Peran Orang Tua Kunci Sukses TKA di Sekolah Disabilitas

Pelaksanaan TKA di SKH YKDW 2 Tangerang mencatat partisipasi penuh siswa disabilitas pendengaran. Keberhasilan ini tak lepas dari kolaborasi erat antara sekolah dan orang tua dalam mendampingi proses belajar.

Peran Orang Tua Kunci Sukses TKA di Sekolah Disabilitas
Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik atau TKA di SKH YKDW 2 Tangerang. (Sumber: Kemendikdasmen)

RINGKASAN BERITA: 

  • 100 persen siswa disabilitas pendengaran di SKH YKDW 2 Tangerang mengikuti TKA.
  • Peran orang tua menjadi kunci sukses dalam persiapan dan pelaksanaan ujian.
  • Siswa merasa TKA membantu mengukur kemampuan sekaligus mengejar cita-cita.

RIAUCERDAS.COM, BANTEN - Keterlibatan aktif orang tua menjadi faktor penentu keberhasilan pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) di sekolah berkebutuhan khusus.

Hal ini terlihat dari capaian 100 persen partisipasi siswa disabilitas pendengaran di SKH YKDW 2 Tangerang dalam pelaksanaan TKA selama dua hari, 6–7 April 2026.

Seluruh siswa mengikuti ujian dengan penuh semangat, didukung persiapan matang yang dilakukan sekolah melalui sosialisasi, simulasi, hingga koordinasi intensif dengan wali murid.

Kepala SKH YKDW 2 Tangerang, Mulyati, menegaskan bahwa pendekatan dalam pelaksanaan TKA di sekolah khusus berbeda dengan sekolah reguler, terutama dalam melibatkan orang tua sebagai bagian dari proses pembelajaran.

“Tentu pendekatannya berbeda dengan sekolah reguler. Kami mengajak para wali murid juga untuk berperan aktif dalam mempersiapkan TKA,” terang Mulyati.

Ia menjelaskan, keterlibatan orang tua tidak hanya sebatas menerima informasi, tetapi juga berperan dalam mendampingi anak belajar di rumah.

Pendekatan ini dinilai efektif untuk membangun kesiapan siswa dalam menghadapi TKA.

Apresiasi terhadap langkah tersebut disampaikan Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, yang turut meninjau pelaksanaan TKA di sekolah tersebut.

Menurutnya, dukungan keluarga memiliki peran penting dalam meningkatkan motivasi belajar, khususnya bagi siswa berkebutuhan khusus.

“TKA merupakan langkah awal untuk melihat kemampuan murid. Dorongan motivasi orang tua, khususnya untuk murid berkebutuhan khusus, akan sangat membantu hasil dari TKA tersebut,” jelas Tatang.

Salah satu siswa, Sahira, mengaku telah mempersiapkan diri sejak jauh hari. Ia merasa lega setelah mampu menyelesaikan soal literasi dan numerasi dengan baik.

“Alhamdulillah, bisa selesai dan merasa lega. Semoga hasilnya bagus,” ungkap Sahira menggunakan bahasa isyarat.

Ia menyebut keikutsertaannya dalam TKA sebagai cara untuk mengukur kemampuan diri sekaligus menjadi bekal menuju jenjang pendidikan berikutnya.

“Saya senang saat mengisi soal-soal literasi. Saya juga punya passion di bidang seni. Dari TKA, ini bisa jadi cara saya untuk menekuni bidang literasi dan seni,” jelas Sahira.

Dari sisi orang tua, Elis Kurniasih mengungkapkan bahwa pemahaman yang diberikan sekolah membantu dirinya mendampingi anak selama persiapan TKA.

Ia menyampaikan bahwa pendekatan belajar dilakukan dengan memberikan penjelasan sederhana agar anak tidak merasa tertekan.

“Saya berikan penjelasan dulu bahwa TKA seperti latihan saja, jadi dia akan tetap tenang. Cara belajar Sahira pun dilakukan dengan pemberian soal-soal tambahan di rumah,” kata Elis.

Keberhasilan pelaksanaan TKA di sekolah ini menunjukkan bahwa sinergi antara sekolah dan keluarga mampu menciptakan lingkungan belajar yang positif, sekaligus meningkatkan kepercayaan diri siswa dalam menghadapi asesmen. (*)