebut menjadi langkah awal bagi UMKM Desa Mak Teduh dalam memanfaatkan teknologi digital untuk mengembangkan usaha, meningkatkan daya saing, serta mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat desa. (rls)