Mahasiswa KKN Unri Padukan Budaya Kuansing dan Jepang, Siswa Belajar Pacu Jalur hingga Membuat Washi Ningyou

Mahasiswa KKN Universitas Riau Desa Bukit Kauman menggelar program edukasi budaya yang memadukan pengenalan budaya lokal Kuantan Singingi dan budaya Jepang. Melalui materi interaktif dan praktik membuat washi ningyou, siswa diajak memperluas wawasan budaya tanpa melupakan identitas daerah.

Mahasiswa KKN Unri Padukan Budaya Kuansing dan Jepang, Siswa Belajar Pacu Jalur hingga Membuat Washi Ningyou
Mahasiswa KKN Unri di Desa Bukit Kauman memadukan edukasi budaya Kuantan Singingi dan budaya Jepang dalam satu program pembelajaran pada Rabu (22/7/2026) lalu. (Sumber: Kelompok KKN Unri Desa Bukit Kauman)

RINGKASAN BERITA:

  • Mahasiswa KKN Unri memadukan edukasi budaya Kuantan Singingi dan budaya Jepang dalam satu program pembelajaran.
  • Siswa antusias mengenali budaya lokal, dengan Pacu Jalur menjadi tradisi yang paling banyak diketahui peserta.
  • Peserta mendapat pengalaman membuat kerajinan tradisional Jepang washi ningyou yang melatih kreativitas, ketelitian, dan keterampilan motorik halus.

RIAUCERDAS.COM, KUANTAN SINGINGI - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Riau (Unri) Desa Bukit Kauman, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) menghadirkan metode pembelajaran budaya yang memadukan kearifan lokal dan budaya internasional. 

Melalui program Belajar Budaya Lokal dan Jepang Melalui Edukasi dan Seni, puluhan siswa diajak mengenal budaya Kuansing sekaligus mempraktikkan pembuatan kerajinan tradisional Jepang washi ningyou.

Program tersebut dilaksanakan dalam dua tahap, yakni di SD Negeri 010 Bukit Kauman pada Rabu (15/7/2026) dan SMP Negeri 2 Kuantan Mudik, Kabupaten Kuansing, pada Rabu (22/7/2026). 

Kegiatan menyasar siswa kelas IV SD serta siswa kelas VIII.1, VIII.2, dan IX.2 SMP dengan jumlah peserta sebanyak 65 orang.

Kegiatan digelar sebagai upaya meningkatkan pemahaman siswa terhadap budaya lokal maupun budaya internasional sejak dini.

Mahasiswa KKN mengemas pembelajaran melalui kombinasi edukasi dan praktik seni agar materi lebih mudah dipahami dan menarik bagi peserta.

Pada sesi pertama, siswa diperkenalkan dengan berbagai tradisi, kesenian, dan identitas budaya Kuansing. 

Penyampaian materi dilakukan secara interaktif melalui kuis yang mengajak peserta menebak nama budaya berdasarkan gambar maupun penjelasan singkat.

Mahasiswa mencatat antusiasme tinggi dari para siswa selama sesi berlangsung.

Di SD Negeri 010 Bukit Kauman, sebagian besar peserta telah mengenal berbagai aktivitas budaya di daerahnya meski belum mengetahui nama sejumlah tradisi. 

Sementara itu, siswa SMP Negeri 2 Kuantan Mudik mampu mengenali dan menyebutkan lebih banyak budaya lokal.

Usai membahas budaya daerah, kegiatan dilanjutkan dengan pengenalan budaya Jepang.

Mahasiswa memperkenalkan sejumlah budaya populer Jepang, termasuk seni tradisional washi ningyou, yaitu boneka kertas yang dibuat melalui teknik melipat dan menyusun kertas bermotif.

Pada sesi praktik, mahasiswa menyediakan kertas origami bermotif sebagai bahan utama.

Sementara siswa membawa perlengkapan sederhana seperti gunting, lem, penggaris, serta pensil atau pulpen untuk membantu proses pembuatan.

Mahasiswa kemudian mendampingi peserta membuat washi ningyou mulai dari mengukur dan memotong bagian kimono, obi, neckband, hingga sleeve.

Setelah seluruh bagian dirangkai dan dilipat sesuai tahapan, siswa menyelesaikan boneka dengan memasang bagian rambut sehingga terbentuk karya bergaya Jepang.

Selama praktik berlangsung, mahasiswa memberikan pendampingan kepada setiap siswa agar seluruh proses berjalan dengan baik.

Peserta juga diberi ruang untuk berkreasi melalui pemilihan motif dan penyusunan bagian boneka sesuai imajinasi masing-masing.

Penanggung Jawab Program Belajar Budaya Lokal dan Jepang Melalui Edukasi dan Seni Kelompok KKN Unri Desa Bukit Kauman Tahun 2026, Nuzul Putri Fitria, mengatakan antusiasme siswa terlihat sejak sesi pengenalan budaya hingga praktik kerajinan.

"Tanggapan siswa sangat baik. Mereka dapat mengenali budaya yang ada di sekitar mereka. Budaya yang paling banyak dikenali adalah Pacu Jalur karena mereka mengaku selalu bersemangat menyaksikan latihan maupun pelaksanaan event Pacu Jalur. Selain itu, mereka juga antusias saat membuat kerajinan washi ningyou, bahkan beberapa siswa berminat untuk menjadikannya sebagai gantungan kunci," ujarnya.

Apresiasi juga disampaikan Guru Seni Budaya SMP Negeri 2 Kuantan Mudik, Ratna Sari.

Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan pengalaman belajar yang berbeda karena menggabungkan pengenalan budaya dengan praktik berkarya.

"Kegiatan seperti ini membantu siswa untuk lebih mengenali dan memahami budaya lokal, kemudian belajar seni melipat yang melatih ketelitian dan kerapian siswa," katanya.

Melalui program ini, mahasiswa KKN Universitas Riau berharap siswa semakin peduli terhadap pelestarian budaya lokal sekaligus memiliki wawasan yang lebih luas mengenai budaya dari berbagai negara.

Dengan demikian, kecintaan terhadap identitas daerah dapat tumbuh seiring dengan terbukanya perspektif global. (rls)