Abdul Mu’ti Tekankan Gotong Royong Kunci Percepatan Transformasi Pendidikan

Menteri Abdul Mu’ti menegaskan gotong royong sebagai kunci percepatan transformasi pendidikan nasional dalam forum BelajaRaya di Jakarta. Kolaborasi lintas sektor dinilai penting untuk mendukung revitalisasi sekolah dan digitalisasi pembelajaran.

Abdul Mu’ti Tekankan Gotong Royong Kunci Percepatan Transformasi Pendidikan
Suasana BelajarRaya 2026 yang dihadiri Mendikdasmen Abdul Mu'ti, Mendiktisaintek Brian Yuliarto dan Menteri Sosial Saifullah Yusuf. (Sumber: Kemendikdasmen(

RINGKASAN BERITA: 

  • Gotong royong disebut sebagai kunci percepatan transformasi pendidikan nasional.
  • Revitalisasi sekolah dan digitalisasi pembelajaran jadi fokus utama kebijakan.
  • Kolaborasi lintas kementerian dan masyarakat dinilai penting menjangkau pendidikan inklusif.

RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Semangat gotong royong dinilai menjadi faktor penentu dalam mempercepat transformasi pendidikan nasional, terutama dalam mendukung program revitalisasi satuan pendidikan dan digitalisasi pembelajaran.

Hal tersebut ditegaskan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti dalam forum BelajaRaya 2026 yang digelar di Taman Ismail Marzuki, melalui sesi diskusi publik bertajuk “Gotong Royong untuk Sekolah dan Madrasah: Kebijakan dan Aspirasi Komunitas”.

Menurut Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, tantangan pendidikan yang semakin kompleks tidak dapat diselesaikan oleh pemerintah semata, melainkan membutuhkan kolaborasi luas dari berbagai pihak.

“Gotong royong adalah kekuatan utama bangsa Indonesia. Dalam konteks pendidikan, partisipasi masyarakat menjadi faktor penting untuk melengkapi keterbatasan sumber daya yang dimiliki pemerintah,” ujar Abdul Mu’ti.

Ia menjelaskan bahwa program revitalisasi tidak hanya berfokus pada perbaikan fisik sekolah, tetapi juga menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman guna menunjang proses pembelajaran yang efektif.

“Lingkungan belajar yang baik akan mendorong proses pembelajaran yang lebih menyenangkan dan bermakna. Karena itu, pembangunan infrastruktur fisik harus berjalan seiring dengan penguatan kualitas pembelajaran dan karakter murid,” jelasnya.

Selain itu, percepatan digitalisasi pembelajaran juga menjadi perhatian utama, termasuk melalui pemanfaatan teknologi seperti Interactive Flat Panel (IFP) untuk mendukung metode belajar yang lebih interaktif.

“Dengan dukungan teknologi, pembelajaran dapat menjadi lebih menarik dan memberikan pemahaman yang lebih mendalam bagi murid. Ini bagian dari upaya kita menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan zaman,” tambahnya.

Dalam konteks keterbukaan informasi, Abdul Mu’ti juga menyoroti pentingnya kemampuan menyaring aspirasi publik agar tetap konstruktif.

“Kita harus mampu membedakan antara voice dan noise. Keterbukaan tetap penting, tetapi harus diiringi dengan ketajaman dalam memahami kebutuhan nyata di lapangan,” ungkapnya.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Sosial Saifullah Yusuf menekankan bahwa program Sekolah Rakyat merupakan wujud kolaborasi lintas sektor untuk menjangkau anak-anak dari keluarga kurang mampu.

“Sekolah Rakyat dirancang untuk menjangkau anak-anak yang selama ini belum tersentuh layanan pendidikan secara optimal. Intervensinya tidak hanya pada anak, tetapi juga pada keluarganya, agar mereka dapat keluar dari siklus kemiskinan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa keberhasilan program tersebut sangat bergantung pada dukungan berbagai pihak.

“Gotong royong menjadi kunci agar program ini benar-benar berdampak dan mampu menjangkau mereka yang selama ini tidak terlihat dalam sistem,” tambahnya.

Sementara itu, Menteri Agama Nasaruddin Umar menilai praktik gotong royong telah lama menjadi bagian dari tradisi pendidikan di Indonesia, khususnya di madrasah dan pesantren.

“Madrasah dan pesantren adalah wujud nyata gotong royong dalam pendidikan. Meskipun dengan keterbatasan, lembaga ini mampu bertahan dan melahirkan generasi yang berkualitas berkat kekuatan kebersamaan dan pengabdian masyarakat,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi fondasi penting dalam memperkuat kualitas pendidikan nasional secara menyeluruh. (*)