Bahlil Lahadalia Pastikan Stok BBM dan LPG Aman Jelang Idulfitri 1447 H
Bahlil Lahadalia melaporkan kepada Prabowo Subianto bahwa cadangan BBM dan LPG nasional dalam kondisi aman menjelang Idulfitri 1447 H. Pemerintah juga menyiapkan strategi tambahan untuk menjaga stabilitas pasokan energi.
RINGKASAN BERITA:
- Cadangan BBM nasional berada di atas batas minimum dan cukup untuk memenuhi kebutuhan selama Lebaran.
- Operasional proyek Refinery Development Master Plan Balikpapan membantu meningkatkan produksi kilang nasional.
- Pemerintah menambah sumber impor LPG dari beberapa negara untuk menjaga stabilitas pasokan.
RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Pemerintah memastikan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) dan liquefied petroleum gas (LPG) dalam kondisi aman menjelang perayaan Idulfitri 1447 Hijriah atau Lebaran 2026.
Menteri Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menyampaikan langsung laporan tersebut kepada Presiden Prabowo Subianto dalam rapat kabinet yang membahas kesiapan pasokan energi nasional.
Menurut Bahlil, cadangan berbagai jenis BBM saat ini berada di atas batas minimum sehingga dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama periode mudik dan libur Lebaran.
Ia menjelaskan, stok Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP) dengan RON 90 tercatat mampu bertahan sekitar 24,39 hari.
Sementara cadangan BBM jenis RON 92 diperkirakan cukup untuk 28 hari dan RON 98 sekitar 31 hari.
Untuk bahan bakar jenis solar subsidi, cadangannya mencapai sekitar 16,41 hari.
Adapun solar CN 53 diperkirakan mampu bertahan hingga 46 hari, sedangkan stok avtur mencapai sekitar 38 hari.
Bahlil menuturkan, stabilitas pasokan solar relatif terjaga karena produksi bahan bakar tersebut sepenuhnya berasal dari dalam negeri.
Ketersediaan energi nasional juga diperkuat dengan mulai beroperasinya proyek Refinery Development Master Plan Balikpapan di Balikpapan pada Januari 2026.
Proyek ini meningkatkan kapasitas produksi kilang minyak nasional.
Dengan adanya proyek tersebut, pemerintah memperkirakan impor bensin dapat berkurang sekitar 5,5 juta ton per tahun, sedangkan impor solar dapat ditekan hingga sekitar 3,5 juta ton per tahun.
Di sektor LPG, Bahlil menyebutkan pasokan nasional masih terjaga meskipun rantai distribusi global mengalami berbagai dinamika.
Ia menjelaskan bahwa sekitar 70 hingga 72 persen impor LPG Indonesia berasal dari Amerika Serikat, sekitar 20 persen dari kawasan Timur Tengah, sementara sisanya dipasok dari sejumlah negara lain.
Untuk mengantisipasi potensi gangguan pasokan dari Timur Tengah, pemerintah juga membuka peluang tambahan impor dari negara lain, termasuk Australia.
Dalam waktu dekat, Indonesia dijadwalkan menerima dua kargo LPG dari negara tersebut.
Ke depan, pemerintah terus mendorong pembangunan kilang minyak guna meningkatkan produksi BBM domestik sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor energi.
Dengan langkah-langkah tersebut, pemerintah optimistis kebutuhan energi masyarakat selama Lebaran 2026 dapat terpenuhi dengan baik. (*)
