Wamen Stella Ingatkan Bahaya Gawai di Meja Makan, Interaksi Keluarga Kunci Kecerdasan Anak
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie menegaskan bahwa interaksi langsung dalam keluarga merupakan fondasi utama pembentukan karakter dan kecerdasan anak. Dalam Seminar Natal Nasional 2025, ia menyoroti dominasi gawai yang menggerus kualitas komunikasi keluarga, terutama saat makan bersama, serta dampaknya terhadap perkembangan bahasa, rasa ingin tahu, dan kemampuan belajar anak.
RINGKASAN BERITA :
- Interaksi langsung keluarga menjadi fondasi utama kecerdasan, karakter, dan kemampuan belajar anak.
- Dominasi gawai, terutama saat makan bersama, berisiko menghambat perkembangan bahasa dan rasa ingin tahu anak.
- Komunikasi tanpa gawai di meja makan dinilai sebagai langkah sederhana namun krusial dalam menanamkan nilai keluarga.
RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Interaksi sederhana dalam keluarga ternyata memiliki dampak besar terhadap masa depan anak.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie, menekankan bahwa komunikasi langsung antara orang tua dan anak merupakan fondasi utama pembangunan karakter, kecerdasan, dan kemampuan belajar anak.
Hal tersebut disampaikan Stella dalam paparannya pada Seminar Natal Nasional 2025 yang digelar di Sekolah Tinggi Filsafat Theologi, Sabtu (3/1/2026).
Dalam pemaparannya, Wamen Stella menyoroti tantangan besar keluarga di era metropolitan, yakni dominasi penggunaan gawai yang perlahan mengikis waktu berkualitas, termasuk saat makan bersama di rumah.
Mengutip data statistik, Stella mengungkapkan bahwa rata-rata masyarakat Indonesia menghabiskan tiga jam delapan menit per hari untuk media sosial, dan meningkat hingga tujuh jam per hari jika digabung dengan penggunaan internet secara umum.
Angka tersebut bahkan lebih tinggi pada generasi Z, yang mencapai empat jam khusus untuk media sosial.
“Banyak waktu kita, bahkan saat makan malam, dihabiskan masing-masing dengan layar. Padahal, makan malam adalah momen krusial di mana tidak ada alasan anak sedang sekolah atau orang tua bekerja di luar rumah,” ujar Stella.
Ia menegaskan bahwa meja makan seharusnya menjadi ruang interaksi keluarga yang paling konsisten dan bermakna.
Namun, kebiasaan menggunakan gawai justru menghilangkan kesempatan anak untuk berkomunikasi secara langsung dengan orang tuanya.
Stella kemudian memaparkan bukti empiris dari eksperimen Profesor DeLoach terkait efektivitas pembelajaran pada balita.
Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa anak-anak yang mempelajari kosakata baru melalui interaksi langsung dengan orang tua memiliki kemampuan bahasa yang jauh lebih baik dibandingkan anak yang belajar melalui video edukasi, meskipun video tersebut ditonton bersama orang tua.
“Ada fenomena 10 ribu word gap pada usia lima tahun. Anak yang jarang berbincang dengan orang tuanya memiliki kosakata yang lebih rendah, dan hal ini secara langsung memprediksi kemampuan belajar mereka di sekolah di masa depan,” jelas Stella.
Selain kemampuan bahasa, Stella juga menekankan pentingnya menumbuhkan rasa ingin tahu (curiosity) melalui tanya jawab yang berkualitas.
Ia mendorong orang tua untuk tidak sekadar memberikan jawaban singkat, tetapi jawaban yang membangun alur berpikir dan membuka ruang diskusi.
“Bertanya dan menjawab adalah bentuk active learning. Jika anak hanya dibiarkan dengan gawai, mereka kehilangan kesempatan belajar secara aktif karena gawai tidak bisa memberikan umpan balik langsung terhadap rasa penasaran mereka,” tambahnya.
Menutup paparannya, Stella mengingatkan bahwa keluarga memiliki peran mendasar sebagai ruang penanaman nilai dan penciptaan kenangan bahagia.
Ia menegaskan, ketika komunikasi di meja makan digantikan oleh layar, maka nilai-nilai yang diserap anak bukan lagi berasal dari orang tua, melainkan dari kurasi algoritma kecerdasan buatan dan media sosial.
“Keluarga adalah jangkar kemanusiaan. Kita adalah makhluk sosial yang dianugerahi kemampuan untuk bertukar pikiran. Jangan sampai kita menghilangkan anugerah tersebut. Mari kita mulai dari hal sederhana: makan bersama dan berbicara tanpa gawai,” tegas Stella. (rls)