Sarjana NU Didorong Wujudkan Target Nol Kemiskinan Ekstrem 2045

Sekjen Kemenag Kamaruddin Amin menegaskan peran strategis sarjana dalam mewujudkan Asta Cita Presiden, termasuk target nol kemiskinan ekstrem dan peningkatan kualitas SDM menuju Indonesia Emas 2045.

Sarjana NU Didorong Wujudkan Target Nol Kemiskinan Ekstrem 2045
Suasana Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) III Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama Jawa Timur di Surabaya, Sabtu (18/4/2026). (Sumber: Kemenag)

RINGKASAN BERITA: 

  • Target nol kemiskinan ekstrem 2045 jadi fokus pembangunan nasional
  • Sarjana diminta berkontribusi nyata, bukan sekadar memiliki gelar
  • Isu stunting dan kualitas SDM jadi kunci menuju Indonesia Emas.

RIAUCERDAS.COM, SURABAYA - Peran sarjana dalam pembangunan nasional kembali disorot, terutama dalam mendukung target ambisius pemerintah menghapus kemiskinan ekstrem pada 2045.

Kontribusi nyata dari kalangan intelektual dinilai menjadi kunci dalam mengawal arah pembangunan menuju Indonesia Emas.

Sekretaris Jenderal Kementerian Agama (Kemenag), Kamaruddin Amin, menegaskan bahwa gelar akademik harus diiringi dengan dampak konkret bagi masyarakat. 

Hal itu disampaikannya dalam Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) III Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama Jawa Timur di Surabaya, Sabtu (18/4/2026).

“Kita tidak boleh menjadi penonton dalam proses menuju Indonesia mencapai cita-citanya. Kita harus paham kemana arah bangsa ini melangkah supaya kita bisa berpartisipasi sesuai dengan latar belakang dan potensi yang kita miliki,” tegasnya dikutip dari laman Kemenag, Minggu (19/4/2026).

Dalam paparannya, Kamaruddin menyoroti masih adanya sekitar 2,8 juta penduduk Indonesia yang hidup dalam kondisi kemiskinan ekstrem.

Ia menyebut pemerintah menargetkan angka tersebut menjadi nol pada 2045.

“Sekarang ini masih ada 2,8 juta rakyat Indonesia yang mengalami kemiskinan ekstrem. Pada saat 2045, kita membayangkan tidak ada lagi orang miskin seperti itu. Zero miskin ekstrim,” tutur dia.

Selain sektor ekonomi, ia juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan dan kesehatan.

Isu stunting menjadi perhatian utama karena dinilai dapat menghambat pencapaian visi Indonesia Emas.

“Kita nggak mungkin mencapai Indonesia Emas kalau generasi kita stunting banyak. Pemerintah memiliki program makan bergizi gratis agar anak-anak itu tidak mengalami stunting. Ini adalah investasi agar kita keluar dari jebakan negara berpenghasilan menengah,” jelasnya.

Di sisi lain, Kamaruddin juga menyinggung upaya transformasi di lingkungan Kementerian Agama, termasuk rencana pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren.

Ia menekankan pentingnya adaptasi pesantren terhadap perkembangan zaman.

“Pesantren harus bertransformasi. Mempertahankan yang baik yang ada, tapi juga harus dikembangkan. Pesantren harus punya literasi tentang ketatanegaraan dan ketahanan finansial,” pesannya.

Menutup arahannya, ia mendorong anggota ISNU untuk memperluas kontribusi dari tingkat lokal hingga nasional.

“Saya ingin mengajak kita untuk mengembangkan horizon kita, broaden your horizon. Agar ISNU ini kontribusinya bisa lebih makro dan lebih besar, dimulai dari hal-hal kecil di tingkat lokal namun eksistensinya dirasakan secara nasional,” tutupnya. (*)