Mahasiswa Kukerta Unri Kampanyekan Anti-Bullying Lewat Drama dan Permainan Edukatif

Mahasiswa Kukerta Universitas Riau di Desa Koto Tuo menggelar peringatan Hari Anak Nasional 2026 dengan mengusung tema "Bermain, Belajar, dan Berkarya Bersama". Kegiatan ini mengedepankan edukasi anti-bullying yang dipadukan dengan lomba, pelatihan ecoprint, dan permainan untuk menumbuhkan karakter positif anak.

Mahasiswa Kukerta Unri Kampanyekan Anti-Bullying Lewat Drama dan Permainan Edukatif
Mahasiswa Kukerta Unri mengampanyekan anti-bullying melalui drama, sosialisasi interaktif, dan permainan edukatif pada peringatan Hari Anak Nasional pada Minggu (26/7/2026) lalu. (Sumber: Kelompok Kukerta Unri Desa Koto Tuo)

RINGKASAN BERITA:

  • Mahasiswa Kukerta Unri mengampanyekan anti-bullying melalui drama, sosialisasi interaktif, dan permainan edukatif pada peringatan Hari Anak Nasional.
  • Anak-anak juga mengikuti pelatihan ecoprint, lomba mewarnai, serta berbagai permainan yang melatih kreativitas, kerja sama, dan sportivitas.
  • Kegiatan melibatkan pemerintah desa, orang tua, dan masyarakat sebagai bentuk kolaborasi menciptakan lingkungan yang aman dan ramah anak.

RIAUCERDAS.COM, KUANTAN SINGINGI – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (Kukerta) Universitas Riau (Unri) memanfaatkan peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 untuk mengedukasi anak-anak tentang bahaya perundungan melalui pendekatan kreatif dan menyenangkan.

Berbagai kegiatan bertema "Bermain, Belajar, dan Berkarya Bersama" digelar di BUMDes Koto Tuo, Kecamatan Kuantan Hilir, Kabupaten Kuantan Singingi, Minggu (26/7/2026) lalu.

Program tersebut diikuti anak-anak mulai dari tingkat prasekolah hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Selain mahasiswa Kukerta, kegiatan juga mendapat dukungan Pemerintah Desa Koto Tuo, para orang tua, dan masyarakat yang turut memberikan semangat kepada peserta.

Edukasi mengenai bahaya bullying diawali dengan pementasan drama yang diperankan mahasiswa Kukerta Unri.

Melalui cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, drama tersebut menggambarkan dampak negatif perundungan terhadap korban sekaligus mengajak anak-anak berani menghentikan tindakan bullying dan saling menghargai.

Setelah itu, peserta mengikuti sosialisasi anti-bullying yang dikemas secara interaktif melalui penyampaian materi, diskusi, sesi tanya jawab, dan permainan edukatif.

Pemateri, Chyntia Meisyaharta, menjelaskan bahwa Hari Anak Nasional merupakan momentum untuk meningkatkan kesadaran anak-anak dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, inklusif, serta mendukung tumbuh kembang anak.

Ia juga menekankan pentingnya menanamkan sikap saling menghargai, menghormati perbedaan, dan berani menolak segala bentuk perundungan, baik secara fisik maupun verbal.

Selain edukasi, mahasiswa Kukerta juga menggelar lomba mewarnai yang diikuti peserta dari jenjang prasekolah hingga SMP. 

Kegiatan tersebut menjadi wadah bagi anak-anak untuk mengembangkan kreativitas, melatih ketelitian, dan meningkatkan rasa percaya diri.

Peserta juga diperkenalkan dengan teknik ecoprint, yaitu menghias kain menggunakan dedaunan dan bunga sebagai pewarna alami.

Melalui pelatihan ini, anak-anak diajak mengenal pemanfaatan bahan alami sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan.

Rangkaian kegiatan berlanjut dengan makan siang bersama yang diikuti peserta, mahasiswa Kukerta, dan para orang tua sebagai sarana mempererat kebersamaan.

Setelah itu, seluruh peserta melaksanakan Salat Zuhur berjamaah sebelum mengikuti agenda berikutnya.

Suasana semakin meriah saat anak-anak mengikuti lomba joget balon dan estafet balon air menggunakan sarung.

Permainan tersebut dirancang untuk melatih kerja sama, komunikasi, kekompakan, dan sportivitas di antara peserta.

Pada akhir kegiatan, panitia mengumumkan pemenang setiap perlombaan dan menyerahkan hadiah sebagai bentuk apresiasi atas semangat dan kreativitas peserta.

Seluruh rangkaian acara ditutup dengan sesi foto bersama mahasiswa Kukerta Unri, peserta, dan masyarakat.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa berharap nilai-nilai anti-bullying dapat diterapkan anak-anak dalam kehidupan sehari-hari sehingga tercipta lingkungan pergaulan yang aman, saling menghargai, dan bebas dari perundungan.

Program tersebut juga menjadi bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui pengabdian kepada masyarakat bersama Pemerintah Desa Koto Tuo. (rls)