Dosen UGM Kembangkan Aplikasi AI untuk Identifikasi Jenis Sampah
Dosen Universitas Gadjah Muda Luluk Lusiantoro mengembangkan aplikasi berbasis Artificial Intelligence bernama Westa untuk membantu identifikasi jenis sampah, menghitung berat limbah, serta memetakan sumber sampah guna mendukung kebijakan pengelolaan sampah yang lebih efektif.
RINGKASAN BERITA:
- 336 kabupaten/kota di Indonesia berada dalam status darurat sampah per Januari 2026.
- Aplikasi Westa menggunakan AI dan computer vision untuk mengenali jenis sampah melalui foto dari smartphone.
- Data aplikasi dapat membantu pemerintah memetakan sumber sampah dan menghitung dampak emisi karbonnya.
RIAUCERDAS.COM, YOGYAKARTA - Permasalahan pengelolaan sampah di Indonesia masih menjadi tantangan besar bagi banyak daerah.
Data per Januari 2026 menunjukkan sebanyak 336 kabupaten/kota atau sekitar 65,4 persen wilayah administrasi berada dalam kondisi darurat sampah.
Kondisi tersebut dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari keterbatasan lahan tempat pembuangan akhir hingga meningkatnya volume sampah yang tidak diimbangi dengan kebiasaan pemilahan sampah di tingkat rumah tangga.
Menanggapi persoalan tersebut, dosen Departemen Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM), Luluk Lusiantoro, bersama tim peneliti mengembangkan aplikasi berbasis kecerdasan buatan untuk membantu proses pengelolaan sampah.
Dikutip dari laman UGM, Minggu (15/3/2026), aplikasi yang dinamakan Westa tersebut dirancang untuk memudahkan proses identifikasi jenis sampah secara cepat melalui teknologi Artificial Intelligence dan computer vision.
Menurut Luluk, selama ini proses pengenalan jenis sampah masih banyak dilakukan secara manual oleh petugas pengumpul atau pengepul, yang sering kali memerlukan waktu dan keahlian khusus.
Melalui aplikasi Westa, pengguna cukup memotret sampah menggunakan kamera ponsel.
Sistem kemudian akan secara otomatis mengenali jenis sampah tersebut sekaligus memperkirakan beratnya.
Data berat sampah tersebut selanjutnya digunakan untuk menghitung estimasi emisi karbon yang dihasilkan dari limbah tersebut.
Dalam pengembangannya, tim peneliti menggunakan emission factor dari Environmental Protection Agency sebagai dasar perhitungan.
Selain itu, aplikasi ini juga memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi merek produk yang menjadi sumber sampah.
Fitur ini berkaitan dengan konsep Extended Producer Responsibility dalam ekonomi sirkular, yang menekankan tanggung jawab produsen terhadap dampak lingkungan dari produknya.
Aplikasi Westa juga dilengkapi dengan fitur geotagging yang memungkinkan sistem mencatat lokasi ditemukannya sampah.
Dengan demikian, data yang dihasilkan tidak hanya menunjukkan jenis sampah, tetapi juga pola penyebarannya di berbagai wilayah.
Data tersebut dinilai dapat menjadi referensi penting bagi pemerintah dan pemangku kepentingan dalam menyusun kebijakan pengelolaan sampah yang lebih efektif.
Ke depan, pengembangan aplikasi Westa diharapkan tidak hanya digunakan oleh organisasi atau institusi, tetapi juga oleh masyarakat luas.
Pengguna dapat memantau profil sampah yang mereka hasilkan melalui dashboard aplikasi.
Dengan mengetahui jenis sampah yang paling banyak dihasilkan, masyarakat diharapkan dapat mengevaluasi pola konsumsi dan mengurangi produksi limbah.
Tim peneliti berharap Westa dapat berkembang menjadi ekosistem digital pengelolaan sampah yang menyediakan data komprehensif mengenai jenis sampah, tingkat daur ulang, serta dampak karbonnya untuk mendukung pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan di Indonesia. (*)
