Ginjal Rusak Intai Kelompok Usia Muda
Kasus penyakit ginjal kronis kini meningkat pada usia produktif, dipicu gaya hidup tidak sehat dan penyakit seperti diabetes serta hipertensi.
RINGKASAN BERITA:
- Kasus penyakit ginjal kronis kini banyak menyerang usia 20–40 tahun.
- Diabetes dan hipertensi jadi pemicu utama kerusakan ginjal pada usia produktif.
- Deteksi dini dan gaya hidup sehat menjadi kunci mencegah gagal ginjal.
RIAUCERDAS.COM - Lonjakan kasus penyakit ginjal kronis pada kelompok usia muda menjadi perhatian serius dunia medis.
Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) mencatat semakin banyak pasien berusia 20–40 tahun yang mengalami penurunan fungsi ginjal hingga harus menjalani terapi cuci darah.
Fenomena ini menunjukkan pergeseran tren penyakit yang sebelumnya identik dengan lansia.
Kini, gaya hidup modern dan meningkatnya penyakit tidak menular menjadi faktor utama yang mempercepat kerusakan ginjal pada usia produktif.
Dokter spesialis penyakit dalam RSUI, Anindia Larasati, menjelaskan bahwa penyakit ginjal kronis berkembang secara perlahan dan sering kali tidak menimbulkan gejala pada tahap awal.
Kondisi tersebut membuat banyak penderita terlambat menyadari gangguan kesehatan yang dialaminya.
Sejumlah lembaga kesehatan global seperti Centers for Disease Control and Prevention dan National Kidney Foundation mengungkapkan beberapa tanda yang patut diwaspadai, mulai dari kelelahan berlebih, pembengkakan tubuh, hingga perubahan pada urine.
Gejala lain yang kerap muncul adalah tekanan darah tinggi dan penurunan nafsu makan.
Faktor risiko utama penyakit ini berkaitan erat dengan diabetes dan hipertensi.
Data dari International Diabetes Federation menunjukkan peningkatan kasus diabetes di usia produktif yang turut berkontribusi terhadap tingginya gangguan ginjal.
Tekanan darah yang tidak terkontrol juga dapat merusak pembuluh darah kecil di organ tersebut.
Selain itu, kebiasaan konsumsi obat tertentu tanpa pengawasan medis serta pola hidup kurang sehat memperbesar risiko kerusakan ginjal.
Padahal, ginjal memiliki peran vital dalam menyaring racun, menjaga keseimbangan cairan, dan mengatur tekanan darah.
Upaya pencegahan menjadi langkah kunci untuk menekan angka kasus.
World Health Organization atau WHO bersama sejumlah lembaga kesehatan merekomendasikan pemeriksaan rutin, menjaga pola makan, cukup minum, serta menghindari rokok dan penggunaan obat sembarangan.
Jika tidak ditangani sejak dini, penyakit ginjal kronis dapat berkembang menjadi gagal ginjal tahap akhir yang membutuhkan penanganan intensif seperti dialisis atau transplantasi.
RSUI pun menegaskan komitmennya menyediakan layanan skrining dan perawatan komprehensif guna membantu masyarakat mendeteksi penyakit lebih awal. (*)


